Jumat, 26 April 2013

Pertemuan Terakhir.. ( In Memoriam Alm.Mbah Kyai Warsun ) By: F@


Pagi itu, aku tertidur pulas, kuletakkan kepala diatas kedua tangan yang menyandar pada bangku di mushola pondok . Lembaran mushaf Al-Qur’an yang baru kubaca seusai shubuh tadi tersimpan tepat disamping kepalaku. 

Tiba - tiba, aku yang masih mengenakan perlengkapan shalat lengkap pun bangun, jantungku tersentak kaget ketika ada telapak tangan yang menepukku seraya berkata sendu, “Fahma...banguun.. Bapak sekarat ma.., Bapak sekarat..”, langsung ku menoleh kearahnya, mbak anis, kakak senior di pondok  yang telah membangunkanku, kedua matanya merah lembab berkaca – kaca, ditangannya mushaf Al-Qur’an yang siap dibaca, dalam sekejap seluruh ruhku akhirnya kembali, aku terbelalak tak percaya, kulihat sekelilingku satu – persatu santriwati mulai berkumpul dengan membawa Al-Qur’an, kupandangi setiap mata, sama seperti mbak anis, apakah aku bermimpi???.... “ayo ma, wudhu dulu”, pinta mbak anis.

Bergegas ku berwudhu dan segera kukenakan mukena kembali, mulai membaca surat Yaasin untuk kesembuhan Bapak, kudengar dari ujung mushola, salah seorang santriwati menangis histeris  di telepon genggam, terdengar samar – samar , ia sedang mengabari orangtuanya tentang keadaan Bapak. Aku masih tak percaya... perlahan  dadaku mulai terasa sesak, kali ini aku baru menyadari bahwa ini nyata. Bersama dengan santriwati lainnya, kubaca surat Yaasiin, memohon pada Allah agar mendatangkan keajaiban untuk Bapak.

 Semenit kemudian, dari pengeras suara terdengar mbak Nova, mengajak seluruh santri untuk membacakan do’a Thibbi-l-quluubi, belum sampai ketiga kalinya, mbak Umaroh datang dengan deraian airmata yang membasahi pipinya, lemas ia berkata, “Bapak..ora ono...”. Dalam sekejap, tangisan duka bergema memantul dalam mushola, menyelimuti suasana kamis pagi  yang  mendung,  Mbah Kyai Warson, seorang ulama besar, guru, sekaligus Bapak pengasuh kami, kini telah pergi. Airmata duka perlahan membanjiri pipi ini, Ya Allah, aku kehilangannya, kami semua kehilangan Bapak...

Enam bulan silam, pertama kali kumenginjakkan kaki di komplek Q. Pondok yang kutuju setelah Gontor Putri 1.

 Aku selalu ditanya, “Tahu Krapyak darimana?”, “Dari orang tua”, jawabku. Selain itu, almarhum kakekku, sebelum wafat pernah dawuh  pada  putra putrinya, “Aki nuhun aya hiji ti incu nu mondok di Krapyak”, pintanya. Semasa hidupnya, beliau pernah berguru pada almarhum Mbah Kyai Ali Maksum. Karena itulah, beliau berharap dari cucu – cucunya, ada yang meneruskan tholabu ‘ilmi di Krapyak, “Agar dapat barokah”, jelasnya.

 “Kenapa milih komplek Q”, “Ingin belajar banyak dari Kyai Warsun”, jawabku. Ya, harapanku ingin nyantri ke Mbah Kyai Warsun. Itu karena aku banyak mendengar cerita tentang beliau dari papa. Disamping itu, aku berharap dapat memperdalam ilmu bahasa yang sudah sedikit kupelajari di pondok Gontor Putri dulu.

 Bersama dengan ustadz Kusnadi, om dan tante, kutemui mbah kyai dan Ibu untuk showan pertama kali.  Ketika memasuki rumah beliau, gemetaran, aku tidak menyangka akan bertemu dengan seorang kyai besar, sang penulis kamus bahasa Arab – Indonesia “Al-Munawwir”.

Dengan mengenakan baju koko putih dan sarung coklat, beliau datang kehadapan kami. Subhanallah. Alis lebat dan rambutnya kian memutih, menandakan umurnya yang semakin menua. Ibupun setia mendampingi Bapak dengan perpaduan gamis dan kerudung berwana ungu, mungkin usia Ibu sudah menginjak enam puluhan, bayangku, tapi wajahnya memancarkan cahaya bersih lagi menenangkan.

Ustadz Kusnadi mengawali percakapan dengan bahasa Jawa yang tidak kutahu artinya. Dengan suara berat dan pelan yang memancarkan aura wibawa darinya, Bapak menjawab. Beliau sedikit menjelaskan tentang keadaan pondok dan sistem didalamnya, “Disini ada Madrasah Diniyyah, kalau tidak mau ikut silahkan cari pondok lain”, jelas beliau sambil tersenyum, aku mengangguk.  Bapak dan Ibu amat ramah dan murah senyum. Motivasi pertama yang membuatku semakin yakin untuk menimba ilmu di komplek Q.  Sebelum pamit untuk beranjak pergi, kami mengambil kesempatan emas ini untuk berfoto bersama mbah kyai dan Ibu.

Hari – hari di komplek Q memberikan banyak kesan yang berarti bagiku. Banyak pengalaman dan nilai – nilai kehidupan yang kudapatkan. Terutama dari sosok mbah kyai, yang kemudian ku memanggilnya dengan Bapak, dan juga dari Ibu yang kuanggap seperti Ibu kandungku sendiri.

Kedekatanku dengan Bapak dan Ibu tidak  luput dari keberadaan  orangtuaku yang sudah lama mengenal Bapak Ibu. Berawal dari showan kedua bersama orangtua, aku mulai sering berkomunikasi dengan Ibu, tetapi tidak dengan Bapak, komunikasi dengan beliau hanya sebatas dengan kontak panca indera, tersenyum atau menunduk . Dari Ibu, aku sedikit tahu tentangnya.

Bapak, menurut Ibu, adalah sosok kyai yang sederhana dan rendah hati, tidak pernah membedakan siapapun dalam mua’amalah. Dulu, beliau pernah menguasai 7 bahasa asing. Almarhum juga aktif dalam organisasi.Dalam waktu yang  tidak lama, semua yang beliau lakukan meredup seperti lilin yang tertiup angin, beliau terkena penyakit yang mengharuskannya untuk banyak istirahat di rumah.

Aku sedih, karena aku belum pernah merasakan diajar langsung oleh Bapak, dari pertama kali bertemu hingga terakhir kalinya. Itu karena Bapak sakit. “Bapak sekarang sering sakit. Kemarin -  kemarin Bapak mimpi jatuh, ternyata jatuh beneran, ada sedikit benturan di kepalanya, kata dokter, ada penyempitan pembuluh darah di kepala, jadi memorinya terkena gangguan. Ramadhan kemarin masih sempat mengajar di pondok, tapi setelah jatuh, ndak ngajar lagi..”, Ibu mencoba menerangkan.  Aku terdiam terpaku, terharu pilu mendengar cerita Ibu,.“Ya Allah..berikanlah kesembuhan untuk Bapak, agar dapat beraktifitas kembali seperti dulu, agar beliau dapat mengajar santri-santrinya lagi..aamiin..”, pintaku pada-Nya.

Bapak memang tidak mengajar langsung seperti ustadz lain, tapi secara tidak langsung kudapatkan banyak pelajaran yang beliau ajarkan melalui keteladanan dan karya yang dihasilkannya.

Aku selalu ingat, di pagi hari sebelum berangkat bimbel, aku menemukan beliau sedang duduk sendiri di atas kursi, dibawah terik sinar matahari dengan kaki kiri yang berpangku keatas kaki kanan, didepan mushola timur, beliau berjemur.

 Wajahnya kian megeriput, tubuhnya kian mengurus, badan membungkuk, tapi semangat hidup selalu tampak darinya. Walaupun tubuhnya semakin melemah, beliau masih sering mengontrol pondok, santri, keluarga, dan para pekerja. “Bapak itu setiap hari pasti ngabsen pekerja dan cucu – cucunya”, terang salah seorang teman.

Beliau adalah seorang kakek penyayang. Semua cucu  - cucunya sangat dekat dengan
beliau. Kedekatan itu  tampak terlihat dari cucunya yang sering bermain ke rumah kakeknya itu. Tangisan  histerispun muncul dari salah seorang cucunya ketika beliau sudah tiada.

Pernah suatu pagi, aku dipanggil Mba Ida, “Fahma...dipanggil Bapak..”. Aku yang hendak pergi mengantar Ahda ke Dongkelan pun menghampiri Mba Ida, “Ada apa mba?.”, kataku. “Ndak Tahu..”, jawab Mba Ida. Akupun menoleh sedikit kedalam rumah Bapak, kulihat beliau sedang sarapan. “Mba, Bapak Ibu lagi sarapan, gimana?”, Tanyaku. “Waah...gak tahu juga..hee”, aku Mba Ida. Akhirnya, ku memutuskan untuk mengantar Ahda terlebih dahulu, kemudian menemui Bapak.

Setelah mengantar Ahda, aku menoleh lagi kedalam rumah, ternyata Bapak sudah selesai sarapan. Kuberanikan diri masuk dan kuucapkan salam, “Assalamu’alaikum..”, kulihat Bapak yang sedang duduk di sofa. Bergegas kuperkenalkan diri, “Maaf pak, saya Fahma”. Kemudian Bapak menyuruhku masuk dan duduk dibawah dihadapan beliau yang sedang duduk di sofa.  “Fahma, Insya Allah saya mau ke Jakarta hari ini, naik pesawat Garuda dari Adisuciptp. Sama Ibu, Aina dan Pak Hadi”, jelas Bapak. Akupun mengangguk, dengan nada pelan dan hati – hati, aku bertanya, “Nggih pak, Insya Allah nanti saya sampaikan ke Bapak saya dirumah, jam berapa pak”.  “Jam 10 nanti”, jawabnya. Setelah lama terdiam, akhirnya Bapak mengizinkanku kembali ke kamar, “Ya Sudah..itu saja”, kata Bapak. “Nggih pak, Assalamu’alaikum”, ucapku.  Sejujurnya, aku gemetaran ketika berhadapan dengan beliau. Tapi, Alhamdulillah, aku sangat bersyukur dapat berbicara langsung dengan beliau. Dan akupun tersenyum.

Sehari sebelum kepergiannya, aku masih sempat bertemu beliau di dapur, beliau hendak mengambil sandal kemudian berjalan ke arah Q5, entah apa yang beliau lakukan, kudengar dari teman, beliau sempat bertanya pada salah seorang santri disana, “Iki wis apik durung?”, tanya almarhum. Beliau meminta pendapat santri tentang bangunan komplek Q yang baru saja selesai di renovasi. Jalan lorong yang berlapiskan tanah kini berganti menjadi keramik yang indah. Atap bolong yang sering menjadi celah air hujan, kini tertutup dengan atap plastic yang mewah.  Sempurna..

 Kemudian, beliau berjalan – jalan di sekitar pondok, layaknya seorang pengasuh yang mengontrol keadaan santri dan pondoknya. Aku dan teman – teman tidak pernah menyangka, itu menjadi pertemuan terakhir kami dengan Bapak.  Hingga akhirnya, pagi itupun datang.

Dalam sekejap, ratusan santri dan masyarakat telah berkerumun memenuhi halaman parkir komplek Q, dibalik pintu mushola, aku menangis. Jenazah beliau masih dalam perjalanan dari RS.PKU Muhammadiyah.

Kudengar  cerita teman, jam setengah enam pagi, Ibu berteriak histeris memanggil santriwati, Mba Uswah segera bergegas menghampiri, ternyata kondisi tubuh Bapak ketika itu mulai mendingin, sedikit kaku, dalam kondisi panic, Ibu segera mengusapkan minyak kapak ke tubuh bapak dan berdo’a semoga tidak terjadi apa – apa.  Setelah menelepon Gus Kholid, menantunya, Bapak langsung dibawa ke RS.PKU Muhammadiyah, dan kemudian dipastikan beliau telah wafat.

Beberapa menit kemudian, jenazahnya datang. Isak tangis duka memenuhi seluruh kawasan komplek Q. Jasad almarhum segera dimandikan dan diberi kain kafan. Lalu, diletakkan di shaf pertama mushola. Dan  dishalatkan oleh ribuan orang. Airmataku tak dapat berhenti mengalir.  Kupandangi terus jasad almarhum yang kini tertutup dengan kain hijau bertuliskan “Inna lillahi wa Innaa ilaihi rooji’uun”. Aku tersenyum dengan airmata yang masih berjatuhan,, melihat almarhum yang kini telah beristirahat dengan tenang. “Allahumma ighfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu”. Aamiin. Kumelihat Ibu yang diselimuti duka, beliau menangis. “Ya Allah, berikanlah Ibuku ini kesabaran dan kekuatan..aamiin..”.

Shalat Jenazah pertama diimami oleh Mbah Kyai Zainal yang tidak lain adalah kakak kandung almarhum. Hatiku semakin terenyuh, menyaksikan pertemuan terakhir  kedua saudara yang merupakan ulama besar terkemuka.  Diatas kursi roda, beliau mengimami jam’aah dengan khusyuk dan khidmat.

Jenazah almarhum dimakamkan pukul 16.00.  “Ini, atas permintaan Gus Mus”, tutur Ibu. Setiap detik, mushola tidak sepi dari para pelayat yang hendak mensholatinya.. Begitupula lantunan ayat Al-Qur’an yang tidak henti – hentinya didengungkan hingga waktu pemakaman tiba. 

Komplek Q yang sepi berubah menjadi ramai, setiap santri disibukkan oleh kotak – kotak kertas yang akan diisi dengan makanan untuk menghormati para tamu yang melayat. 

Jam 16.00 pun tiba, acara pra pemakamanpun dibuka, kusaksiksan acara itu hingga do’a penutup yang dipimpin Gus Mus dan Mbah Zainal. Airmata ini semakin mengalir deras setelah kusaksikan jenazah almarhum yang sudah berada diatas kayu keranda, siap dipikul menuju tempat peristirahatan terakhir. “Ila liqoo yaa abii, ustaadzi.. ma’anaa fil-Jannah”.T_T.....
Jasadnya telah tiada, tapi jasanya akan terkenang sepanjang masa. Hayyun fii quluubinaa..<3