Rabu, 27 Februari 2013

Like Father Like Daughter (Catatan Harian Seorang Santri)




                “Papa”, sapaan akrab yang kerap kali ku panggilnya, sebuah kata yang memiliki berjuta makna. Ku memanggilnya papa bukan berarti manja, tapi itulah tanda rasa cinta dan kasih sayangku padanya. Terlalu banyak hal yang diceritakan mengenai sosok pria tampan dan bertanggungjawab itu. “He is my Idol”. Aku tidak pernah tahu tentang bagaimana kehidupanku di masa kecil dulu, kecuali setelah mendengar sekilas kisah yang diceritakan oleh papa dan mama padaku. Oleh karena itu, dulu aku belum bisa memaknai peran seorang ayah begitupula ibu. Yang aku tahu hanyalah beberapa aktivitas yang sering dilakukan oleh papa dan mama setiap harinya, mungkin aku seringkali melihatnya berada dalam berbagai kesibukan dan pekerjaan, namun aku benar – benar belum bisa memaknai itu semua.
            Pada beberapa kisah diceritakan tentang berbagai pengalaman dan perjuangan dalam fase kehidupan lama yang dilewati oleh kedua orangtuaku. Salah satu kisah yang diceritakan yaitu mengenai kesendirian mama bersama buah hati pertamanya ketika papa sedang keluar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarga kecilnya. Suasana ketakutan meliputi hati mama sesaat matinya lampu disertai dengan gemuruh halilintar yang diikuti dengan derasnya hujan yang turun. Dan aku, yang masih berada dalam pangkuan mama, tak merasakan apa – apa. Tak bisa dibayangkan betapa resahnya mama pada waktu itu. Dalam hatinya, mama berdo’a semoga tidak terjadi apa-apa dan Allah akan selalu melindungi keluarganya. Satu harapan yang terbesit ketika itu, semoga papa cepat kembali ke rumah. Walaupun aku hanya mendengarkan satu kisah, tapi dari sini ku bisa memaknai bahwa pentingnya kehadiran papa bagi mama dimanapun dan kapanpun.
            Setelah beranjak remaja, ku mulai memahami segala proses kehidupan yang terjadi padaku dan orang- orang yang berada di sekitarku. Dan pada saat itu pula, aku mulai bisa berpendapat dan berkesan tentang siapapun dan apapun.
            Bagiku, papa merupakan sosok yang penyayang, bertanggung jawab dan patut diteladani oleh para putra dan putrinya. Kasih sayang papa tidaklah berbeda dengan kasih sayang mama, semuanya sama. Yang berbeda hanyalah “Ekspresi cinta keduanya”.
            Dulu, entah mengapa aku dan adik- adikku mendoktrin bahwa papa adalah orang yang menakutkan, keras, suka marah, dll. Terlalu jarang bagiku waktu itu untuk berkomunikasi banyak dengannya. Bersyukurlah aku, keadaan itu tidaklah berlangsung lama, rasa takut yang kurasa terhadap papa mulai pudar sedikit demi sedikit. Dan aku baru menyadari bahwa komunikasi yang kurang dan waktu bertemu yang sedikitlah yang membuat prasangkaku tentang papa itu timbul begitu saja, lain halnya dengan saat ini, walaupun jarang bertemu tapi komunikasi tetap berjalan dengan baik, sehingga prasangka buruk tidak akan timbul lagi.
            Dalam asuhan papa, aku merasakan berbagai pengaruh pendidikan yang diberikan olehnya. Sikap tegas papa yang membuat hari- hariku tetap teratur namun bukan berarti ketat dan mengekang diri. Yang patut kusyukuri adalah sikap papa yang memberikan peluang bagi putra – putrinya untuk bebas berfikir dan berinisiatif serta mandiri. Itulah sikap yang seharusnya diterapkan dalam diri seorang pendidik, seperti apa yang sering dipelajari dalam Ilmu Pendidikan pada saat ini. Pendidikan yang diberikan oleh seorang pendidik bukan hanya melalui perkataan saja, tapi juga dari bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari – hari.
            Papa selalu menerapkan dalam diri putra – putrinya sifat murah hati, dermawan dan tidak lupa untuk tetap menjadi orang yang baik budi pekertinya serta bermanfaat bagi orang lain. “Khoirun-Naasi Ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum lin-naasi”. Hal itu selalu diterapkan olehnya melalui nasihat yang diberikan serta tindakan yang dilakukan, seperti sikap papa yang ramah dan supel terhadap orang lain, tak membedakan kalangan atas dan bawah. Disamping kesibukan papa sebagai mubaligh, aktivis, politisi, seniman juga penulis, ia berinisiatif untuk mendirikan komunitas anak jalanan yang tetap ada sampai sekarang.
            Banyaknya pengalaman, prestasi dan teman yang papa miliki menjadikanku termotivasi untuk dapat meraih apa yang ia raih. Untuk itu, aku selalu berusaha untuk memiliki kepribadian, sifat dan sikap yang mulia, walau ku tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tapi aku selalu yakin, bahwa ketidaksempurnaanlah yang akan membuat manusia terus berusaha untuk meraih kesempurnaan itu dan selalu memperbaiki diri  hingga waktu yang tak tentu.
            Kini umurku bertambah, bertambah umur maka bertambahlah pula rintangan hidup yang dihadapi dan problem kemanusiaan yang dialami. Masa-masa usia sepertiku merupakan masa Aku bersyukur karena aku sekarang hidup di lingkungan sebuah pesantren yang menerapkan sistem pendidikan berkarakter dengan panca jiwa serta motto pondok yang diakui keberhasilannya. Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 namanya. Menyantrenkan putrinya di Gontor merupakan salah satu harapan besar papa sejak lama. Sebuah harapan besar didukung dengan tekad yang kuat. Suatu ketika papa bercerita tentang sekilas kisah mengenai hal yang berkaitan dengan harapannya itu, dalam menempuh perjalanan jarak jauh dari Sumedang menuju Jombang, papa melewati sebuah pesantren putri dan memperhatikannya, disaat itu ia berkata dalam hatinya “Anakku akan sekolah disini”. Kejadian itu berlangsung pada tahun 90-an, sebelum ia menikah dengan mama. Ya Allah, aku bangga padanya. Rasa haru meliputiku sesaat setelah mendengar kisah tersebut, kutekadkan niat dan ku berjanji akan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi papa dan mama. Aku berharap agar bisa menggoreskan warna-warni dalam kehidupannya yang senantiasa membahagiakan keduanya. Senyum di bibirnya adalah penyejuk jiwa, kebahagiaannya, kebahagiaanku juga.
            Rintangan yang kuhadapi dalam lingkungan pesantren adalah menyikapi berbagai macam jenis karakter dan sifat orang lain yang berasal dari seluruh penjuru pulau di Indonesia juga dari negara tetangga. Dalam hati aku berkata, ternyata keinginan untuk memiliki teman sebanyak – banyaknya tidaklah semudah yang ku kira. Untungnya hal itu tidak mematahkan semangatku yang benar-benar termotivasi oleh banyaknya jaringan komunikasi papa hingga ke luar negeri sana. Dalam masalah pergaulan, tidak mudah untuk cepat menghadapi orang lain dengan tindakan yang kita mau, tapi perlu proses berpikir jernih dalam menyikapi berbagai karakter orang lain yang tidak selamanya setuju dengan sikap kita. Tindakan papa lah yang mengajariku untuk seperti itu. Hingga saat ini, aku masih dapat merasakan betapa besar pengaruh positif dari didikan papa terhadapku.
            Antara papa dan aku kali ini baik-baik saja, banyak hal positif yang kupaparkan tentang papa tercinta. Namun terkadang, semakin bertambah usia, pikiran mulai mengotak atik fakta, hati melonjak tak menerima kenyataan yang ada, aku pun berontak terhadap beberapa keputusan papa. Mengapa aku merasa diriku kini dilanda duka karena papa melarang aku untuk melakukan hal yang kuinginkan??..dalam keadaan seperti itu, aku menangis dan mengeluh pada mama. Ketika itu mama menenangkanku dan ia menyadarkanku bahwa orang yang paling mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya adalah papa, keputusan papa untuk tidak memperbolehkanku atau adik-adikku untuk melakukan satu hal karena ia mengkhawatirkan anak -anaknya. Dan akupun mengerti.
            Sekilas kisah tentang papa dan aku, kujadikan sebuah tulisan yang datang dari lubuk hati yang dalam. Jika dalam nyanyian dikatakan “Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa”, dan aku katakan “Kasih Ayah dan Ibu kepadaku dan adik-adikku tak terhingga sepanjang masa”. Sebenarnya, kasih sayang ayah dan ibu sama tapi yang berbeda adalah “Ekspresi Cinta keduanya”. (FAH_2009)



           
                       
                        

Kenapa harus nulis?

Menulis menjadi salah satu hobi yang kusukai sedari kecil. I Like writing... aku suka menulis apa saja yang kualami diatas sobekan kertas atau di  layar komputer. Setelah terbiasa menulis, kuputuskan untuk membeli sebuah buku catatan harian yang menarik. Dan mulailah aku mengumpulkan banyak tulisan yang sebagian besar hanya curahan hati dari seorang anak SD yang belum berusia baligh. Hampir setiap hari catatatan harian itu terisi, hingga suatu hari kualami kejadian yang membuatku trauma akan diary hingga sekarang ini. Ketika itu  usiaku menginjak 9 tahun. Dalam catatan harian,  kutuliskan  kisah yang baru kualami, yaitu  "Kisah Cinta", ingin rasanya kutertawa jika mengingat hal itu kembali. Seorang siswi Sekolah Dasar jatuh hati pada teman laki -laki  di kelasnya, bunga - bunga di hatinya mendorong dia untuk mengungkapkan perasaannya pada kertas yang hanya membisu, walaupun begitu, tulisan yang biasa - biasa saja memancarkan cahaya yang menerangi jiwa, seakan - akan ia berbicara padanya. Itu berlangsung hampir 2 minggu. Perasaan itu memang tidak ia ungkapkan langsung pada sang pujaan hati, ia mampu menahannya untuk diri sendiri. Setiap malam, ia goreskan tinta dan mengukir sebuah cerita, namun, suatu hari, diary yang terletak dibawah bantal beralih tempat diatas lemari, seketika ia bertanya - tanya? Kenapa bisa??. Tak ingin berpikir panjang, ia menghiraukannya saja. Ternyata, usut ambil usut, buku diary malam itu terbaca semua oleh ibunda dan diketahui oleh ayahanda, ia menangis setelah ibu menasehatinya. Tidak pernah menyangka akan terbaca, kali ini ia benar - benar kecewa dan trauma, kemudian ia merobek - robek kertas diary hingga berubah menjadi  kepingan - kepingan yang sulit dibaca, kemudian memasukkannya kedalam botol yang berisi air dan mengocoknya hingga berulang kali. Selama dua hari, botol berisi kertas itu masih terjaga di tas  sekolahnya, kemudian baru ia membuangnya di tong sampah. ^_^....
Namun ternyata, mogok menulis diary hanya berlangsung 1 tahun saja, kemudian kumulai membuka kembali lembaran diary baru ketika pertama kali masuk pesantren, bagiku diary teman curhat yang luar biasa. Dan nulis diary pun berlanjut hingga lulus KMI dan pengabdian di Gontor Putri. Sekarang ini aku mulai belajar menulis karya ilmiah ataupun non ilmiah yang dapat dibaca orang lain. Motivasi menulis datang dari orang tua. Papa selalu menyemangatiku untuk berlatih menulis, menuliskan apa yang terekam dalam pikiran dan apa saja yang kusuka, tentunya dengan kata - kata yang dapatku bagi untuk sesama. Selain itu, orangtuaku sangat menganjurkan untuk rajin membaca, karena dengan membaca, manusia akan bertambah wawasan dan ilmu pengetahuannya. Dan membaca itulah proses awal dari terciptanya sebuah tulisan yang siap disajikan. Banyak penulis lahir karena banyak membaca. Dalam sebuah buku dikatakan, "Penulis yang hebat berarti pembaca yang hebat, pembaca yang hebat belum tentu penulis yang hebat", berarti penulis - penulis besar seperti Pramoedya A, Emha Ainun Nadjib, Afifah Afra, Syafi'i Antonio, dll, semuanya terlahir setelah membaca. Kini aku harus membaca dan mulai menulis. Dalam proses berlatih menulis,  banyak kesulitan yang ku alami, godaan malas dan bisikan  syeitan untuk menunda - nunda selalu menghampiri, sampai aku pernah bertanya - tanya, "Sebenarnya, kenapa sih harus nulis?", Dalam hati aku ingin sekali menghasilkan karya tulis, tapi mengapa sulit sekali? Di kala putus asa melanda, aku bertanya pada papa dan mama tentang pendapatnya mengenai tulisan, "Pah, mah, motivasi menulis untuk papa dan mama sendiri apa?" , jawaban papa lebih singkat dan padat, "Tulisan lebih abadi daripada ucapan", begitupula mama berpendapat sama dengan papa tetapi dengan cara menjawab yang berbeda.  Kemudian aku mencari argumen lain tentang menulis, ku aduk - aduk isi berbagai macam buku bacaan, mencari jawaban yang memberikanku motivasi lebih dalam menulis. Pak Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul  "Dia Dimana - mana"  mengatakan bahwa Tulisan merupakan anugerah besar atau revolusi budaya besar bagi manusia. Menurutnya, dengan tulisan, manusia mampu mentransfer dengan jelas pengetahuaannya kepada generasi sesudahnya, dengannya juga, manusia, walaupun telah meninggalkan bumi, tetap mampu berdialog dengan orang lain yang masih hidup. Akupun merenung, "Mmm, betul juga.. tulisan menjadi jejak ilmu pengetahuan peninggalan seseorang yang bermanfaat untuk banyak orang.." Selain itu, aku mengutip sebuah kata mutiara yang terdapat dalam buku "Spiritual Kemanusiaan" karya KH.Husein Muhammad, "Al-Qalam abqa' atsaran wa al-lisaan aktsar hadzaran" (Jejak goresan pena lebih abadi, suara lidah sering bagai ngigau), seorang teman menambahkan, "Maa Kaatibu Qorro wa maa haafidzuu farro" ( Apa yang ditulis abadi dan apa yang di hafal akan lepas), memang sejauh ini sudah terbukti, bahwa wujud tulisan lebih abadi daripada ucapan, tulisan dapat dinikmati oleh seluruh manusia di muka bumi ini, tetapi tidak dengan ucapan yang terbatas dengan waktu dan ruang. Sudah banyak sekali karya - karya para ulama, ilmuwan, tokoh masa lalu yang diterbitkan dan masih dapat dikonsumsi hingga sekarang, walaupun sang penulis sudah kembali ke hadirat Illahi. Tulisan yang paling agung dan menjadi pedoman hidup umat Islam yang merupakan salahsatu dari dua perkara berharga yang ditinggalkan Rasulullah sebelum wafatnya yaitu kitab suci Al - Qur'an. Subhanallah, Yang telah menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya, dan tidaklah Ia menciptakannya dengan main  - main, kecuali dengan kebenaran, tetapi kebanyakan dari manusia tidak mengetahuinya. Selain itu, aku kemudian bertanya, "Apa yang harus ku tulis??", guru menulisku menjawab, "Tulis apa saja yang kamu suka, menulis itu tidak berkaitan dengan benar atau salah, tetapi enak atau tidaknya tulisan itu dibaca orang lain. Kalau berkaitan dengan benar atau salah, berarti ada hukuman donk...". Oke!!.. Bagaimana caranya agar aku bisa menulis?? Kakak di kamarku menjawab, "Caranya ada tiga....: Menulis, menulis dan menulis..!!". Seperti halnya berbahasa, kita akan mahir dalam bahasa tertentu karena kita terbiasa mempraktekannya, begitu juga menulis, percuma belajar banyak teori tanpa aplikasi dalam kehidupan sehari - hari. Aku mulai bangkit kembali dari keputusasaan yang berkepanjangan, "I Must Writing", bagiku menulis adalah kewajiban. Dan aku bersyukur memiliki banyak saudara dan teman yang selalu mendukung dalam tiap - tiap langkahku. Selama di Krapyak, banyak ilmu baru yang kudapat dari kakak dan teman - temanku, aku senang berbagi, aku sangat sangat bersyukur karena semuanya  selalu siap sedia hadir membantu, memberi masukan, komentar, kritik dan saran mengenai tulisan. Semoga Allah membalasnya dengan beribu kebaikan. Aamiin...




Senin, 25 Februari 2013

Tragedi box biru...

Box biru adalah box kharismatik yang dimiliki setiap santriwati di komplek Q. Box yang sangat dibutuhkan oleh  semua santri, tanpanya nasi untuk makan sore tidak dapat dinikmati. Box ini digunakan untuk mengambil nasi yang dibagikan mbak ndalem untuk seluruh santriwati di sore hari. Satu box memuat kapasitas nasi 5 porsi, oleh karena itu santri tidak perlu untuk mengumpulkan box satu per-satu, cukup dengan perwakilan kamar saja. Box pribadi berganti status menjadi box bersama. Mekanisme pengumpulan box yaitu petugas piket cuci piring berkenan untuk mengumpulkan box di ndalem dengan melampirkan tulisan kecil di kertas dengan nama kamar dan porsi nasi. Misalnya , "2C 12 porsi".  Box yang sudah terkumpul bertumpuk menjadi satu di dapur. Sistem yang ada seperti ini mengakibatkan adanya kejadian negatif yang sulit dihindari oleh santriwati."Ghasab"  yang bermakna meminjam barang  tanpa sepengetahuan pemiliknya, adalah penamaan yang tepat bagi kejadian yang sering berlangsung akhir - akhir ini. Salah satu korbannya adalah kamar 2C. Kronologi kejadian yaitu ketika 2 box biru milik 2C menghilang dari tempat pembagian, sang petugas piket kebingungan harus berbuat apa, kemudian ia melihat ada 2 box sisa di dapur, mungkin karena ia mengira bahwa box tertukar, akhirnya 2 box terakhir diambilnya dan menjadi jatah nasi sore 2C. Selang sehari setelah itu, terjadilah perkara yang tak diduga - duga. Ternyata 2 box terakhir kemarin masih berpemilik, sang pemilik ternyata belum ikhlas dengan hilangnya box di sore itu, karena katanya mereka tidak mendapat jatah nasi hingga esok hari, selain itu ada juga yang menganggap 2C tidak berkeperimanusiaan. Salah satu personil 2C yang mendengar itu diam tak berkutik, hanya mendengar kemudian pergi. Karena itu, 2C harus rela atas hilangnya box dan menerima anggapan yang menyakitkan yang tidak pernah disangka - sangka. Untuk memecahkan permasalahan, ketua kamar merembuk dengan anggota tentang rencana ke depan terkait box kamar yang hilang. Poin positif pertama dari masalah yang terjadi, terciptanya suasana kamar yang suka akan musyawarah. Salah satu anggota kamar yang tinggal di sekitar Jogja bersedia untuk mengambil box sisa di rumahnya, anggota lain mengiyakan. Tetapi rencana itu tidak disetujui kemudian setelah mengetahui bahwa dia baru akan pulang 4 hari kemudian. Usulan lainnya kemudian muncul satu persatu, usulan untuk membeli yang baru, usulan untuk pinjam terlebih dahulu dan usulan yang diterima keseluruhan yaitu untuk meminta box sisa di ndalem dan mengecatnya. Sore itu juga perwakilan dari kamar meminta 2 box biru baru dan membeli piloks berwarna ungu. Box biru keesokan harinya seketika berubah menjadi anggun nan elok, dengan tulisan 2C yang menempel di bagian pinggirnya. Keadaan setelah itu kembali stabil. Poin positif kedua, masalah melatih seseorang berpikir dewasa dan dari masalah muncullah kreatifitas santri yang tersembunyi. Siapa sangka bakal ada yang santri yang amat peduli pada boxnya sampai rela tangannya terkotori piloks sampai celemotan. Setelah itu, keadaan berubah labil kembali setelah mengetahui box ungu nan indah itu menghilang lagi. Astaghfirullaha-l-'adziim...

Rabu, 13 Februari 2013

Mengenal hidup..

Inilah yang dinamakan hidup, selalu ada hal unik dan menarik yang terjadi dalam kehidupan sehari - hari. Ada yang di sengaja dan ada yang tak disangka - sangka. Itulah yang sering ku renungi hari - hari ini. Dulu, aku hanya bisa melihat dan meraba, kini aku belajar untuk memperhatikan, mencoba untuk memaknai berbagai kejadian yang ku alami. Manis, asin, pahit, pedas dan asamnya hidup bercampur jadi satu. Awalnya  aku hanya memandang semua itu hanya dari satu sisi, lebih mengedepankan ego daripada maslahat. Tapi, keberadaan orang tua, guru dan orang - orang di sekitar menyadarkanku akan banyaknya hal positif yang ada di balik itu semua. Karena di setiap kejadian pasti ada hikmahnya.