| Tutay, Titis, Fahma at Gontor Putri's Library |
Membaca yang tersurat sudah banyak
dilakukan walaupun kenyataannya belum membudaya di kalangan masyarakat. Di era
modern seperti sekarang ini, sangat mudah sekali untuk menemukan tulisan yang
dirangkum dalam berbagai ragam dan bentuk. Sudah banyak penulis yang
menghasilkan karya – karya ilmiah maupun non ilmiah yang disebarluaskan ke
seluruh lapisan masyarakat. Juga banyak tulisan yang disalurkan melalui media,
seperti: majalah, Koran, internet, dll. Sebagai masyarakat yang cerdas dan
kreatif, hendaknya membaca bacaan yang berkualitas dan mendidik sehingga memberikan
dampak positif untuk kepribadiannya, dan membaca disertai dengan pemahaman dan pendalaman,
tidak hanya membaca teksnya saja tapi juga mendalami kandungan isinya. Terutama
dalam membaca Al – Qur’an. Mengapa harus membaca? Banyak jawaban yang dikemukakan,
antara lain untuk :
a) Memahami manusia atau alam raya,
b) Menghabiskan waktu penantian,
c) Menguji kecerdasan,
d) Mengundang kantuk,
e) Mendalami profesi,
f) Mengetahui perkembangan mutakhir
g) Mengembangkan kepribadian dan lain – lain.
Membaca
adalah salah satu wujud syukur atas panca indera yang diberikan Allah SWT. Dengan
membaca, manusia akan bertambah wawasan dan ilmu pengetahuannya. Dari membaca
lahirlah Ilmuwan ternama, tokoh – tokoh besar, guru – guru teladan, penguasa
yang bijak, orangtua yang berpendidikan dan generasi penerus bangsa yang cerdas
dan berpengetahuan.
Selain itu adalah membaca yang
tersirat atau memahami makna yang tersembunyi dari apa yang terjadi di
kehidupan. Seperti halnya tingkah laku. Hakikat manusia adalah sebagai makhluk
social yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan pertolongan
orang lain. Untuk itu perlu adanya
proses interaksi antar satu sama lain, dengan itulah masing – masing dapat
memenuhi berbagai hal yang dibutuhkannya. Dalam proses interaksi, seseorang
harus bisa memahami kepribadian orang lain yang dihadapinya. Ia harus belajar tentang
bagaimana menghadapi karakter orang yang berbeda – beda tanpa membeda – bedakan
kedudukan maupun harta, yang kaya atau yang miskin, yang pintar atau yang
bodoh, dll. Ini perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi proses interaksi
social yang merupakan cikal bakal ikatan silaturrahim antar sesama.
Silaturrahim sangat dianjurkan dalam agama, sebagaimana yang sering dilakukan
oleh Rasulullah SAW dalam kehidupannya. Seperti sabda Rasulullah dalam satu
hadits, “Wa Shiiluu Al-Arhaam..”,
“Dan hubungkanlah tali silaturrahim”. Jika tidak ada yang mencoba untuk
memahami, maka akan mengakibatkan kesalahpahaman yang berujung pada perpecahan
diantara keduabelah pihak. “Satu terluka, yang lain ikut merasa”, ini merupakan
gambaran dari perpecahan yang terjadi, walau hanya satu yang tersakiti tapi
sakit itu akan menjalar kepada orang – orang terdekatnya, timbullah rasa benci,
dendam, maupun iri dengki, maka hidup keduanya tidak akan bahagia, Naudzubillah. Hal ini banyak terjadi
akibat mengabaikan perintah Allah untuk membaca.
Peduli lingkungan berarti mensyukuri
ciptaan Tuhan. Selain memahami tingkah laku, manusia diperintahkan Allah untuk
men-tadabburi alam. Penciptaan
langit, bumi, tumbuh – tumbuhan, binatang, dan semua yang terhampar di alam
semesta oleh Allah, hendaknya dijadikan manusia sebagai sarana untuk merenungi
kekuasaan Dzat Yang Maha Agung. “(Yaitu)
orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan
berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia – sia; Mahasuci
Engkau, lindungilah kami dari Azab Neraka” ( QS. Ali Imron [3]: 191 ). Orang
– orang berakal membaca alam semesta dan se-isinya disertai dengan tafakkur dan tadzakkur menyadari keagungan Allah SWT sehingga ia selalu
bersyukur dalam kehidupannya. Ayat – ayat Allah yang tercipta di alam semesta
tidak dijadikannya sebagai tujuan untuk meraih kenikmatan duniawi, materi atau kekuasaan. Naudzubillah. Maka sesungguhnya dengan tafakkur, tadzakkur,
penelitian dan pendalaman akan bacaan yang tersurat maupun yang tersirat manusia dapat meraih sebanyak mungkin
kebahagiaan. Sekian.Wallahu a’lam.
Oleh : F@
"Membaca adalah salah satu wujud syukur..", jos sekali itu, makin banyak membaca berarti makin banyak bersyukur, dan makin lengkap potongan-potongan wawasan yang bisa digabung menjadi gambar kehidupan.
BalasHapusSalam Lemper :D
Bacalah apapun yang ada di hadapan kita..... sehingga kita tidak anggap seperti melek walang...:)...
HapusYaaa Pakdhe Teguh :P. Tiru-tiru tanpa nama jelas :P