Selasa, 26 November 2013

Plat Bermanfaat..

Akhir – akhir ini saya terinspirasi untuk menuliskan manfaat dari Plat Nomor. Plat Nomor, seperti yang kita ketahui adalah salah satu jenis identifikasi kendaraan bermotor. Jumlah Plat Nomor biasanya sepasang. Untuk dipasang di bagian depan dan belakang kendaraan. Plat nomor memiliki nomor seri yakni susunan huruf dan angka yang dikhususkan bagi kendaraan tersebut. Di Indonesia, setiap daerah memiliki huruf sebagai tanda yang memudahkan untuk mengenali asal kendaraan tersebut. Dan ini telah disepakati oleh seluruh bangsa. Misalnya Letter E untuk daerah Majalengka, Cirebon, Indramayu dan Kuningan dan B untuk daerah khusus ibukota Jakarta. Juga masih banyak letter huruf lainnya yang digunakan sebagai identifikasi kendaraan, sesuai dengan daerah asalnya.

Selain itu, manfaat Plat Nomor, ternyata bisa dijadikan sebagai media belajar lhoo.... Masa sich?
ilmuonline.net

Ini saya buktikan setelah hampir setahun menggunakan kendaraan motor di Daerah Istimewa Yogyakarta. Plat Nomor kendaraan saya adalah E. Sedangkan Plat Nomor Yogya adalah AB. Setiap kali mengemudikan motor, pandangan saya biasanya tidak akan terlepas dari Plat Nomor kendaraan yang ada di depan atau belakang saya. Hal menarik yang saya temukan setelah melakukannya berkali – kali yaitu menemukan Plat Nomor dengan huruf depan dan belakang yang apabila disatukan, maka akan menjadi satu kata yang bermakna. Setelah memperhatikan lebih jauh, membuktikan sebuah kebenaran yang didapat melalui pengalaman yang berulang – ulang, saya simpulkan, di daerah sekitar Krapyak banyak Plat Nomor dengan Letter depan AB dan belakangnya WA. Reflek saya baca serentak menjadi “ABWA”. Saat membacanya, saya kemudian teringat dengan kata “ABWA” dalam pelajaran Khulashoh Nurul Yaqin¸ Juz Pertama. Yang diajarkan oleh Ustadzah Ika Mustika saat belajar di Gontor dulu. Kemudian saya mempelajarinya lagi di Krapyak, yang mana diajarkan oleh Ustadz Zaki Amrullah. “ABWA” adalah nama daerah antara Mekkah dan Madinah, tempat dimana Ibunda Nabi Muhammad, Sayyidah Aminah dimakamkan. J ... Selain itu, masih banyak Plat Nomor lainnya yang dapat membantu kita dalam mengingat ilmu yang pernah kita pelajari. Seperti Letter depan AB dan belakang NA. Apabila disatukan, akan menjadi “ABNA”. “ABNA” dalam bahasa Arab merupakan jamak dari Ibn atau anak kecil. Maka ABNA adalah anak kecil yang banyak. Abna’u Ar-Rasuul berarti putra – putra Rasul. Subhanallah. Wa Alhamdulillah. Allahu Akbar!.. J... Anda belum percaya? Silahkan dicoba......

Rabu, 20 November 2013

Maaf

Maaf kawan.. aku tidak tahu harus berkata apa, maaf? ah, sepertinya itu sudah tak mempan bagimu...

Senin, 18 November 2013

Berkaca Lewat Cinta..

Sepasang sahabat bertemu, bercakap seperti hari-hari biasanya.. Tema percakapan mereka kali ini yaitu "Belahan Jiwa"..

A : "Dul, tadi malam ustadzku bahas soal jodoh lhoo, seruu abiizz (terangnya semangat sambil tersenyum bahagia), tapi.... aku jadi galau.." Ekspresi Al, seketika berubah muram tak bersemangat.
D : "Lhoo.. Piye to bro?.. Jarene bahagia, lha nopo tiba2 galau?..ckckc.."
A : "Ustadzku bilang "Ashoolihuuna li ash-shoolihaat", laki-laki shaleh untuk wanita shalehah.."
D : "Lha Emang bener toh.., trus nopo?.. .", tanya Dul penuh selidik.
A : "Aku ki galau.. (Jelasnya sambil menunduk muram).. Sejak lama, aku mengagumi bahkan hampir cinta sama seorang wanita, yang kuanggap baik, shalehah tentunya..

Al pun mulai bercerita panjang lebar mengenai sosok wanita pujaannya...

A : "Tapi aku g berani ngungkapin (dengan nada sedikit kecewa), dan sekarang..... (Al menarik napas dalam-dalam.. ).. Dia dipinang orang.. (Wajah Al memerah kesal)
D : "Whoaa.. Iya po?.. Sabar bro.. Mungkin dia bukan jodohmu.. " (Dul mencoba menenangkan sahabatnya itu sambil tersenyum)..
A : "Bukan itu masalahnya.... "
D : "Ha? Terus? "
A : "Dia itu wanita sholehah, dan itupun diakui banyak orang, kalau dia udah dipinang orang.. Berarti aku bukan orang shaleh.. " (Al, semakin bersedih)
D : "Maksudnya??.."
A : "Kan.. Ak td bilang.. Laki-laki shaleh untuk wanita shalehah, lhaa berarti dia udah dapat laki-laki shaleh, trus akuu?? "..
D : "weleh-weleh.. Itu to masalahnya... Hehe.. Al.. Al.. Emangnya hanya dia yang shalehah???.. Nggak kali.. Insya Allah masih banyak wanita lain yang shalehah... Banyak do'a aja Al.. .. Jangan lupa.. Intropeksi diri.. Tingkatkan iman, taqwa.. (Jelas Dul sambil menepuk pundak Al..)...
A : "thanks bro.."
Pictured By : Fahma A

Selasa, 24 September 2013

Dibalik kesuksesan bu Atin..



“Bu Atin”, begitulah mahasiswa memanggil dosen yang bernama lengkap Ibu Khoiro Ummatin ini. Di semester pertama, beliau mengumpu mata kuliah Ilmu Dakwah. Tetapi saya belum tahu mata kuliah lain yang diajarkan beliau di semester – semester lainnya.
Pertama kali, saya melihat beliau di ruangan 404, Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Pertemuan itu hanya sekilas, tidak sampai semenitpun. Ketika itu, anggota kelas kami tengah duduk manis di bangkunya masing – masing, tiba – tiba beliau masuk, lalu duduk. Sebagian dari kami terheran – heran karena sebenarnya mata kuliah pagi itu adalah Pengantar Studi Islam yang diajarkan oleh Bapak Achmad Muhammad (sesuai yang tertera di jadwal). Lantas saya memberanikan diri untuk bertanya, dan ternyata beliau salah masuk. Hehe.. Beliaupun tersenyum dan mengucapkan maaf, lalu berkata “Oh iya, besok kita juga ketemu lagi. Ilmu Dakwah hari apa?, oh, Kamis. Ya.. sampai jumpa lagi”. Kemudian beliaupun pindah ke ruangan 402.
“‘Aroftu al-musamma duuna al-isma”, begitulah keadaanku saat pertemuan kecil itu. Saya tahu wujud orangnya, tapi tidak tahu namanya. Ketika di pondok, Mbak Ubed , yang merupakan sarjana KPI menceritakan singkat tentang Bu Atin itu. Oh, ternyata beliau alumni komplek Q. “Waah..”, gumamku terkagum-kagum. Bu Atin, di mata beberapa mahasiswa merupakan sosok ibu dosen yang sederhana, penampilannya biasa, tidak terpengaruhi oleh perkembangan zaman modern yang menghadirkan macam – macam bentuk pakaian, terutama jilbab. Namun, dibalik penampilannya yang biasa, ada jiwa pendidik yang luar biasa. Selain cerdas, beliau juga berwawasan luas.
Di pertemuan mata kuliah Ilmu Dakwah pertama, Bu Atin mengajak kami berdiskusi tentang Kontrak Belajar dan lain sebagainya. Kemudian “Introduction”, perkenalan. Metode yang digunakan Bu Atin dalam perkenalan terbilang simpel, berbeda dengan biasanya, beliau membagikan kertas – kertas kecil dan seluruh mahasiswa diminta untuk menuliskan nama, alamat dan nomor HP, Setelah itu dikumpulkan, dan Bu Atin mulai memanggil satu – persatu sesuai dengan yang tertera diatas lembaran – lembaran kertas putih kecil itu. Selesai sudah perkenalan aggota kelas kami. Dan sekarang giliran beliau yang memperkenalkan diri.  Bu Atin memperlihatkan curiculum vitae-nya lewat monitor LCD. Kalau boleh berkomentar, saya kira Bu Atin memang senang berbicara, hampir tidak ada detik yang kosong tanpa kata - kata beliau. Walaupun begitu,  isi pembicaraan bu Atin tetaplah bermakna dan bermanfaat, terutama bagi saya.  Mata dan telingaku sulit berpaling, kalau Bu Atin sudah mulai mengeluarkan petuah – petuah hebatnya.
Ada yang menarik dari kisah hidup bu Atin. Beliau yang kini menjadi dosen, ternyata memiliki cerita masa lalu yang hampir mirip dengan saya yang sekarang baru menjadi mahasiswa. Belakangan saya baru tahu, ternyata beliau juga seorang penulis, entah berapa buku yang sudah diterbitkan. Yang baru saya ketahui baru dua buku saja. Mungkin juga masih ada buku – buku karangan bu Atin lainnya.
Ini kisah beliau sebelum menjadi mahasiswa. Dulu, beliau sekolah di MAN 2, dekat UGM, yang terkenal dengan kualitas pengajaran dan siswa terbaik se-Yogyakarta. Dikarenakan sekolahnya itu berdekatan dengan kampus biru yang bergengsi UGM, maka beliau pun berkeinginan untuk menjadi mahasiswa disana. Prinsip yang teguh, namun terlalu, beliau bertekad untuk mendaftar ke UGM saja, dan tidak memilih universitas lainnya. Beliau juga tidak menghiraukan pesan kedua orangtuanya untuk memilih universitas cadangannya. Karena yakin, beliau pasti bisa. Itu karena prestasinya yang di MAN yang sangat luar biasa.
 Setelah lama menunggu hasil ujian masuk universitas, nihil, dalam pengumuman beliau dinyatakan tidak lolos ujian masuk universitas. Sedih dan kecewa, mungkin dua kondisi ini yang meliputi beliau saat itu. Walaupun demikian, beliau masih dengan tekad kerasnya untuk menjadi mahasiswa UGM. Akhirnya beliau memutuskan untuk menunda kuliah satu tahun. Selama setahun inilah, beliau mengisi hari – hari dengan belajar tekun dan me-review beberapa pelajaran yang telah dipelajarinya saat MAN dulu. Setahun berlalu, beliau kembali ikut ujian masuk univeritas. Bukan hanya satu jalur yang diikutinya, beliau juga ikut jalur PTAIN dan berhasil diterima di Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Juga ujian masuk UGM. Tapi sayangnya, hasil ujian yang sekarang masih sama seperti yang dulu, beliau tidak lolos. Dua kali gagal membuat beliau kehilangan semangat untuk belajar. Fakultas yang tidak diinginkan itu akhirnya tetap beliau ambil. Dari semeseter satu hingga terakhir, hanya sedikit prestasi yang beliau raih, karena sikap “Ogah-ogahan” membuat beliau malas dalam menekuni ilmu di bidang tersebut. Bu Atin yang dulu di MAN-pun menghilang. Setelah sarjana, keajaiban datang. Beliau mendapat beasiswa di UGM. Semangat yang dulu punah kini telah kembali membuncah. Selama menjalani kegiatan di s2-nya itu, beliau kerap kali menuai prestasi dan mendapat predikat cumlaude di akhir graduasi.
Dari situlah, beliau kemudian terbuka hatinya, meyakini bahwa Allah pasti akan mengabulkan do’a hamba-Nya, entah kapan, bisa jadi sekarang, esok atau nanti. Apakah kita yang mendapatkannya atau bahkan anak cucu kita yang merasakannya. Dibalik kegagalan pasti ada jalan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Beliau mengingatkan kami untuk selalu berhusnudzhon, berbaik sangka pada Yang Maha Kuasa. Dan meyakini, apa yang kita dapatkan sekarang itulah yang terbaik bagi kita, yang merupakan pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jumat, 13 September 2013

Memutar otak dalam Filsafat (1)

Baru saja, mata kuliah filsafat dipelajari di kelas KPI C. Ini merupakan pertemuan kedua  dengan Bapak Rifa'i yang menjadi dosen pengumpu mata kuliah ini. Pertemuan pertama masih tergolong ringan, karena hanya membahas tentang kontrak belajar dan SAP (System Analysis And Program Development). Tapi tidak dengan pertemuan kedua. Mata Kuliah yang awalnya dianggap ringan, tapi ternyata setelah dibahas begitu berat tak karuan, perlu mengotak atik memori yang ada dalam otak.

"Apa itu Kompetensi??". Pertanyaan yang muncul di awal pembahasan. Istilah ini memang bukan merupakan cabang dari ilmu filsafat. Ini sering kita dengar saat kita mempelajari disiplin ilmu lainnya.

Kompetensi, dijelaskan oleh Bapak Rifa'i, memiliki dua arti, persaingan dan pertandingan. Konteks persaingan digunakan dalam kegiatan yang bersifat bisnis. Dan pertandingan, digunakan dalam berbagai macam perlombaan. Kalau dicermati, sebenarnya apa hubungan kompetensi dengan filsafat?. Disini beliau hendak menjelaskan tentang kompetensi dasar dalam mempelajari ilmu filsafat. Yaitu, mahasiswa mampu memahami filsafat umum sebagai sebuah pengantar dalam kajian. Dan  indikatornya yaitu mahasiswa dapat menjelaskan pengertian, objek, cabang, filsafat dan berpikir filosofi.

Guna mempelajari lebih dalam, pak dosen mengawalinya dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan filssafat.

- Bagaimana kedudukan filsafat diantara disiplin ilmu lainnya?

Diantara disiplin ilmu lainnya, filsafat menduduki kedudukan teratas, yaitu sebagai induk dari semua ilmu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh seorang filosof, Immanuel Kant, "Filsafat yaitu pokok segala pengetahuan dan perbuatan yang mencakup empat hal, metafisika, etika dan agama". Berfilsafat yaitu berpikir. Bagaimana ilmu pengetahuan lain akan muncul tanpa adanya proses berpikir?. Ini merupakan jawaban sederhana, alasan mengapa Filsafat menjadi induk dari ilmu - ilmu lainnya.

- Apakah filsafat sesuai dengan ajaran agama Islam?

"Filsafat bagian dari syariat Islam" (Ibnu Rusyd). Mengapa demikian? berfilsafat = berpikir. Manusia merupakan makhluk yang diistimewakan dari makhluk lainnya. Keberadaan akal - lah yang membuatnya lebih unggul daripada yang lain. Apalah gunanya akal, kalau bukan untuk berpikir. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman :

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالبِرِّ وَ أَنْتُمْ تَتَلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُوْنَ؟؟؟

Di akhir ayat, disebutkan "Tidakkah kamu berpikir?".  Ayat ini secara tidak langsung  mengingatkan manusia untuk berpikir. Berpikir dengan  otak, bukan dengan dengkul.

Secara etimologis, istilah Filsafat merupakan gabungan dua kata yang diambil dari bahasa Yunani, Philo dan Shopia. Philo berarti cinta yang bermakna luas yaitu keinginan. Shopia yaitu hikmah (kebijaksanaan) atau kebenaran.






Jumat, 26 April 2013

Pertemuan Terakhir.. ( In Memoriam Alm.Mbah Kyai Warsun ) By: F@


Pagi itu, aku tertidur pulas, kuletakkan kepala diatas kedua tangan yang menyandar pada bangku di mushola pondok . Lembaran mushaf Al-Qur’an yang baru kubaca seusai shubuh tadi tersimpan tepat disamping kepalaku. 

Tiba - tiba, aku yang masih mengenakan perlengkapan shalat lengkap pun bangun, jantungku tersentak kaget ketika ada telapak tangan yang menepukku seraya berkata sendu, “Fahma...banguun.. Bapak sekarat ma.., Bapak sekarat..”, langsung ku menoleh kearahnya, mbak anis, kakak senior di pondok  yang telah membangunkanku, kedua matanya merah lembab berkaca – kaca, ditangannya mushaf Al-Qur’an yang siap dibaca, dalam sekejap seluruh ruhku akhirnya kembali, aku terbelalak tak percaya, kulihat sekelilingku satu – persatu santriwati mulai berkumpul dengan membawa Al-Qur’an, kupandangi setiap mata, sama seperti mbak anis, apakah aku bermimpi???.... “ayo ma, wudhu dulu”, pinta mbak anis.

Bergegas ku berwudhu dan segera kukenakan mukena kembali, mulai membaca surat Yaasin untuk kesembuhan Bapak, kudengar dari ujung mushola, salah seorang santriwati menangis histeris  di telepon genggam, terdengar samar – samar , ia sedang mengabari orangtuanya tentang keadaan Bapak. Aku masih tak percaya... perlahan  dadaku mulai terasa sesak, kali ini aku baru menyadari bahwa ini nyata. Bersama dengan santriwati lainnya, kubaca surat Yaasiin, memohon pada Allah agar mendatangkan keajaiban untuk Bapak.

 Semenit kemudian, dari pengeras suara terdengar mbak Nova, mengajak seluruh santri untuk membacakan do’a Thibbi-l-quluubi, belum sampai ketiga kalinya, mbak Umaroh datang dengan deraian airmata yang membasahi pipinya, lemas ia berkata, “Bapak..ora ono...”. Dalam sekejap, tangisan duka bergema memantul dalam mushola, menyelimuti suasana kamis pagi  yang  mendung,  Mbah Kyai Warson, seorang ulama besar, guru, sekaligus Bapak pengasuh kami, kini telah pergi. Airmata duka perlahan membanjiri pipi ini, Ya Allah, aku kehilangannya, kami semua kehilangan Bapak...

Enam bulan silam, pertama kali kumenginjakkan kaki di komplek Q. Pondok yang kutuju setelah Gontor Putri 1.

 Aku selalu ditanya, “Tahu Krapyak darimana?”, “Dari orang tua”, jawabku. Selain itu, almarhum kakekku, sebelum wafat pernah dawuh  pada  putra putrinya, “Aki nuhun aya hiji ti incu nu mondok di Krapyak”, pintanya. Semasa hidupnya, beliau pernah berguru pada almarhum Mbah Kyai Ali Maksum. Karena itulah, beliau berharap dari cucu – cucunya, ada yang meneruskan tholabu ‘ilmi di Krapyak, “Agar dapat barokah”, jelasnya.

 “Kenapa milih komplek Q”, “Ingin belajar banyak dari Kyai Warsun”, jawabku. Ya, harapanku ingin nyantri ke Mbah Kyai Warsun. Itu karena aku banyak mendengar cerita tentang beliau dari papa. Disamping itu, aku berharap dapat memperdalam ilmu bahasa yang sudah sedikit kupelajari di pondok Gontor Putri dulu.

 Bersama dengan ustadz Kusnadi, om dan tante, kutemui mbah kyai dan Ibu untuk showan pertama kali.  Ketika memasuki rumah beliau, gemetaran, aku tidak menyangka akan bertemu dengan seorang kyai besar, sang penulis kamus bahasa Arab – Indonesia “Al-Munawwir”.

Dengan mengenakan baju koko putih dan sarung coklat, beliau datang kehadapan kami. Subhanallah. Alis lebat dan rambutnya kian memutih, menandakan umurnya yang semakin menua. Ibupun setia mendampingi Bapak dengan perpaduan gamis dan kerudung berwana ungu, mungkin usia Ibu sudah menginjak enam puluhan, bayangku, tapi wajahnya memancarkan cahaya bersih lagi menenangkan.

Ustadz Kusnadi mengawali percakapan dengan bahasa Jawa yang tidak kutahu artinya. Dengan suara berat dan pelan yang memancarkan aura wibawa darinya, Bapak menjawab. Beliau sedikit menjelaskan tentang keadaan pondok dan sistem didalamnya, “Disini ada Madrasah Diniyyah, kalau tidak mau ikut silahkan cari pondok lain”, jelas beliau sambil tersenyum, aku mengangguk.  Bapak dan Ibu amat ramah dan murah senyum. Motivasi pertama yang membuatku semakin yakin untuk menimba ilmu di komplek Q.  Sebelum pamit untuk beranjak pergi, kami mengambil kesempatan emas ini untuk berfoto bersama mbah kyai dan Ibu.

Hari – hari di komplek Q memberikan banyak kesan yang berarti bagiku. Banyak pengalaman dan nilai – nilai kehidupan yang kudapatkan. Terutama dari sosok mbah kyai, yang kemudian ku memanggilnya dengan Bapak, dan juga dari Ibu yang kuanggap seperti Ibu kandungku sendiri.

Kedekatanku dengan Bapak dan Ibu tidak  luput dari keberadaan  orangtuaku yang sudah lama mengenal Bapak Ibu. Berawal dari showan kedua bersama orangtua, aku mulai sering berkomunikasi dengan Ibu, tetapi tidak dengan Bapak, komunikasi dengan beliau hanya sebatas dengan kontak panca indera, tersenyum atau menunduk . Dari Ibu, aku sedikit tahu tentangnya.

Bapak, menurut Ibu, adalah sosok kyai yang sederhana dan rendah hati, tidak pernah membedakan siapapun dalam mua’amalah. Dulu, beliau pernah menguasai 7 bahasa asing. Almarhum juga aktif dalam organisasi.Dalam waktu yang  tidak lama, semua yang beliau lakukan meredup seperti lilin yang tertiup angin, beliau terkena penyakit yang mengharuskannya untuk banyak istirahat di rumah.

Aku sedih, karena aku belum pernah merasakan diajar langsung oleh Bapak, dari pertama kali bertemu hingga terakhir kalinya. Itu karena Bapak sakit. “Bapak sekarang sering sakit. Kemarin -  kemarin Bapak mimpi jatuh, ternyata jatuh beneran, ada sedikit benturan di kepalanya, kata dokter, ada penyempitan pembuluh darah di kepala, jadi memorinya terkena gangguan. Ramadhan kemarin masih sempat mengajar di pondok, tapi setelah jatuh, ndak ngajar lagi..”, Ibu mencoba menerangkan.  Aku terdiam terpaku, terharu pilu mendengar cerita Ibu,.“Ya Allah..berikanlah kesembuhan untuk Bapak, agar dapat beraktifitas kembali seperti dulu, agar beliau dapat mengajar santri-santrinya lagi..aamiin..”, pintaku pada-Nya.

Bapak memang tidak mengajar langsung seperti ustadz lain, tapi secara tidak langsung kudapatkan banyak pelajaran yang beliau ajarkan melalui keteladanan dan karya yang dihasilkannya.

Aku selalu ingat, di pagi hari sebelum berangkat bimbel, aku menemukan beliau sedang duduk sendiri di atas kursi, dibawah terik sinar matahari dengan kaki kiri yang berpangku keatas kaki kanan, didepan mushola timur, beliau berjemur.

 Wajahnya kian megeriput, tubuhnya kian mengurus, badan membungkuk, tapi semangat hidup selalu tampak darinya. Walaupun tubuhnya semakin melemah, beliau masih sering mengontrol pondok, santri, keluarga, dan para pekerja. “Bapak itu setiap hari pasti ngabsen pekerja dan cucu – cucunya”, terang salah seorang teman.

Beliau adalah seorang kakek penyayang. Semua cucu  - cucunya sangat dekat dengan
beliau. Kedekatan itu  tampak terlihat dari cucunya yang sering bermain ke rumah kakeknya itu. Tangisan  histerispun muncul dari salah seorang cucunya ketika beliau sudah tiada.

Pernah suatu pagi, aku dipanggil Mba Ida, “Fahma...dipanggil Bapak..”. Aku yang hendak pergi mengantar Ahda ke Dongkelan pun menghampiri Mba Ida, “Ada apa mba?.”, kataku. “Ndak Tahu..”, jawab Mba Ida. Akupun menoleh sedikit kedalam rumah Bapak, kulihat beliau sedang sarapan. “Mba, Bapak Ibu lagi sarapan, gimana?”, Tanyaku. “Waah...gak tahu juga..hee”, aku Mba Ida. Akhirnya, ku memutuskan untuk mengantar Ahda terlebih dahulu, kemudian menemui Bapak.

Setelah mengantar Ahda, aku menoleh lagi kedalam rumah, ternyata Bapak sudah selesai sarapan. Kuberanikan diri masuk dan kuucapkan salam, “Assalamu’alaikum..”, kulihat Bapak yang sedang duduk di sofa. Bergegas kuperkenalkan diri, “Maaf pak, saya Fahma”. Kemudian Bapak menyuruhku masuk dan duduk dibawah dihadapan beliau yang sedang duduk di sofa.  “Fahma, Insya Allah saya mau ke Jakarta hari ini, naik pesawat Garuda dari Adisuciptp. Sama Ibu, Aina dan Pak Hadi”, jelas Bapak. Akupun mengangguk, dengan nada pelan dan hati – hati, aku bertanya, “Nggih pak, Insya Allah nanti saya sampaikan ke Bapak saya dirumah, jam berapa pak”.  “Jam 10 nanti”, jawabnya. Setelah lama terdiam, akhirnya Bapak mengizinkanku kembali ke kamar, “Ya Sudah..itu saja”, kata Bapak. “Nggih pak, Assalamu’alaikum”, ucapku.  Sejujurnya, aku gemetaran ketika berhadapan dengan beliau. Tapi, Alhamdulillah, aku sangat bersyukur dapat berbicara langsung dengan beliau. Dan akupun tersenyum.

Sehari sebelum kepergiannya, aku masih sempat bertemu beliau di dapur, beliau hendak mengambil sandal kemudian berjalan ke arah Q5, entah apa yang beliau lakukan, kudengar dari teman, beliau sempat bertanya pada salah seorang santri disana, “Iki wis apik durung?”, tanya almarhum. Beliau meminta pendapat santri tentang bangunan komplek Q yang baru saja selesai di renovasi. Jalan lorong yang berlapiskan tanah kini berganti menjadi keramik yang indah. Atap bolong yang sering menjadi celah air hujan, kini tertutup dengan atap plastic yang mewah.  Sempurna..

 Kemudian, beliau berjalan – jalan di sekitar pondok, layaknya seorang pengasuh yang mengontrol keadaan santri dan pondoknya. Aku dan teman – teman tidak pernah menyangka, itu menjadi pertemuan terakhir kami dengan Bapak.  Hingga akhirnya, pagi itupun datang.

Dalam sekejap, ratusan santri dan masyarakat telah berkerumun memenuhi halaman parkir komplek Q, dibalik pintu mushola, aku menangis. Jenazah beliau masih dalam perjalanan dari RS.PKU Muhammadiyah.

Kudengar  cerita teman, jam setengah enam pagi, Ibu berteriak histeris memanggil santriwati, Mba Uswah segera bergegas menghampiri, ternyata kondisi tubuh Bapak ketika itu mulai mendingin, sedikit kaku, dalam kondisi panic, Ibu segera mengusapkan minyak kapak ke tubuh bapak dan berdo’a semoga tidak terjadi apa – apa.  Setelah menelepon Gus Kholid, menantunya, Bapak langsung dibawa ke RS.PKU Muhammadiyah, dan kemudian dipastikan beliau telah wafat.

Beberapa menit kemudian, jenazahnya datang. Isak tangis duka memenuhi seluruh kawasan komplek Q. Jasad almarhum segera dimandikan dan diberi kain kafan. Lalu, diletakkan di shaf pertama mushola. Dan  dishalatkan oleh ribuan orang. Airmataku tak dapat berhenti mengalir.  Kupandangi terus jasad almarhum yang kini tertutup dengan kain hijau bertuliskan “Inna lillahi wa Innaa ilaihi rooji’uun”. Aku tersenyum dengan airmata yang masih berjatuhan,, melihat almarhum yang kini telah beristirahat dengan tenang. “Allahumma ighfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu”. Aamiin. Kumelihat Ibu yang diselimuti duka, beliau menangis. “Ya Allah, berikanlah Ibuku ini kesabaran dan kekuatan..aamiin..”.

Shalat Jenazah pertama diimami oleh Mbah Kyai Zainal yang tidak lain adalah kakak kandung almarhum. Hatiku semakin terenyuh, menyaksikan pertemuan terakhir  kedua saudara yang merupakan ulama besar terkemuka.  Diatas kursi roda, beliau mengimami jam’aah dengan khusyuk dan khidmat.

Jenazah almarhum dimakamkan pukul 16.00.  “Ini, atas permintaan Gus Mus”, tutur Ibu. Setiap detik, mushola tidak sepi dari para pelayat yang hendak mensholatinya.. Begitupula lantunan ayat Al-Qur’an yang tidak henti – hentinya didengungkan hingga waktu pemakaman tiba. 

Komplek Q yang sepi berubah menjadi ramai, setiap santri disibukkan oleh kotak – kotak kertas yang akan diisi dengan makanan untuk menghormati para tamu yang melayat. 

Jam 16.00 pun tiba, acara pra pemakamanpun dibuka, kusaksiksan acara itu hingga do’a penutup yang dipimpin Gus Mus dan Mbah Zainal. Airmata ini semakin mengalir deras setelah kusaksikan jenazah almarhum yang sudah berada diatas kayu keranda, siap dipikul menuju tempat peristirahatan terakhir. “Ila liqoo yaa abii, ustaadzi.. ma’anaa fil-Jannah”.T_T.....
Jasadnya telah tiada, tapi jasanya akan terkenang sepanjang masa. Hayyun fii quluubinaa..<3










Senin, 25 Maret 2013

Potensi Diri


 Setiap orang memiliki potensi yang luar biasa dalam dirinya, diibaratkan gula dalam air teh panas, jikalau gula itu tak diaduk maka air teh tidaklah terasa manis. Begitupula manusia, potensi dalam dirinya tidak akan terasa jika dia tidak berusaha untuk terus menggali potensi yang ada pada dirinya. Dan ini sebagai perumpamaan dari kasus yang menimpa para remaja zaman sekarang di berbagai penjuru daerah di Indonesia khususnya, mulai dari kalangan sekolah menengah pertama sampai kalangan sekolah menengah atas bahkan mahasiswa sekalipun, termasuk didalamnya santriwati Gontor putri.

Pondok Modern Darussalam Gontor Putri  merupakan salah satu cabang dari pondok terbesar di Indonesia yaitu Gontor. Pondok yang didirikan pada tanggal 31 Mei 1991 ini telah dihuni oleh ribuan santriwati yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan telah menghasilkan ribuan alumni pula yang tersebar di seluruh penjuru. Dan sekarang, jumlah santriwati yang ada berjumlah sebanyak 3.811 orang. Di dalam pondok terdapat berbagai macam kegiatan yang diciptakan agar menjadi sarana pendidikan mental bagi santriwati. Pendidikan  mental yang dimaksud bukan hanya sebatas mental yang berarti fisik melainkan juga mental spiritual dan intelektual serta emosional yang ada pada dirinya.  Dari pendidikan inilah terbentuk kepribadian yang berkarakter dan memiliki mental yang kuat dan handal. Melalui proses yang panjang dan usaha yang tiada hentinya, akhirnya Gontor berhasil menghasilkan benih – benih calon pemimpin dan calon ibu yang akan melahirkan para pemimpin dan pejuang yang bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Keberhasilan ini terbukti dengan adanya banyak prestasi yang diraih oleh sebagian santriwati dan alumni.

Itulah sekilas cerita tentang Gontor Putri. Ada satu sisi negatif pada santriwati terkait dengan pendidikan Gontor. Dikatakan dalam salah satu filsafat hidup Gontor “Gontor hanya memberi kunci dan santri yang bertanggungjawab atas kunci itu”, pendidikan di Gontor memang dimaksudkan agar menjadi sarana pendidikan mental dan pembentukan keprbadian santriwati, itu merupakan salah satu kunci yang diberikan gontor pada santriwati. Tetapi kenyataannya, pendidikan gontor tidak selamanya menghasilkan santri yang berkepribadian unggul seperti apa yang dicita – citakan. Karena sebenarnya, prestasi santri tergantung pada dirinya sendiri.

“Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keuntunganmu”, filsafat hidup ini mengajarkan pada santri bahwa segala prestasi dan keberhasilan yang diperoleh itu tergantung pada usaha, tekad dan do’a sendiri. Banyak santri yang beranggapan bahwa pendidikan gontor akan membuatnya jadi seorang yang super dan berkepribadian unggul, pikiran tersebut memang baik, namun apabila tidak disertai dengan usaha dari diri sendiri maka keinginan itu tidak akan pernah terwujudkan.

Salah satu contoh yang bisa diambil yaitu pada kegiatan Public Speaking, mungkin, sebagian santri ada yang tahu dan ada yang tidak tahu tentang manfaat dari kegiatan tersebut, namun pada hakikatnya, seorang santri yang berusaha ingin menjadi lebih baik akan berusaha untuk menjadikan kegiatan ini sebagai ajang pembentukan karakter dalam dirinya. Dalam artian ingin menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya.

Berarti, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya setiap insan memiliki potensi yang ada dalam dirinya dan potensi itu akan dapat mewarnai kehidupan sehari – harinya ketika ia dapat mengolah itu sendiri dan terdapat beberapa faktor yang mendoron dia untuk menggalinya seperti motivasi orang tua, keadaan lingkungan sekitar, dll. Tapi, motivasi terbesar ada pada dirinya sendiri. 

                                                                                                      Rabu, 7 November 2012

Kamis, 14 Maret 2013

Cinta..

"I Love You...", "Uhibbuka..", "Aishiteru..", merupakan kata - kata favorit yang biasa diungkapan oleh sang pencinta pada orang yang dicintainya. Ada apa dengan cinta?. Cinta seringkali memperbudak manusia yang mabuk olehnya, cinta dengan kekuatannya mampu merubah karakter, sifat atau sikap seseorang.

Cinta selalu menjadi objek perbincangan yang menarik bagi manusia terutama kalangan muda yang menginjak masa remaja. Sebenarnya, apa itu cinta?.Kata Mario Teguh, "Apa arti cinta sesungguhnya dilihat dari sudut pandang yang menghebatkan kehidupan". Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah sesuatu yang dapat dirasa, tapi sulit untuk diungkapkan dengan kata - kata. Sebab itulah, jarang sekali menemukan definisi yang tepat untuk "Cinta". Karena setiap orang memiliki pandangan  sendiri tentangnya. 

Cinta adalah anugerah  Illahi Rabbi. Sebagaimana yang diketahui, "cinta itu bermacam - macam", kata Quraish Shihab. Seperti Cinta Allah pada manusia atau sebaliknya,  cinta manusia pada manusia, cinta manusia pada harta, dll. 

Adanya penciptaan langit dan bumi dengan segala isinya  merupakan salah satu bukti kecintaan Sang Khaliq pada makhluk-Nya. Allah mencintai orang - orang yang bertakwa, orang - orang yang sholih, muhsiniin, mu'miniin, yang selalu taat dan patuh pada-Nya.

Cinta manusia pada Allah diwujudkan dengan Iman yang tertanam dalam dirinya. Iman berarti percaya/yakin. Iman kepada Allah merupakan rukun iman pertama yang wajib diyakini oleh segenap umat Islam, begitupula dengan rukun iman selanjutnya. Dengan iman, ia terdorong untuk selalu menyebarkan Ihsan atau kebaikan. Berbuat baik semata - mata karena Allah SWT, dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Taat dan patuh merupakan salah satu dari wujud kecintaan manusia pada Allah SWT. Dalam mewujudkannya, manusia memiliki cara tersendiri, entah dalam ucapan atau perbuatannya. Wujud kecintaan yang mendalam pada Allah seperti yang dicontohkan oleh Rabi'ah al-Adawiyah seorang wanita sufi yang memiliki saham yang besar dalam memperkenalkan cinta Allah dalam dunia tashawuf.  Dan masih banyak lagi contoh lain yang menunjukkan kecintaannya terhadap Yang Maha Kuasa.

Manusia lebih mudah untuk mencintai sesamanya. Cinta pada manusia pun beragam, cinta manusia pada pasangannya, cinta manusia pada orang tuanya, anak - anaknya, temannya, dll. Cinta manusia bermula dari pengenalan, mengenali seseorang yang dicintainya dari berbagai sudut pandang, bukan hanya memandangnya  dengan sebelah mata. Setelah pengenalan akan timbul penghormatan terhadap apa yang menjadi milik orang yang dicintainya. Dalam cinta tidak ada kata "paksa". Cinta tidak memaksa orang yang dicintai menjadi apa yang diinginkan orang yang mencintainya. Setelah penghormatan maka akan timbul rasa tanggungjawab, kemudian kesetiaan. Tanpa keempat poin utama itu, maka cinta yang terjalin bukanlah cinta yang terhormat, juga bukan cinta yang tumbuh atas dasar tanggungjawab dan kesetiaan.

Quraish Shihab dalam kultumnya mengatakan bahwa puncak dari cinta manusia pada manusia dinamakan dalam Al - Qur'an yaitu Mawaddah, yang artinya kosongnya jiwa dari segala yang buruk. Setiap perbuatan yang dilakukan orang yang ia cintai selalu dianggap baik olehnya, dalam pandangannya, sikap yang ia lakukan selalu bernilai positif, tak ada cerca, tak ada hina. Banyak cara yang dilakukan manusia untuk mengungkapkan cinta, bisa dengan perkataan atau melalui perbuatan. Misalnya yaitu cinta orang tua pada anaknya, tanpa ungkapan kata, wujud kasih sayangnya dapat terlihat jelas dari caranya dalam memperilakukan anak - anaknya. Begitupula seorang anak pada orangtuanya, cintanya dibuktikan dengan ketaatannya terhadap nasihat orang tua.

Cinta manusia pada harta sudah banyak ditemukan dalam realita kehidupan, banyak orang yang berjibaku demi meraih harta, rela mengorban jiwa dan raga demi harta. Uang atau Al- Maalu merupakan perhiasaan dunia, tetapi seringkali keberadaannya menjadi tipu daya bagi manusia. Barangsiapa yang tertipu olehnya maka ia hanya akan meraih kenikmatan dunia yang fana. Allah berfirman dalam surat Al - Kahfi, "Al - Maalu wa al-Banuuna ziinatun al-Hayaati Ad-Dunyaa, wa al-Baaqiyatu as-Shoolihatu khoirun 'inda robbika tsawaaban wa khairu 'amalaa", "Harta dan anak - anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan - amalan yang kekal lagi shaleh adalah baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan" ( QS. Al-Kahfi [18]:46 ).

Demikianlah sekilas pengetahuan tentang cinta, setiap orang berhak mencintai dan dicintai. Cintailah mereka yang patut dicintai. Cinta tak harus memiliki, ketika mencintai seseorang, maka do'akanlah ia agar selalu dilindungi Allah Ta'alaa dan senantiasa dapat meraih cita dan cintanya. Cinta yang hakiki adalah cinta Illahi Rabbi yang tak tertandingi oleh apapun dan siapapun. <3 


Senin, 04 Maret 2013

Optimis say!!

"Bosaaaaaaaaann.....:( :(!!!"....( ooppss )...
Seringkali kata itu keluar dari mulut manusia yang sedang merasa jemu. Kenapa bosan?...Aah.. banyak faktor yang menyebabkan bosan. Biasanya yang membuat kita bosan adalah rutinitas harian, waktu yang padat dengan kegiatan yang sama atau sebaliknya, waktu kosong pun bisa menjadi salah satu penyebab dari kejemuan itu, dll.
Bosan merupakan respon negatif manusia terhadap kehidupan. Bosan menjadi bagian dari pesimisme.  Sikap pesimis atau At - tasaaumu  sangat dihindari. Cara pandang seseorang yang pesimis terhadap kehidupan, seperti memandang 1 apel cacat diantara 20 buah apel merah, 19 lainnya dalam keadaan baik. Tidaklah ia melihat kehidupan kecuali hal - hal yang buruk saja. Memandang apa yang terjadi hanya dari satu sisi. Selalu menghadapi masalah dengan amarah dan emosi. Ia hanya tertarik pada kisah sedih atau lagu sedu. Sampai - sampai hidupnya seperti Kisah sedih di hari Minggu. Baginya, kehidupan bagaikan malam kelam yang panjang, tak ada cahaya, tak ada harapan.Naudzubillah.. Pada suatu kesempatan, Pak Quraish Shihab mengatakan, "Seseorang yang kehilangan optimisme, maka sesungguhnya ia kehilangan wujud Tuhan". Tak bisa dipungkiri, memang jika manusia pesimis berarti ia menganggap bahwa tidak ada harapan - harapan lain yang dapat diraih,  ia sesungguhnya telah melupakan Dzat Maha Penguasa Yang menjadi sutradara dalam kehidupan alam semesta, Yang Menentukan qadha dan qadar pada makhluk-Nya dan Yang selalu memberi harapan bagi hamba-Nya. Ajaran agama apapun pasti mengajarkan umatnya untuk selalu optimis dan menghindari  sikap pesimis. Optimisme atau At - Tafaaulu hadir dengan ribuan harapan yang harus siap diterima risikonya.  Dalam kisah penciptaan manusia diceritakan, ketika Allah hendak menciptakan manusia, satu riwayat mengatakan bahwa malaikat ragu dengan keputusan Allah, karena menurutnya manusia akan mengalami bosan, tetapi Allah menjawab, "Tidak, karena Aku akan selalu memberinya harapan".  Begitulah yang dikatakan Allah SWT kepada malaikat. Manusia akan terus diberi harapan agar selalu optimis.Optimisme yang disertai dengan keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Optimisme yang berdasar, bukan yang tawar, yang diikuti dengan ikhtiar dan usaha maksimal, kemudian bertawakkal pada Allah SWT.  Jika optimisme ada dalam diri manusia, niscaya ia akan menemukan titik kebahagiaan. Kebahagiaan yang diridhoi, disertai dengan syukur atas nikmat Illahi Rabbi. Seorang yang optimis tetap bangga walaupun kalah dalam lomba, tetap senyum walaupun ditimpa masalah. Memandang kehidupan dari sisi positif, seperti halnya rutinitas harian, hal ini tidak akan membosankan jikalau   ia mengambil hikmah terbaik dari apa yang ia lakukan. Selain itu, perlu adanya perubahan pola pikir yang memandang sempit kehidupan. Dengan merubah pola pikir sempit dan cara pandang negatif, maka akan tercipta jiwa optimis. Tapi ingat! Optimisme disertai dengan ikhtiar dan do'a. Boleh berharap, tapi tidak berlebihan. Usaha yang sudah dibina dilanjutkan dengan tawakkal pada Yang Maha Kuasa... semangaat!!..:)



Rabu, 27 Februari 2013

Like Father Like Daughter (Catatan Harian Seorang Santri)




                “Papa”, sapaan akrab yang kerap kali ku panggilnya, sebuah kata yang memiliki berjuta makna. Ku memanggilnya papa bukan berarti manja, tapi itulah tanda rasa cinta dan kasih sayangku padanya. Terlalu banyak hal yang diceritakan mengenai sosok pria tampan dan bertanggungjawab itu. “He is my Idol”. Aku tidak pernah tahu tentang bagaimana kehidupanku di masa kecil dulu, kecuali setelah mendengar sekilas kisah yang diceritakan oleh papa dan mama padaku. Oleh karena itu, dulu aku belum bisa memaknai peran seorang ayah begitupula ibu. Yang aku tahu hanyalah beberapa aktivitas yang sering dilakukan oleh papa dan mama setiap harinya, mungkin aku seringkali melihatnya berada dalam berbagai kesibukan dan pekerjaan, namun aku benar – benar belum bisa memaknai itu semua.
            Pada beberapa kisah diceritakan tentang berbagai pengalaman dan perjuangan dalam fase kehidupan lama yang dilewati oleh kedua orangtuaku. Salah satu kisah yang diceritakan yaitu mengenai kesendirian mama bersama buah hati pertamanya ketika papa sedang keluar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarga kecilnya. Suasana ketakutan meliputi hati mama sesaat matinya lampu disertai dengan gemuruh halilintar yang diikuti dengan derasnya hujan yang turun. Dan aku, yang masih berada dalam pangkuan mama, tak merasakan apa – apa. Tak bisa dibayangkan betapa resahnya mama pada waktu itu. Dalam hatinya, mama berdo’a semoga tidak terjadi apa-apa dan Allah akan selalu melindungi keluarganya. Satu harapan yang terbesit ketika itu, semoga papa cepat kembali ke rumah. Walaupun aku hanya mendengarkan satu kisah, tapi dari sini ku bisa memaknai bahwa pentingnya kehadiran papa bagi mama dimanapun dan kapanpun.
            Setelah beranjak remaja, ku mulai memahami segala proses kehidupan yang terjadi padaku dan orang- orang yang berada di sekitarku. Dan pada saat itu pula, aku mulai bisa berpendapat dan berkesan tentang siapapun dan apapun.
            Bagiku, papa merupakan sosok yang penyayang, bertanggung jawab dan patut diteladani oleh para putra dan putrinya. Kasih sayang papa tidaklah berbeda dengan kasih sayang mama, semuanya sama. Yang berbeda hanyalah “Ekspresi cinta keduanya”.
            Dulu, entah mengapa aku dan adik- adikku mendoktrin bahwa papa adalah orang yang menakutkan, keras, suka marah, dll. Terlalu jarang bagiku waktu itu untuk berkomunikasi banyak dengannya. Bersyukurlah aku, keadaan itu tidaklah berlangsung lama, rasa takut yang kurasa terhadap papa mulai pudar sedikit demi sedikit. Dan aku baru menyadari bahwa komunikasi yang kurang dan waktu bertemu yang sedikitlah yang membuat prasangkaku tentang papa itu timbul begitu saja, lain halnya dengan saat ini, walaupun jarang bertemu tapi komunikasi tetap berjalan dengan baik, sehingga prasangka buruk tidak akan timbul lagi.
            Dalam asuhan papa, aku merasakan berbagai pengaruh pendidikan yang diberikan olehnya. Sikap tegas papa yang membuat hari- hariku tetap teratur namun bukan berarti ketat dan mengekang diri. Yang patut kusyukuri adalah sikap papa yang memberikan peluang bagi putra – putrinya untuk bebas berfikir dan berinisiatif serta mandiri. Itulah sikap yang seharusnya diterapkan dalam diri seorang pendidik, seperti apa yang sering dipelajari dalam Ilmu Pendidikan pada saat ini. Pendidikan yang diberikan oleh seorang pendidik bukan hanya melalui perkataan saja, tapi juga dari bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari – hari.
            Papa selalu menerapkan dalam diri putra – putrinya sifat murah hati, dermawan dan tidak lupa untuk tetap menjadi orang yang baik budi pekertinya serta bermanfaat bagi orang lain. “Khoirun-Naasi Ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum lin-naasi”. Hal itu selalu diterapkan olehnya melalui nasihat yang diberikan serta tindakan yang dilakukan, seperti sikap papa yang ramah dan supel terhadap orang lain, tak membedakan kalangan atas dan bawah. Disamping kesibukan papa sebagai mubaligh, aktivis, politisi, seniman juga penulis, ia berinisiatif untuk mendirikan komunitas anak jalanan yang tetap ada sampai sekarang.
            Banyaknya pengalaman, prestasi dan teman yang papa miliki menjadikanku termotivasi untuk dapat meraih apa yang ia raih. Untuk itu, aku selalu berusaha untuk memiliki kepribadian, sifat dan sikap yang mulia, walau ku tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tapi aku selalu yakin, bahwa ketidaksempurnaanlah yang akan membuat manusia terus berusaha untuk meraih kesempurnaan itu dan selalu memperbaiki diri  hingga waktu yang tak tentu.
            Kini umurku bertambah, bertambah umur maka bertambahlah pula rintangan hidup yang dihadapi dan problem kemanusiaan yang dialami. Masa-masa usia sepertiku merupakan masa Aku bersyukur karena aku sekarang hidup di lingkungan sebuah pesantren yang menerapkan sistem pendidikan berkarakter dengan panca jiwa serta motto pondok yang diakui keberhasilannya. Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 namanya. Menyantrenkan putrinya di Gontor merupakan salah satu harapan besar papa sejak lama. Sebuah harapan besar didukung dengan tekad yang kuat. Suatu ketika papa bercerita tentang sekilas kisah mengenai hal yang berkaitan dengan harapannya itu, dalam menempuh perjalanan jarak jauh dari Sumedang menuju Jombang, papa melewati sebuah pesantren putri dan memperhatikannya, disaat itu ia berkata dalam hatinya “Anakku akan sekolah disini”. Kejadian itu berlangsung pada tahun 90-an, sebelum ia menikah dengan mama. Ya Allah, aku bangga padanya. Rasa haru meliputiku sesaat setelah mendengar kisah tersebut, kutekadkan niat dan ku berjanji akan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi papa dan mama. Aku berharap agar bisa menggoreskan warna-warni dalam kehidupannya yang senantiasa membahagiakan keduanya. Senyum di bibirnya adalah penyejuk jiwa, kebahagiaannya, kebahagiaanku juga.
            Rintangan yang kuhadapi dalam lingkungan pesantren adalah menyikapi berbagai macam jenis karakter dan sifat orang lain yang berasal dari seluruh penjuru pulau di Indonesia juga dari negara tetangga. Dalam hati aku berkata, ternyata keinginan untuk memiliki teman sebanyak – banyaknya tidaklah semudah yang ku kira. Untungnya hal itu tidak mematahkan semangatku yang benar-benar termotivasi oleh banyaknya jaringan komunikasi papa hingga ke luar negeri sana. Dalam masalah pergaulan, tidak mudah untuk cepat menghadapi orang lain dengan tindakan yang kita mau, tapi perlu proses berpikir jernih dalam menyikapi berbagai karakter orang lain yang tidak selamanya setuju dengan sikap kita. Tindakan papa lah yang mengajariku untuk seperti itu. Hingga saat ini, aku masih dapat merasakan betapa besar pengaruh positif dari didikan papa terhadapku.
            Antara papa dan aku kali ini baik-baik saja, banyak hal positif yang kupaparkan tentang papa tercinta. Namun terkadang, semakin bertambah usia, pikiran mulai mengotak atik fakta, hati melonjak tak menerima kenyataan yang ada, aku pun berontak terhadap beberapa keputusan papa. Mengapa aku merasa diriku kini dilanda duka karena papa melarang aku untuk melakukan hal yang kuinginkan??..dalam keadaan seperti itu, aku menangis dan mengeluh pada mama. Ketika itu mama menenangkanku dan ia menyadarkanku bahwa orang yang paling mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya adalah papa, keputusan papa untuk tidak memperbolehkanku atau adik-adikku untuk melakukan satu hal karena ia mengkhawatirkan anak -anaknya. Dan akupun mengerti.
            Sekilas kisah tentang papa dan aku, kujadikan sebuah tulisan yang datang dari lubuk hati yang dalam. Jika dalam nyanyian dikatakan “Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa”, dan aku katakan “Kasih Ayah dan Ibu kepadaku dan adik-adikku tak terhingga sepanjang masa”. Sebenarnya, kasih sayang ayah dan ibu sama tapi yang berbeda adalah “Ekspresi Cinta keduanya”. (FAH_2009)