Pagi itu, aku tertidur pulas, kuletakkan kepala diatas kedua tangan yang
menyandar pada bangku di mushola pondok . Lembaran mushaf Al-Qur’an yang baru
kubaca seusai shubuh tadi tersimpan tepat disamping kepalaku.
Tiba - tiba, aku yang masih mengenakan perlengkapan shalat lengkap pun
bangun, jantungku tersentak kaget ketika ada telapak tangan yang menepukku
seraya berkata sendu, “Fahma...banguun.. Bapak sekarat ma.., Bapak sekarat..”,
langsung ku menoleh kearahnya, mbak anis, kakak senior di pondok yang telah membangunkanku, kedua matanya merah
lembab berkaca – kaca, ditangannya mushaf Al-Qur’an yang siap dibaca, dalam
sekejap seluruh ruhku akhirnya kembali, aku terbelalak tak percaya, kulihat
sekelilingku satu – persatu santriwati mulai berkumpul dengan membawa
Al-Qur’an, kupandangi setiap mata, sama seperti mbak anis, apakah aku
bermimpi???.... “ayo ma, wudhu dulu”, pinta mbak anis.
Bergegas ku berwudhu dan segera kukenakan mukena kembali, mulai membaca
surat Yaasin untuk kesembuhan Bapak, kudengar dari ujung mushola, salah seorang
santriwati menangis histeris di telepon
genggam, terdengar samar – samar , ia sedang mengabari orangtuanya tentang
keadaan Bapak. Aku masih tak percaya... perlahan dadaku mulai terasa sesak, kali ini aku baru
menyadari bahwa ini nyata. Bersama dengan santriwati lainnya, kubaca surat Yaasiin, memohon pada
Allah agar mendatangkan keajaiban untuk Bapak.
Semenit kemudian, dari pengeras
suara terdengar mbak Nova, mengajak seluruh santri untuk membacakan do’a Thibbi-l-quluubi, belum sampai ketiga
kalinya, mbak Umaroh datang dengan deraian airmata yang membasahi pipinya,
lemas ia berkata, “Bapak..ora ono...”.
Dalam sekejap, tangisan duka bergema memantul dalam mushola, menyelimuti
suasana kamis pagi yang mendung, Mbah Kyai Warson, seorang ulama besar, guru,
sekaligus Bapak pengasuh kami, kini telah pergi. Airmata duka perlahan membanjiri pipi ini, Ya Allah, aku kehilangannya,
kami semua kehilangan Bapak...
Aku selalu ditanya, “Tahu Krapyak darimana?”, “Dari orang tua”, jawabku. Selain itu,
almarhum kakekku, sebelum wafat pernah dawuh
pada
putra putrinya, “Aki nuhun aya
hiji ti incu nu mondok di Krapyak”, pintanya. Semasa hidupnya, beliau pernah
berguru pada almarhum Mbah Kyai Ali Maksum. Karena itulah, beliau berharap dari
cucu – cucunya, ada yang meneruskan tholabu
‘ilmi di Krapyak, “Agar dapat barokah”,
jelasnya.
“Kenapa
milih komplek Q”, “Ingin belajar banyak dari Kyai Warsun”, jawabku. Ya, harapanku ingin nyantri ke Mbah Kyai Warsun. Itu karena aku
banyak mendengar cerita tentang beliau dari papa. Disamping itu, aku berharap
dapat memperdalam ilmu bahasa yang sudah sedikit kupelajari di pondok Gontor
Putri dulu.
Bersama dengan ustadz Kusnadi, om
dan tante, kutemui mbah kyai dan Ibu untuk showan pertama kali. Ketika memasuki rumah beliau, gemetaran, aku
tidak menyangka akan bertemu dengan seorang kyai besar, sang penulis kamus
bahasa Arab – Indonesia “Al-Munawwir”.
Dengan mengenakan baju koko putih dan sarung coklat, beliau datang
kehadapan kami. Subhanallah. Alis lebat dan rambutnya kian memutih, menandakan
umurnya yang semakin menua. Ibupun setia mendampingi Bapak dengan perpaduan
gamis dan kerudung berwana ungu, mungkin usia Ibu sudah menginjak enam puluhan,
bayangku, tapi wajahnya memancarkan cahaya bersih lagi menenangkan.
Ustadz Kusnadi mengawali percakapan dengan bahasa Jawa yang tidak kutahu
artinya. Dengan suara berat dan pelan yang memancarkan aura wibawa darinya, Bapak
menjawab. Beliau sedikit menjelaskan tentang keadaan pondok dan sistem
didalamnya, “Disini ada Madrasah
Diniyyah, kalau tidak mau ikut silahkan cari pondok lain”, jelas beliau
sambil tersenyum, aku mengangguk. Bapak
dan Ibu amat ramah dan murah senyum. Motivasi pertama yang membuatku semakin
yakin untuk menimba ilmu di komplek Q.
Sebelum pamit untuk beranjak pergi, kami mengambil kesempatan emas ini
untuk berfoto bersama mbah kyai dan Ibu.
Hari – hari di komplek Q memberikan banyak kesan yang berarti bagiku.
Banyak pengalaman dan nilai – nilai kehidupan yang kudapatkan. Terutama dari
sosok mbah kyai, yang kemudian ku memanggilnya dengan Bapak, dan juga dari Ibu
yang kuanggap seperti Ibu kandungku sendiri.
Kedekatanku dengan Bapak dan Ibu tidak
luput dari keberadaan orangtuaku
yang sudah lama mengenal Bapak Ibu. Berawal dari showan kedua bersama orangtua,
aku mulai sering berkomunikasi dengan Ibu, tetapi tidak dengan Bapak,
komunikasi dengan beliau hanya sebatas dengan kontak panca indera, tersenyum
atau menunduk . Dari Ibu, aku sedikit tahu tentangnya.
Bapak, menurut Ibu, adalah sosok kyai yang
sederhana dan rendah hati, tidak pernah membedakan siapapun dalam mua’amalah.
Dulu, beliau pernah menguasai 7 bahasa asing. Almarhum juga aktif dalam
organisasi.Dalam waktu yang tidak lama,
semua yang beliau lakukan meredup seperti lilin yang tertiup angin, beliau
terkena penyakit yang mengharuskannya untuk banyak istirahat di rumah.
Aku sedih, karena aku belum pernah merasakan diajar langsung oleh Bapak,
dari pertama kali bertemu hingga terakhir kalinya. Itu karena Bapak sakit. “Bapak sekarang sering sakit. Kemarin - kemarin Bapak mimpi jatuh, ternyata jatuh
beneran, ada sedikit benturan di kepalanya, kata dokter, ada penyempitan
pembuluh darah di kepala, jadi memorinya terkena gangguan. Ramadhan kemarin
masih sempat mengajar di pondok, tapi setelah jatuh, ndak ngajar lagi..”, Ibu
mencoba menerangkan. Aku terdiam
terpaku, terharu pilu mendengar cerita Ibu,.“Ya Allah..berikanlah kesembuhan untuk Bapak, agar dapat beraktifitas
kembali seperti dulu, agar beliau dapat mengajar santri-santrinya
lagi..aamiin..”, pintaku pada-Nya.
Bapak memang tidak mengajar langsung seperti ustadz lain, tapi secara
tidak langsung kudapatkan banyak pelajaran yang beliau ajarkan melalui
keteladanan dan karya yang dihasilkannya.
Aku selalu ingat, di pagi hari sebelum berangkat bimbel, aku menemukan beliau
sedang duduk sendiri di atas kursi, dibawah terik sinar matahari dengan kaki
kiri yang berpangku keatas kaki kanan, didepan mushola timur, beliau berjemur.
Wajahnya kian megeriput, tubuhnya
kian mengurus, badan membungkuk, tapi semangat hidup selalu tampak darinya.
Walaupun tubuhnya semakin melemah, beliau masih sering mengontrol pondok,
santri, keluarga, dan para pekerja. “Bapak
itu setiap hari pasti ngabsen pekerja dan cucu – cucunya”, terang salah
seorang teman.
beliau.
Kedekatan itu tampak terlihat dari
cucunya yang sering bermain ke rumah kakeknya itu. Tangisan histerispun muncul dari salah seorang cucunya
ketika beliau sudah tiada.
Pernah suatu pagi, aku dipanggil Mba Ida, “Fahma...dipanggil Bapak..”. Aku yang
hendak pergi mengantar Ahda ke Dongkelan pun menghampiri Mba Ida, “Ada apa mba?.”, kataku. “Ndak Tahu..”, jawab Mba Ida. Akupun
menoleh sedikit kedalam rumah Bapak, kulihat beliau sedang sarapan. “Mba, Bapak Ibu lagi sarapan, gimana?”, Tanyaku.
“Waah...gak tahu juga..hee”, aku Mba
Ida. Akhirnya, ku memutuskan untuk mengantar Ahda terlebih dahulu, kemudian
menemui Bapak.
Setelah mengantar Ahda, aku menoleh lagi kedalam rumah, ternyata Bapak
sudah selesai sarapan. Kuberanikan diri masuk dan kuucapkan salam, “Assalamu’alaikum..”, kulihat Bapak yang
sedang duduk di sofa. Bergegas kuperkenalkan diri, “Maaf pak, saya Fahma”. Kemudian Bapak menyuruhku masuk dan duduk dibawah
dihadapan beliau yang sedang duduk di sofa.
“Fahma, Insya Allah saya mau ke
Jakarta hari ini, naik pesawat Garuda dari Adisuciptp. Sama Ibu, Aina dan Pak
Hadi”, jelas Bapak. Akupun mengangguk, dengan nada pelan dan hati – hati,
aku bertanya, “Nggih pak, Insya Allah
nanti saya sampaikan ke Bapak saya dirumah, jam berapa pak”. “Jam 10
nanti”, jawabnya. Setelah lama terdiam, akhirnya Bapak mengizinkanku
kembali ke kamar, “Ya Sudah..itu saja”, kata
Bapak. “Nggih pak, Assalamu’alaikum”,
ucapku. Sejujurnya, aku gemetaran ketika
berhadapan dengan beliau. Tapi, Alhamdulillah, aku sangat bersyukur dapat
berbicara langsung dengan beliau. Dan akupun tersenyum.
Sehari sebelum kepergiannya, aku masih sempat bertemu beliau di dapur,
beliau hendak mengambil sandal kemudian berjalan ke arah Q5, entah apa yang
beliau lakukan, kudengar dari teman, beliau sempat bertanya pada salah seorang
santri disana, “Iki wis apik durung?”,
tanya almarhum. Beliau meminta pendapat santri tentang bangunan komplek Q yang
baru saja selesai di renovasi. Jalan lorong yang berlapiskan tanah kini
berganti menjadi keramik yang indah. Atap bolong yang sering menjadi celah air
hujan, kini tertutup dengan atap plastic yang mewah. Sempurna..
Kemudian, beliau berjalan – jalan
di sekitar pondok, layaknya seorang pengasuh yang mengontrol keadaan santri dan
pondoknya. Aku dan teman – teman tidak pernah menyangka, itu menjadi pertemuan
terakhir kami dengan Bapak. Hingga
akhirnya, pagi itupun datang.
Dalam sekejap, ratusan santri dan masyarakat telah berkerumun memenuhi
halaman parkir komplek Q, dibalik pintu mushola, aku menangis. Jenazah beliau
masih dalam perjalanan dari RS.PKU Muhammadiyah.
Kudengar cerita teman, jam
setengah enam pagi, Ibu berteriak histeris memanggil santriwati, Mba Uswah
segera bergegas menghampiri, ternyata kondisi tubuh Bapak ketika itu mulai
mendingin, sedikit kaku, dalam kondisi panic, Ibu segera mengusapkan minyak
kapak ke tubuh bapak dan berdo’a semoga tidak terjadi apa – apa. Setelah menelepon Gus Kholid, menantunya,
Bapak langsung dibawa ke RS.PKU Muhammadiyah, dan kemudian dipastikan beliau
telah wafat.
Beberapa menit kemudian, jenazahnya datang. Isak tangis duka memenuhi
seluruh kawasan komplek Q. Jasad almarhum segera dimandikan dan diberi kain
kafan. Lalu, diletakkan di shaf pertama mushola. Dan dishalatkan oleh ribuan orang. Airmataku tak dapat
berhenti mengalir. Kupandangi terus
jasad almarhum yang kini tertutup dengan kain hijau bertuliskan “Inna lillahi
wa Innaa ilaihi rooji’uun”. Aku tersenyum dengan airmata yang masih
berjatuhan,, melihat almarhum yang kini telah beristirahat dengan tenang. “Allahumma ighfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu
‘anhu”. Aamiin. Kumelihat Ibu yang diselimuti duka, beliau menangis. “Ya Allah, berikanlah Ibuku ini kesabaran dan
kekuatan..aamiin..”.
Shalat Jenazah pertama diimami oleh Mbah Kyai Zainal yang tidak lain
adalah kakak kandung almarhum. Hatiku semakin terenyuh, menyaksikan pertemuan terakhir kedua saudara yang merupakan ulama besar
terkemuka. Diatas kursi roda, beliau
mengimami jam’aah dengan khusyuk dan khidmat.
Jenazah almarhum dimakamkan pukul 16.00.
“Ini, atas permintaan Gus Mus”,
tutur Ibu. Setiap detik, mushola tidak sepi dari para pelayat yang hendak
mensholatinya.. Begitupula lantunan ayat Al-Qur’an yang tidak henti – hentinya didengungkan
hingga waktu pemakaman tiba.
Komplek Q yang sepi berubah menjadi ramai, setiap santri disibukkan oleh
kotak – kotak kertas yang akan diisi dengan makanan untuk menghormati para tamu
yang melayat.
Jam 16.00 pun tiba, acara pra pemakamanpun dibuka, kusaksiksan acara itu
hingga do’a penutup yang dipimpin Gus Mus dan Mbah Zainal. Airmata ini semakin
mengalir deras setelah kusaksikan jenazah almarhum yang sudah berada diatas
kayu keranda, siap dipikul menuju tempat peristirahatan terakhir. “Ila liqoo yaa abii, ustaadzi.. ma’anaa
fil-Jannah”.T_T.....
Jasadnya telah tiada, tapi jasanya akan terkenang sepanjang masa. Hayyun fii quluubinaa..<3
