Rabu, 19 Maret 2014

Siapakah "Ustadz" Itu?



Fenomena yang banyak kita temukan sekarang adalah maraknya kehadiran sosok – sosok baru yang muncul di berbagai media yang mengatasnamakan dirinya sebagai Ustadz. Kehadirannya memunculkan pro kontra yang bersifat negative dari berbagai kalangan dan pandangan para ulama dan tokoh – tokoh masyarakat. Jika kita ingin benar – benar mempelajari makna sebenarnya dari Ustadz, maka kita akan mengetahui bahwa Ustadz  memiliki banyak pengertian. Secara umum, ustadz bisa diartikan sebagai guru atau pendidik. Dalam khazanah Arab, Guru memiliki beberapa istilah yaitu mudarris, mu’allim, muaddib, musyrif, murobbi, mursyid dan ustadz.  Mudarris artinya guru yang apabila di spesifikasikan maka akan berarti sebagi orang yang mengajar suatu materi. Kata Mu’allim artinya pemberi tahu, guru merupakan seorang yang dapat menjadikan muridnya tahu akan ilmu – ilmu baru, dalam hal ini, seorang guru diharapkan bisa melakukan transformasi nilai – nilai pendidikan pada muridnya dengan baik. Sedangkan kata Muaddib atau musyrif dapat diartikan sebagai guru dengan spesifikasi makna yaitu orang yang mengajarkan adab (moral) dan etika, sehingga ia mampu menumbuhkan sifat terpuji dan akhlak mulia dalam diri muridnya. Murobbi dapat dispesifikasikan sebagai seorang pendidik yang dapat mendidik manusia dalam bentuk apapun, seorang murobbi bagaikan petani yang menanam benih dan ia harus bertanggung jawab atas benih yang ia tanam sehingga ia akan memetik hasilnya. Dan Mursyid memiliki makna yang sama dengan murobbi tapi jangkauan seorang mursyid lebih luas daripada murobbi, karena mursyid dapat berarti keberadaannya sebagai pendidik bagi masyarakat keseluruhan tapi murobbi lebih identik pada pendidikan terhadap beberapa murid saja. Itulah beberapa istilah yang digunakan sebagai sebutan bagi sang guru. Inti dari keseluruhannya, berarti bahwa seorang ustadz itu merupakan guru yang mampu untuk memberikan banyak pengetahuan baru, seorang pendidik yang bagi masyarakat dengan menerapkan benih – benih akhlak mulia dan kebiasaan positif serta sifat terpuji. Ia adalah seorang guru yang dapat digugu dan ditiru, suri tauladannya sangat dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat dan akan sangat berpengaruh pada kehidupannya kelak. Di beberapa Negara Arab, ustadz merupakan julukan bagi seorang profesor.

Namun, di era modern sekarang ini begitu mudah sekali untuk memberikan sebutan ustadz pada seseorang. Masyarakat kita kurang akan pengetahuan tentang makna sebenarnya dari ustadz, sebagian beranggapan bahwa ustadz adalah orang yang menggunakan sorban dan kopiah, atau orang yang berbicara tentang agama tanpa diketahui apakah pernyataan itu benar atau salah. Sebagian mengatakan bahwa ustadz adalah orang yang selalu membawa tasbih kemana – mana padahal mereka tidak tahu apa yang ia gunakan dengan tasbih tersebut. Dan banyak lagi anggapan yang dilontarkan oleh masyarakat tentang ustadz.  Fenomena tersebut dijadikan beberapa orang untuk menuai sebuah usaha demi mencapai ketenaran yang berpuncak pada kekayaan harta semata, seperti yang kita lihat di berbagai media masa dari surat kabar hingga televisi, beberapa orang memperkenalkan dirinya sebagai ustadz dan mereka berpenampilan yang dianggapnya sebagai salah satu identitas seorang ustadz, seperti memakai sorban dan kopiah dengan tasbih yang selalu ada di tangannya, berbicara banyak hal tentang agama tapi belum faham sepenuhnya tentang apa yang ia bicarakan di depan khalayak ramai, hanya sekedar berbekal gaya dan perilaku khas masing – masing yang berbeda dari yang lain dengan gayanya yang sok alim tapi berlawanan dengan kehidupan nyatanya. Mereka banyak dikagumi oleh masyarakat karena ketenaran dan selalu mampang di media masa bukan karena suri tauladan atau ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dan karena itu pula, merekapun menjadikan ustadz sebagai profesi untuk mencari kekayaan dan ketenaran bukan karena keterpanggilan untuk menjadi mujaddid atau seorang yang dapat merubah pola kehidupan umatnya yang semakin lama semakin memilukan. Hal – hal seperti ini begitu merendahkan citra ustadz yang sebenarnya. 

Keberadaan media masa saat ini sangat sedikit nilai positifnya dibandingkan dengan nilai - nilai negative yang ada di dalamnya. Kebanyakan orang bisa cepat terpengaruh oleh beberapa sajian yang ada di media, contohnya saja dari televisi seorang anak kecil bisa berubah perilakunya menjadi lebih berani kepada orang lain dalam sisi negative. Anak kecil yang tidak tahu apa itu memukul tapi setelah melihat tayangan televisi ia jadi sering memukul. Keprihatinan muncul karena banyaknya masyarakat yang lebih mengutamakan untuk mendengar ceramah dari televise daripada mendengar ceramah dari kyai  pada sebuah acara hajatan di rumah tetangganya, jika kita perhatikan betul – betul, ini bisa menjadi perusak bangunan kokoh persaudaraan antara umat manusia yang dianamakan silaturrahmi. Orang – orang lebih memilih berdiam di rumah karena merasa fasilitas di rumah lebih banyak memberikan informasi ketimbang berpergian ke luar dibawah sengatan terik matahari, padahal, keluar rumah bukan berarti kita hanya akan mendapatkan apa yang kita tuju tapi kita akan menemukan hal baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kembali pada contoh pertama, mendengar ceramah di hajatan tetangga bukan saja untuk mendengar ceramah itu sendiri, disamping itu kita akan bertemu dengan orang lain, maka dari itu terciptalah hubungan kekerabatan dan silaturrahmi antar sesama. Dan masih banyak lagi hikmah yang tersembunyi di balik hakikat kehidupan yang sudah diatur oleh Sang Maha  Pencipta. Adapun sebaliknya, ketika seorang ustadz televisi hadir dalam sebuah acara di suatu daerah, para pendudukpun berduyun – duyun ingin melihatnya, miris, mereka ingin bertemu dengannya hanya karena ia sering muncul di layar televise. Padahal, ustadz besar yang kharismatik tinggal di daerah mereka, namun jarang sekali yang hadir bersilaturrahmi kepadanya guna menambah ilmu atau mendapat barokah ibadahnya. Dan sekarang, apakah kita akan tetap mengagung – agungkan ustadz selebriti ketimbang ustadz haqiqi?... kesempurnaan itu hanya dari Allah dan kekurangan itu datang dari manusia itu sendiri. Wallahu a’lam.

1 komentar: