Sebagai
perempuan, saya musti bersyukur karena banyak kalangan, lembaga masyarakat,
pihak yang memperjuangkan hak – hak perempuan. Dan saya pun merasakan itu.
Perempuan dibela habis – habisan!.
Kita
tahu, sejarah menceritakan bahwa pada masa jahiliyyah, peran wanita sering
dimarjinalkan. Layaknya hewan peliharaan, perempuan dengan mudah diperlakukan
semaunya oleh para kaum adam. Begitupula sebelum datangnya Islam, perempuan di
berbagai belahan Negara, dianggap menjijikan, tidak suci, seringkali dikatakan
sebagai najis yang dapat mengotori kehidupan. Naudzubillah. Perempuan seperti
tidak mempunyai harga diri. Namun Islam datang membawa kedamaian, kasih sayang,
ajaran yang tidak membedakan derajat laki – laki maupun perempuan. Di hadapan
Allah, semua hamba sama derajatnya. Keunggulan – keunggulan laki – laki atas
perempuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, saya yakini, tidak bermaksud mendiskriminasi
kedudukan perempuan. Keunggulan itu merupakan perbedaan, dan perbedaan adalah
suatu niscaya. Memahami sebuah ayat tidak cukup mengartikannya secara tekstual,
namun diperlukan kontekstualisasi, dan mengaitkannya dengan nilai – nilai kesantunan.
Karena Islam agama yang santun dan ramah.
Dan
kini, perjuangan Rasul dalam membawa misi perdamaian di seluruh alam, termasuk
didalamnya memuliakan kedudukan perempuan, lalu diikuti para sahabat, para tabi’in,
kemudian ulama – ulama terdahulu dan ulama sekarang, sudah dapat kita petik
manis hasilnya sekarang. Namun pembelaan terhadap perempuan belum tuntas. Kita
dihadapkan kembali pada pemikiran –
pemikiran yang muncul akibat kedangkalan pengetahuan dalam memahami nash Al-Qur’an
maupun hadits. Belum lagi budaya patriarkhi yang telah mengakar pada sebuah
kelompok masyarakat. Ini permasalahan lain.
![]() |
| www.rumah keluarga-Indonesia.com |
Melihat
besarnya pembelaan terhadap perempuan, seharusnya menjadi cambukan bagi
perempuan itu sendiri untuk menyadari bahwa ia begitu dimuliakan. Sayangnya
masih ada yang belum “tahu” itu. Meski sudah diperjuangkan hak – haknya, masih ada
perempuan yang tidak merasa. Kondisi yang tenang tanpa ada “peperangan”
terkadang melenakan. Tantangan bagi perempuan adalah mempertahankan perjuangan
sang pembela. Tentang bagaimana perempuan berusaha menjadi apa yang diharapkan
oleh orang – orang yang memperjuangkannya. Berkarya, berprestasi, tidak menghabiskan
waktu untuk hal – hal yang tak berguna. Tetap menjadi diri sendiri, namun
bermanfaat bagi orang lain. Tidak berarti perempuan menjadi budak sang pembela,
bukan. Tapi kesempatan emas setelah dibela hendaknya dimanfaatkan dengan baik.
Ketika dunia membuka mata, memberi ruang gerak bagi wanita, saatnya ia
menggunakan kesempatan itu untuk mengemukakan aspirasinya, menghiasi kehidupan
dengan pemikiran – pemikiran cerdasnya. Ia gunakan kesempatan itu untuk berprestasi,
berkarya. Dan yang pasti, di sisi lain ia pun harus tetap menjadi hamba Allah
yang taat, meski telah merdeka, tapi tetap interaksi dan pergaulan dalam
koridor syari’at Islam. Jangan sampai pembelaan ini disalahgunakan.


