“Papa”,
sapaan akrab yang kerap kali ku panggilnya, sebuah kata yang memiliki berjuta
makna. Ku memanggilnya papa bukan berarti manja, tapi
itulah tanda rasa cinta dan kasih sayangku padanya. Terlalu banyak
hal yang diceritakan mengenai sosok pria tampan dan bertanggungjawab itu. “He
is my Idol”. Aku tidak pernah tahu tentang bagaimana kehidupanku di masa kecil
dulu, kecuali setelah mendengar sekilas kisah yang diceritakan oleh papa dan
mama padaku. Oleh karena itu, dulu aku belum bisa
memaknai peran seorang ayah begitupula ibu. Yang aku tahu hanyalah beberapa
aktivitas yang sering dilakukan oleh papa dan mama setiap harinya, mungkin aku
seringkali melihatnya berada dalam berbagai kesibukan dan pekerjaan, namun aku
benar – benar belum bisa memaknai itu semua.
Pada
beberapa kisah diceritakan tentang berbagai pengalaman dan perjuangan dalam
fase kehidupan lama yang dilewati oleh kedua orangtuaku. Salah satu kisah yang
diceritakan yaitu mengenai kesendirian mama bersama buah hati pertamanya ketika
papa sedang keluar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarga kecilnya. Suasana
ketakutan meliputi hati mama sesaat matinya lampu disertai
dengan gemuruh halilintar yang diikuti dengan derasnya hujan yang turun. Dan
aku, yang masih berada dalam pangkuan mama, tak merasakan apa – apa. Tak bisa
dibayangkan betapa resahnya mama pada waktu itu. Dalam hatinya, mama berdo’a
semoga tidak terjadi apa-apa dan Allah akan selalu melindungi keluarganya. Satu
harapan yang terbesit ketika itu, semoga papa cepat kembali ke rumah. Walaupun
aku hanya mendengarkan satu kisah, tapi dari sini ku bisa memaknai bahwa
pentingnya kehadiran papa bagi mama dimanapun dan
kapanpun.
Setelah
beranjak remaja, ku mulai memahami segala proses kehidupan yang terjadi padaku
dan orang- orang yang berada di sekitarku. Dan pada saat itu pula, aku mulai
bisa berpendapat dan berkesan tentang siapapun dan apapun.
Bagiku,
papa merupakan sosok yang penyayang, bertanggung jawab dan patut
diteladani oleh para putra dan putrinya. Kasih sayang papa tidaklah berbeda dengan
kasih sayang mama, semuanya sama. Yang berbeda hanyalah “Ekspresi cinta
keduanya”.
Dulu,
entah mengapa aku dan adik- adikku mendoktrin bahwa papa adalah orang
yang menakutkan, keras, suka marah, dll. Terlalu jarang bagiku waktu itu untuk
berkomunikasi banyak dengannya. Bersyukurlah aku, keadaan itu tidaklah
berlangsung lama, rasa takut yang kurasa terhadap papa mulai pudar sedikit demi sedikit. Dan
aku baru menyadari bahwa komunikasi yang kurang dan waktu bertemu yang
sedikitlah yang membuat prasangkaku tentang papa itu timbul begitu saja, lain
halnya dengan saat ini, walaupun jarang bertemu tapi komunikasi tetap berjalan
dengan baik, sehingga prasangka buruk tidak akan timbul lagi.
Dalam
asuhan papa, aku merasakan berbagai pengaruh pendidikan yang diberikan olehnya.
Sikap tegas papa yang membuat hari- hariku tetap teratur namun bukan berarti
ketat dan mengekang diri. Yang patut kusyukuri adalah sikap papa yang
memberikan peluang bagi putra – putrinya untuk bebas berfikir dan berinisiatif
serta mandiri. Itulah sikap yang seharusnya diterapkan dalam diri seorang
pendidik, seperti apa yang sering dipelajari dalam Ilmu Pendidikan pada saat
ini. Pendidikan yang diberikan oleh seorang pendidik bukan hanya melalui
perkataan saja, tapi juga dari bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam
kehidupan sehari – hari.
Papa
selalu menerapkan dalam diri putra – putrinya sifat murah hati, dermawan dan
tidak lupa untuk tetap menjadi orang yang baik budi pekertinya serta bermanfaat
bagi orang lain. “Khoirun-Naasi Ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum lin-naasi”.
Hal itu selalu diterapkan olehnya melalui nasihat yang diberikan serta tindakan
yang dilakukan, seperti sikap papa yang ramah dan supel terhadap orang lain,
tak membedakan kalangan atas dan bawah. Disamping kesibukan papa sebagai
mubaligh, aktivis, politisi, seniman juga penulis, ia berinisiatif untuk
mendirikan komunitas anak jalanan yang tetap ada sampai sekarang.
Banyaknya
pengalaman, prestasi dan teman yang papa miliki menjadikanku termotivasi untuk
dapat meraih apa yang ia raih. Untuk itu, aku selalu berusaha untuk memiliki
kepribadian, sifat dan sikap yang mulia, walau ku tahu bahwa tidak ada manusia
yang sempurna, tapi aku selalu yakin, bahwa ketidaksempurnaanlah yang akan
membuat manusia terus berusaha untuk meraih kesempurnaan itu dan selalu
memperbaiki diri hingga waktu yang tak
tentu.
Kini
umurku bertambah, bertambah umur maka bertambahlah pula rintangan hidup yang
dihadapi dan problem kemanusiaan yang dialami. Masa-masa usia
sepertiku merupakan masa Aku bersyukur karena aku sekarang hidup di
lingkungan sebuah pesantren yang menerapkan sistem pendidikan berkarakter
dengan panca jiwa serta motto pondok yang diakui keberhasilannya. Pondok Modern
Darussalam Gontor Putri 1 namanya. Menyantrenkan putrinya di Gontor
merupakan salah satu harapan besar papa sejak lama. Sebuah harapan besar
didukung dengan tekad yang kuat. Suatu ketika papa bercerita tentang sekilas
kisah mengenai hal yang berkaitan dengan harapannya itu, dalam menempuh perjalanan jarak jauh dari Sumedang
menuju Jombang, papa melewati sebuah pesantren putri dan memperhatikannya,
disaat itu ia berkata dalam hatinya “Anakku akan sekolah disini”. Kejadian itu berlangsung pada tahun 90-an, sebelum ia menikah dengan
mama. Ya Allah, aku bangga padanya. Rasa haru meliputiku sesaat setelah
mendengar kisah tersebut, kutekadkan niat dan ku berjanji akan terus berusaha
memberikan yang terbaik bagi papa dan mama. Aku berharap agar bisa menggoreskan
warna-warni dalam kehidupannya yang senantiasa membahagiakan keduanya. Senyum
di bibirnya adalah penyejuk jiwa, kebahagiaannya, kebahagiaanku juga.
Rintangan
yang kuhadapi dalam lingkungan pesantren adalah menyikapi berbagai macam jenis
karakter dan sifat orang lain yang berasal dari seluruh penjuru pulau di
Indonesia juga dari negara tetangga. Dalam hati aku berkata, ternyata keinginan
untuk memiliki teman sebanyak – banyaknya tidaklah semudah yang ku kira. Untungnya
hal itu tidak mematahkan semangatku yang benar-benar termotivasi oleh banyaknya jaringan komunikasi papa hingga ke luar
negeri sana. Dalam masalah pergaulan, tidak mudah untuk cepat menghadapi orang
lain dengan tindakan yang kita mau, tapi perlu proses berpikir jernih dalam
menyikapi berbagai karakter orang lain yang tidak selamanya setuju dengan sikap
kita. Tindakan papa lah yang mengajariku untuk seperti itu. Hingga saat
ini, aku masih dapat merasakan betapa besar pengaruh positif dari didikan papa
terhadapku.
Antara
papa dan aku kali ini baik-baik saja, banyak hal positif yang kupaparkan tentang
papa tercinta. Namun terkadang, semakin bertambah usia, pikiran mulai mengotak atik
fakta, hati melonjak tak menerima kenyataan yang ada, aku pun berontak terhadap
beberapa keputusan papa. Mengapa aku merasa diriku kini dilanda duka karena
papa melarang aku untuk melakukan hal yang kuinginkan??..dalam keadaan seperti
itu, aku menangis dan mengeluh pada mama. Ketika itu mama menenangkanku dan ia
menyadarkanku bahwa orang yang paling mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya
adalah papa, keputusan papa untuk tidak memperbolehkanku atau adik-adikku untuk
melakukan satu hal karena ia mengkhawatirkan anak -anaknya. Dan akupun mengerti.
Sekilas kisah tentang papa dan aku, kujadikan sebuah tulisan yang datang
dari lubuk hati yang dalam. Jika dalam nyanyian dikatakan “Kasih Ibu kepada
beta tak terhingga sepanjang masa”, dan aku katakan “Kasih Ayah dan Ibu
kepadaku dan adik-adikku tak terhingga sepanjang masa”.
Sebenarnya, kasih sayang ayah dan ibu sama tapi yang berbeda adalah “Ekspresi
Cinta keduanya”. (FAH_2009)

