Kamis, 24 April 2014

Pembelaan Tidak Untuk Disalahgunakan



Sebagai perempuan, saya musti bersyukur karena banyak kalangan, lembaga masyarakat, pihak yang memperjuangkan hak – hak perempuan. Dan saya pun merasakan itu. Perempuan dibela habis – habisan!.
 
Kita tahu, sejarah menceritakan bahwa pada masa jahiliyyah, peran wanita sering dimarjinalkan. Layaknya hewan peliharaan, perempuan dengan mudah diperlakukan semaunya oleh para kaum adam. Begitupula sebelum datangnya Islam, perempuan di berbagai belahan Negara, dianggap menjijikan, tidak suci, seringkali dikatakan sebagai najis yang dapat mengotori kehidupan. Naudzubillah. Perempuan seperti tidak mempunyai harga diri. Namun Islam datang membawa kedamaian, kasih sayang, ajaran yang tidak membedakan derajat laki – laki maupun perempuan. Di hadapan Allah, semua hamba sama derajatnya. Keunggulan – keunggulan laki – laki atas perempuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, saya yakini, tidak bermaksud mendiskriminasi kedudukan perempuan. Keunggulan itu merupakan perbedaan, dan perbedaan adalah suatu niscaya. Memahami sebuah ayat tidak cukup mengartikannya secara tekstual, namun diperlukan kontekstualisasi, dan mengaitkannya dengan nilai – nilai kesantunan. Karena Islam agama yang santun dan ramah.
Dan kini, perjuangan Rasul dalam membawa misi perdamaian di seluruh alam, termasuk didalamnya memuliakan kedudukan perempuan, lalu diikuti para sahabat, para tabi’in, kemudian ulama – ulama terdahulu dan ulama sekarang, sudah dapat kita petik manis hasilnya sekarang. Namun pembelaan terhadap perempuan belum tuntas. Kita dihadapkan  kembali pada pemikiran – pemikiran yang muncul akibat kedangkalan pengetahuan dalam memahami nash Al-Qur’an maupun hadits. Belum lagi budaya patriarkhi yang telah mengakar pada sebuah kelompok masyarakat. Ini permasalahan lain.

www.rumah keluarga-Indonesia.com
Melihat besarnya pembelaan terhadap perempuan, seharusnya menjadi cambukan bagi perempuan itu sendiri untuk menyadari bahwa ia begitu dimuliakan. Sayangnya masih ada yang belum “tahu” itu. Meski sudah diperjuangkan hak – haknya, masih ada perempuan yang tidak merasa. Kondisi yang tenang tanpa ada “peperangan” terkadang melenakan. Tantangan bagi perempuan adalah mempertahankan perjuangan sang pembela. Tentang bagaimana perempuan berusaha menjadi apa yang diharapkan oleh orang – orang yang memperjuangkannya. Berkarya, berprestasi, tidak menghabiskan waktu untuk hal – hal yang tak berguna. Tetap menjadi diri sendiri, namun bermanfaat bagi orang lain. Tidak berarti perempuan menjadi budak sang pembela, bukan. Tapi kesempatan emas setelah dibela hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Ketika dunia membuka mata, memberi ruang gerak bagi wanita, saatnya ia menggunakan kesempatan itu untuk mengemukakan aspirasinya, menghiasi kehidupan dengan pemikiran – pemikiran cerdasnya. Ia gunakan kesempatan itu untuk berprestasi, berkarya. Dan yang pasti, di sisi lain ia pun harus tetap menjadi hamba Allah yang taat, meski telah merdeka, tapi tetap interaksi dan pergaulan dalam koridor syari’at Islam. Jangan sampai pembelaan ini disalahgunakan.

Rabu, 26 Maret 2014

Bukan Hanya Aku

Kuyakin... bukan hanya aku yang tahu
Kuyakin... bukan hanya aku yang baca
Kuyakin... bukan hanya aku yang suka
Kuyakin... bukan hanya aku yang nyaman
Kuyakin... bukan hanya aku yang bahagia
Kuyakin... bukan hanya aku yang banyak bicara
Kuyakin... bukan hanya aku yang cinta
Kuyakin... bukan hanya aku yang berharap
Kuyakin... bukan hanya aku yang bersedih
Kuyakin... bukan hanya aku yang ................................

Bukan hanya aku... mereka juga.... untuk itu, aku harus bersikap tidak "terlalu", aku harus biasa saja. Mengharap dan memberi harapan, kedua - duanya hanya akan menyakitkan.....

:) :) :).... Hanya Coretan, Jangan dianggap serius...:D...

Bacalah! Maka Kau akan Bahagia :)



Tutay, Titis, Fahma at Gontor Putri's Library
            Membaca dalam istilah bahasa Arab yaitu Qara a’, yang merupakan himpunan dari 3 huruf hijaiyyah, Qaaf, Raa dan Alif.  Istilah ini muncul pertama kali ketika diturunkan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau sedang menyendiri (ikhtilaa’) di Gua Hira. Wahyu yang disampaikan melalui malaikat Jibril itu berbunyi , “Iqro’ Bismi Rabbika al-ladzii kholaqa....”(Q.S. Al-‘Alaq [  ]:1-5). Kata pertama dari ayat tersebut yaitu Iqro’ yang berarti bacalah. Ketika menyampaikan wahyu, Malaikat Jibril mengulang kata ini sebanyak 2 kali kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad saat itu belum mengenal baca tulis hanya dapat berkata “Maa Anaa bi qoori’”,  “Aku tidak bisa membaca”. Hingga kali terakhir, Malaikat Jibril menambahkan “Iqro’ bismi Robbika al-ladzii kholaqo..”, “Bacalah dengan (menyebut ) nama Tuhanmu yang telah menciptakan”. Perintah membaca ini tidak terfokus pada satu objek bacaan, tetapi kembali pada tujuan dan motivasi awal yaitu Bismi Robbika al-ladziii kholaqa. Dapat disimpulkan bahwa perintah membaca ini semata – mata dilakukan demi karena Allah SWT. Iqro’ disini bukan hanya mengandung arti bacalah dalam pengertian sempit. Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Wahyu Illahi bahwa Iqro’ juga berarti “telitilah, dalamilah”. Jangan seperti “melek walang”, matanya terbuka tapi hanya sia – sia, hanya melihat tanpa memperhatikan. Iqro juga bukan hanya sekedar perintah untuk membaca yang tersurat seperti surat atau tulisan yang dicetak diatas lembaran – lembaran kertas  yang kemudian dibukukan, tetapi  juga membaca yang tersirat yaitu memahami makna yang tersembunyi dari apa yang terjadi, seperti tingkah laku seseorang, gejala alam, dinamika kehidupan, dll.
            Membaca yang tersurat sudah banyak dilakukan walaupun kenyataannya belum membudaya di kalangan masyarakat. Di era modern seperti sekarang ini, sangat mudah sekali untuk menemukan tulisan yang dirangkum dalam berbagai ragam dan bentuk. Sudah banyak penulis yang menghasilkan karya – karya ilmiah maupun non ilmiah yang disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat. Juga banyak tulisan yang disalurkan melalui media, seperti: majalah, Koran, internet, dll. Sebagai masyarakat yang cerdas dan kreatif, hendaknya membaca bacaan yang berkualitas dan mendidik sehingga memberikan dampak positif untuk kepribadiannya, dan membaca  disertai dengan pemahaman dan pendalaman, tidak hanya membaca teksnya saja tapi juga mendalami kandungan isinya. Terutama dalam membaca Al – Qur’an. Mengapa harus membaca? Banyak jawaban yang dikemukakan, antara lain untuk :
a)      Memahami manusia atau alam raya,
b)      Menghabiskan waktu penantian,
c)      Menguji kecerdasan,
d)      Mengundang kantuk,
e)      Mendalami profesi,
f)       Mengetahui perkembangan mutakhir
g)      Mengembangkan kepribadian dan lain – lain.

Membaca adalah salah satu wujud syukur atas panca indera yang diberikan Allah SWT. Dengan membaca, manusia akan bertambah wawasan dan ilmu pengetahuannya. Dari membaca lahirlah Ilmuwan ternama, tokoh – tokoh besar, guru – guru teladan, penguasa yang bijak, orangtua yang berpendidikan dan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berpengetahuan.
            Selain itu adalah membaca yang tersirat atau memahami makna yang tersembunyi dari apa yang terjadi di kehidupan. Seperti halnya tingkah laku. Hakikat manusia adalah sebagai makhluk social yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan pertolongan orang lain. Untuk itu  perlu adanya proses interaksi antar satu sama lain, dengan itulah masing – masing dapat memenuhi berbagai hal yang dibutuhkannya. Dalam proses interaksi, seseorang harus bisa memahami kepribadian orang lain yang dihadapinya. Ia harus belajar tentang bagaimana menghadapi karakter orang yang berbeda – beda tanpa membeda – bedakan kedudukan maupun harta, yang kaya atau yang miskin, yang pintar atau yang bodoh, dll. Ini perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi proses interaksi social yang merupakan cikal bakal ikatan silaturrahim antar sesama. Silaturrahim sangat dianjurkan dalam agama, sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupannya. Seperti sabda Rasulullah dalam satu hadits, “Wa Shiiluu Al-Arhaam..”, “Dan hubungkanlah tali silaturrahim”. Jika tidak ada yang mencoba untuk memahami, maka akan mengakibatkan kesalahpahaman yang berujung pada perpecahan diantara keduabelah pihak. “Satu terluka, yang lain ikut merasa”, ini merupakan gambaran dari perpecahan yang terjadi, walau hanya satu yang tersakiti tapi sakit itu akan menjalar kepada orang – orang terdekatnya, timbullah rasa benci, dendam, maupun iri dengki, maka hidup keduanya tidak akan bahagia, Naudzubillah. Hal ini banyak terjadi akibat mengabaikan perintah Allah untuk membaca. 
            Peduli lingkungan berarti mensyukuri ciptaan Tuhan. Selain memahami tingkah laku, manusia diperintahkan Allah untuk men-tadabburi­ alam. Penciptaan langit, bumi, tumbuh – tumbuhan, binatang, dan semua yang terhampar di alam semesta oleh Allah, hendaknya dijadikan manusia sebagai sarana untuk merenungi kekuasaan Dzat Yang Maha Agung. “(Yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia – sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari Azab Neraka” ( QS. Ali Imron [3]: 191 ). Orang – orang berakal membaca alam semesta dan se-isinya disertai dengan tafakkur dan tadzakkur menyadari keagungan Allah SWT sehingga ia selalu bersyukur dalam kehidupannya. Ayat – ayat Allah yang tercipta di alam semesta tidak dijadikannya sebagai tujuan untuk meraih kenikmatan duniawi, materi atau kekuasaan. Naudzubillah.  Maka sesungguhnya dengan tafakkur, tadzakkur, penelitian dan pendalaman akan bacaan yang tersurat maupun yang tersirat  manusia dapat meraih sebanyak mungkin kebahagiaan. Sekian.Wallahu a’lam.

Oleh : F@
           
           

Pesan Singkat Untuk Kita

Kejadian tragis yang dialami beberapa remaja akhir - akhir ini sangat memilukan. Sebagai pemudi yang tak jauh usianya dari mereka, saya turut bersedih akan perilaku teman - teman remaja yang semakin tak terlihat sopan santun dan akhlaknya.

Belum lama Ade Sara jadi korban pembunuhan mantan kekasih yang bersekongkol dengan kekasih barunya. Beberapa hari yang lalu, lagi - lagi ditemukan jasad pemudi yang bernama Mia Nuraini, tergeletak bersimbah darah di depan rumah warga. Diduga (dan memang kenyataannya) Mia tewas karena dikeroyok 8 orang pemuda, diantara mereka ada 2 pemudi, dan Mia dipukul 8 orang itu menggunakan gir motor di kepalanya. Naudzubillah.....

Saya pun bertanya - tanya, sebenarnya ini salah siapa????

Sejak kasus - kasus itu dipublikasikan, terutama di dunia maya, banyak orang yang berkomentar, berargumen, berbondong - bondong mencaci maki si pelaku pembunuhan. Namun, adakah orang yang menganalisis akar penyebab perilaku anak - anak tersebut??

Mengapa Ade Sara ataupun Mia bisa terbunuh?

Pergaulan. Ya, mungkin pergaulanlah yang menyebabkan mereka terseret hingga jurang kematian. Mungkinkan itu terjadi jika mereka mampu menjaga diri?. Wallahu 'alam. Ketika saya mendengar berita tentang Mia itu, yang langsung terbesit dalam pikiran saya, "Sedang apa Mia di luar malam hari? dengan siapa?".

Kita tidak bisa meremehkan budaya leluhur kita yang mengatakan bahwa seorang perempuan itu, dalam sunda  "Pamali" , atau jawa "Saru", kalau mereka keluar malam. Bagi saya, itu bukan hanya kepercayaan semu, pesan leluhur kita itu tak luput dari sifat rahiim mereka akan keturunannya. Wanita itu ibarat mutiara dalam kerang, begitu berharga dan harus selalu "dijaga".  Ini bukan berarti adanya diskriminasi terhadap kebebasan wanita. Sama sekali bukan!. Ini hanya sebagai saran agar wanita tetap bisa terjaga.

Mia keluar dengan kekasihnya. Begitu yang diberitakan dalam media. Sebagai wanita, hati saya begitu tersayat saat tahu Mia berduaan dengan pacarnya. Murah sekali jasadnya, hingga ia memperbolehkan seorang lelaki bukan mahram menyentuhnya. Pernah saya katakan saat pengajian ibu - ibu di rumah. Jika seorang wanita memperbolehkan lelaki bukan mahram menyentuh tangannya, maka itu akan membuka peluang bagi laki - laki tersebut untuk menyentuh lebih daripada itu. Menurut saya.

Kemudian saya kembali bertanya, mengapa Mia seperti itu?, bisa jadi karena pengaruh lingkungan, atau karena kurangnya pengawasan dari orangtua. Lingkungan menjadi salah satu faktor pendukung dalam pembentukan kepribadian seseorang, namun keluarga lebih utama dari lingkungan sekitar. Maka, untuk dapat membentuk kepribadian yang bermoral, berakhlak mulia hendaknya dimulai dari keluarga. Keluarga yang terhormat akan melahirkan keturunan yang terhormat pula. Kehormatan itu tidak diukur dari seberapa harta yang dipunya, juga tidak dilihat dari keturunana siapa, bangsa apa?. I Think Not. Kehormatan itu dapat kita temukan dalam pelajaran agama yang selalu mengajak umatnya menjadi hamba Allah Yang Mulia. Dan Yang Terhormat adalah yang mulia dihadapan-Nya.

Saya bukan ahli penganalisis. Saya hanya bisa berkata sedikit saja. Yang ingin saya tegaskan sekali lagi, dalam rangka berbagi dengan  sesama, kejadian naas yang ditemukan akhir - akhir ini, hendaklah kita jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Siapa yang seharusnya berperan dalam pembentukan pribadi anak - anak? tentunya kita semua. Bukan hanya orangtua, atau pemerintah yang sering didemo saja. Tapi kita semua, kita semua.

Kepada orangtua yang sudah banyak pengalamannya, sepatutnya untuk memikirkan keturunannya, tidak hanya berkutat pada masalah pribadinya saja. Ya memang, jika seseorang ingin memperbaiki orang lain, maka ia harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Tapi kalau terus - terusan memikirikan diri sendiri juga tidak baik. Khairu al-Umuuri ausathuhaa, sebaik - baiknya perkara adalah tengah - tengahnya. Intinya biasa - biasa saja. Kalaupun sulit ditinggalkan, tapi jagan sampai menelantarkan anak - anaknya. Naudzubillah.

Kepada remaja, masa muda adalah masa keemasan. Sayang sekali jika hanya digunakan untuk hura - hura atau dengan lamunan tanpa makna. Bergeraklah! Kreatifitas tidak hanya ditemukan dalam sekolah formal. Kreatifitas dapat kita temukan di setiap detik kehidupan. Jangan memforsir pikiran hanya untuk perkara asmara.





Minggu, 23 Maret 2014

Ingat Kalau Kita Santri!



Ada yang terlewatkan dari hikmah kisah muharroman dan komplek meeting satu bulan yang lalu.   
Hampir setiap santri, jika ditanya apa manfaat dari komplek meeting? Ya tentu saja sebagai perekat tali silaturrahim antar santri, khususnya di wilayah Krapyak ini.  Namun ternyata, manfaat acara tersebut bukan hanya itu saja.  Hal ini seperti yang disampaikan oleh Pak As’ad Syamsul Arifin atau yang akrab dipanggil Kang As’ad, salah satu dari tiga ketua pondok pesantren Al-Munawwir, saat penutupan acara muharroman dan komplek meeting. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa acara muharroman bukan sebatas forum silaturrahim saja, tetapi juga sebagai pengingat dan penolak lupa identitas kita sebagai seorang muslim,  seorang santri.  Mungkin sebagian besar lupa akan identitasnya sebagai seorang muslim dan seorang santri, karena telah larut dalam kehidupan di luar yang berpotensi membuat kita lupa akan identitas diri kita sebenarnya. Maka dari itu, acara ini ada agar kita ingat kembali, “siapakah diri kita sebenarnya?”.  Poin lain yang disampaikan Kang As’ad adalah mengenai hijrah.  Jika dahulu Nabi Muhammad SAW berhijrah dari satu tempat ke tempat lain untuk berdakwah dan beribadah, maka hijrah kita sekarang adalah hijrah dari kebodohan menuju keilmuan, “Min adz-dzulumaati ilaa an-nuuri”, Dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Sekian.

Rabu, 19 Maret 2014

Siapakah "Ustadz" Itu?



Fenomena yang banyak kita temukan sekarang adalah maraknya kehadiran sosok – sosok baru yang muncul di berbagai media yang mengatasnamakan dirinya sebagai Ustadz. Kehadirannya memunculkan pro kontra yang bersifat negative dari berbagai kalangan dan pandangan para ulama dan tokoh – tokoh masyarakat. Jika kita ingin benar – benar mempelajari makna sebenarnya dari Ustadz, maka kita akan mengetahui bahwa Ustadz  memiliki banyak pengertian. Secara umum, ustadz bisa diartikan sebagai guru atau pendidik. Dalam khazanah Arab, Guru memiliki beberapa istilah yaitu mudarris, mu’allim, muaddib, musyrif, murobbi, mursyid dan ustadz.  Mudarris artinya guru yang apabila di spesifikasikan maka akan berarti sebagi orang yang mengajar suatu materi. Kata Mu’allim artinya pemberi tahu, guru merupakan seorang yang dapat menjadikan muridnya tahu akan ilmu – ilmu baru, dalam hal ini, seorang guru diharapkan bisa melakukan transformasi nilai – nilai pendidikan pada muridnya dengan baik. Sedangkan kata Muaddib atau musyrif dapat diartikan sebagai guru dengan spesifikasi makna yaitu orang yang mengajarkan adab (moral) dan etika, sehingga ia mampu menumbuhkan sifat terpuji dan akhlak mulia dalam diri muridnya. Murobbi dapat dispesifikasikan sebagai seorang pendidik yang dapat mendidik manusia dalam bentuk apapun, seorang murobbi bagaikan petani yang menanam benih dan ia harus bertanggung jawab atas benih yang ia tanam sehingga ia akan memetik hasilnya. Dan Mursyid memiliki makna yang sama dengan murobbi tapi jangkauan seorang mursyid lebih luas daripada murobbi, karena mursyid dapat berarti keberadaannya sebagai pendidik bagi masyarakat keseluruhan tapi murobbi lebih identik pada pendidikan terhadap beberapa murid saja. Itulah beberapa istilah yang digunakan sebagai sebutan bagi sang guru. Inti dari keseluruhannya, berarti bahwa seorang ustadz itu merupakan guru yang mampu untuk memberikan banyak pengetahuan baru, seorang pendidik yang bagi masyarakat dengan menerapkan benih – benih akhlak mulia dan kebiasaan positif serta sifat terpuji. Ia adalah seorang guru yang dapat digugu dan ditiru, suri tauladannya sangat dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat dan akan sangat berpengaruh pada kehidupannya kelak. Di beberapa Negara Arab, ustadz merupakan julukan bagi seorang profesor.

Namun, di era modern sekarang ini begitu mudah sekali untuk memberikan sebutan ustadz pada seseorang. Masyarakat kita kurang akan pengetahuan tentang makna sebenarnya dari ustadz, sebagian beranggapan bahwa ustadz adalah orang yang menggunakan sorban dan kopiah, atau orang yang berbicara tentang agama tanpa diketahui apakah pernyataan itu benar atau salah. Sebagian mengatakan bahwa ustadz adalah orang yang selalu membawa tasbih kemana – mana padahal mereka tidak tahu apa yang ia gunakan dengan tasbih tersebut. Dan banyak lagi anggapan yang dilontarkan oleh masyarakat tentang ustadz.  Fenomena tersebut dijadikan beberapa orang untuk menuai sebuah usaha demi mencapai ketenaran yang berpuncak pada kekayaan harta semata, seperti yang kita lihat di berbagai media masa dari surat kabar hingga televisi, beberapa orang memperkenalkan dirinya sebagai ustadz dan mereka berpenampilan yang dianggapnya sebagai salah satu identitas seorang ustadz, seperti memakai sorban dan kopiah dengan tasbih yang selalu ada di tangannya, berbicara banyak hal tentang agama tapi belum faham sepenuhnya tentang apa yang ia bicarakan di depan khalayak ramai, hanya sekedar berbekal gaya dan perilaku khas masing – masing yang berbeda dari yang lain dengan gayanya yang sok alim tapi berlawanan dengan kehidupan nyatanya. Mereka banyak dikagumi oleh masyarakat karena ketenaran dan selalu mampang di media masa bukan karena suri tauladan atau ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dan karena itu pula, merekapun menjadikan ustadz sebagai profesi untuk mencari kekayaan dan ketenaran bukan karena keterpanggilan untuk menjadi mujaddid atau seorang yang dapat merubah pola kehidupan umatnya yang semakin lama semakin memilukan. Hal – hal seperti ini begitu merendahkan citra ustadz yang sebenarnya. 

Keberadaan media masa saat ini sangat sedikit nilai positifnya dibandingkan dengan nilai - nilai negative yang ada di dalamnya. Kebanyakan orang bisa cepat terpengaruh oleh beberapa sajian yang ada di media, contohnya saja dari televisi seorang anak kecil bisa berubah perilakunya menjadi lebih berani kepada orang lain dalam sisi negative. Anak kecil yang tidak tahu apa itu memukul tapi setelah melihat tayangan televisi ia jadi sering memukul. Keprihatinan muncul karena banyaknya masyarakat yang lebih mengutamakan untuk mendengar ceramah dari televise daripada mendengar ceramah dari kyai  pada sebuah acara hajatan di rumah tetangganya, jika kita perhatikan betul – betul, ini bisa menjadi perusak bangunan kokoh persaudaraan antara umat manusia yang dianamakan silaturrahmi. Orang – orang lebih memilih berdiam di rumah karena merasa fasilitas di rumah lebih banyak memberikan informasi ketimbang berpergian ke luar dibawah sengatan terik matahari, padahal, keluar rumah bukan berarti kita hanya akan mendapatkan apa yang kita tuju tapi kita akan menemukan hal baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kembali pada contoh pertama, mendengar ceramah di hajatan tetangga bukan saja untuk mendengar ceramah itu sendiri, disamping itu kita akan bertemu dengan orang lain, maka dari itu terciptalah hubungan kekerabatan dan silaturrahmi antar sesama. Dan masih banyak lagi hikmah yang tersembunyi di balik hakikat kehidupan yang sudah diatur oleh Sang Maha  Pencipta. Adapun sebaliknya, ketika seorang ustadz televisi hadir dalam sebuah acara di suatu daerah, para pendudukpun berduyun – duyun ingin melihatnya, miris, mereka ingin bertemu dengannya hanya karena ia sering muncul di layar televise. Padahal, ustadz besar yang kharismatik tinggal di daerah mereka, namun jarang sekali yang hadir bersilaturrahmi kepadanya guna menambah ilmu atau mendapat barokah ibadahnya. Dan sekarang, apakah kita akan tetap mengagung – agungkan ustadz selebriti ketimbang ustadz haqiqi?... kesempurnaan itu hanya dari Allah dan kekurangan itu datang dari manusia itu sendiri. Wallahu a’lam.