Kejadian tragis yang dialami beberapa remaja akhir - akhir ini sangat memilukan. Sebagai pemudi yang tak jauh usianya dari mereka, saya turut bersedih akan perilaku teman - teman remaja yang semakin tak terlihat sopan santun dan akhlaknya.
Belum lama Ade Sara jadi korban pembunuhan mantan kekasih yang bersekongkol dengan kekasih barunya. Beberapa hari yang lalu, lagi - lagi ditemukan jasad pemudi yang bernama Mia Nuraini, tergeletak bersimbah darah di depan rumah warga. Diduga (dan memang kenyataannya) Mia tewas karena dikeroyok 8 orang pemuda, diantara mereka ada 2 pemudi, dan Mia dipukul 8 orang itu menggunakan gir motor di kepalanya.
Naudzubillah.....
Saya pun bertanya - tanya, sebenarnya ini salah siapa????
Sejak kasus - kasus itu dipublikasikan, terutama di dunia maya, banyak orang yang berkomentar, berargumen, berbondong - bondong mencaci maki si pelaku pembunuhan. Namun, adakah orang yang menganalisis akar penyebab perilaku anak - anak tersebut??
Mengapa Ade Sara ataupun Mia bisa terbunuh?
Pergaulan. Ya, mungkin pergaulanlah yang menyebabkan mereka terseret hingga jurang kematian. Mungkinkan itu terjadi jika mereka mampu menjaga diri?. Wallahu 'alam. Ketika saya mendengar berita tentang Mia itu, yang langsung terbesit dalam pikiran saya,
"Sedang apa Mia di luar malam hari? dengan siapa?".
Kita tidak bisa meremehkan budaya leluhur kita yang mengatakan bahwa seorang perempuan itu, dalam sunda "
Pamali" , atau jawa
"Saru", kalau mereka keluar malam. Bagi saya, itu bukan hanya kepercayaan semu, pesan leluhur kita itu tak luput dari sifat rahiim mereka akan keturunannya. Wanita itu ibarat mutiara dalam kerang, begitu berharga dan harus selalu "dijaga". Ini bukan berarti adanya diskriminasi terhadap kebebasan wanita. Sama sekali bukan!. Ini hanya sebagai saran agar wanita tetap bisa terjaga.
Mia keluar dengan kekasihnya. Begitu yang diberitakan dalam media. Sebagai wanita, hati saya begitu tersayat saat tahu Mia berduaan dengan pacarnya. Murah sekali jasadnya, hingga ia memperbolehkan seorang lelaki bukan mahram menyentuhnya. Pernah saya katakan saat pengajian ibu - ibu di rumah. Jika seorang wanita memperbolehkan lelaki bukan mahram menyentuh tangannya, maka itu akan membuka peluang bagi laki - laki tersebut untuk menyentuh lebih daripada itu. Menurut saya.
Kemudian saya kembali bertanya, mengapa Mia seperti itu?, bisa jadi karena pengaruh lingkungan, atau karena kurangnya pengawasan dari orangtua. Lingkungan menjadi salah satu faktor pendukung dalam pembentukan kepribadian seseorang, namun keluarga lebih utama dari lingkungan sekitar. Maka, untuk dapat membentuk kepribadian yang bermoral, berakhlak mulia hendaknya dimulai dari keluarga. Keluarga yang terhormat akan melahirkan keturunan yang terhormat pula. Kehormatan itu tidak diukur dari seberapa harta yang dipunya, juga tidak dilihat dari keturunana siapa, bangsa apa?. I Think Not. Kehormatan itu dapat kita temukan dalam pelajaran agama yang selalu mengajak umatnya menjadi hamba Allah Yang Mulia. Dan Yang Terhormat adalah yang mulia dihadapan-Nya.
Saya bukan ahli penganalisis. Saya hanya bisa berkata sedikit saja. Yang ingin saya tegaskan sekali lagi, dalam rangka berbagi dengan sesama, kejadian naas yang ditemukan akhir - akhir ini, hendaklah kita jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Siapa yang seharusnya berperan dalam pembentukan pribadi anak - anak? tentunya kita semua. Bukan hanya orangtua, atau pemerintah yang sering didemo saja. Tapi kita semua, kita semua.
Kepada orangtua yang sudah banyak pengalamannya, sepatutnya untuk memikirkan keturunannya, tidak hanya berkutat pada masalah pribadinya saja. Ya memang, jika seseorang ingin memperbaiki orang lain, maka ia harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Tapi kalau terus - terusan memikirikan diri sendiri juga tidak baik.
Khairu al-Umuuri ausathuhaa, sebaik - baiknya perkara adalah tengah - tengahnya. Intinya biasa - biasa saja. Kalaupun sulit ditinggalkan, tapi jagan sampai menelantarkan anak - anaknya. Naudzubillah.
Kepada remaja, masa muda adalah masa keemasan. Sayang sekali jika hanya digunakan untuk hura - hura atau dengan lamunan tanpa makna. Bergeraklah! Kreatifitas tidak hanya ditemukan dalam sekolah formal. Kreatifitas dapat kita temukan di setiap detik kehidupan. Jangan memforsir pikiran hanya untuk perkara asmara.