Jumat, 10 Januari 2014

Lagi - lagi Hp,,,


Dil, tau g sih?? Tadi aku ketemu sama teman lamaku lhoo..", ungkap Rina senang.
"Owh...", balas Dila yang lagi khusyuk ngotak ngatik Hpnya.
"Ya, aku g nyangka bakal ketemu sama dia..", tambah Rina riang.
"Ya", ucap Dila datar dengan kedua mata yang masih menatap layar telepon genggam.
"Alhamdulillaah, semoga di kesempatan lain aku ketemu lagi", harap Rina.
"Ya...", jawab Dila datar.
"Duh Dil, dari tadi jawabnya Ya, Owh, Ya, Owh aja.. Kamu dengerin aku g sih?..", tanya Rina jengkel.
"Ya..", jawab Dila dengan posisi yang sama.
"Astaghfirullah.. '"..

****
Fenomena..
"Apa yang membuat sekarang, perkataan orang tidak banyak didengar??",
"Karena Hp telah mengalihkan dunia sang pendengar..".

BELAJAR DARI NENEK : "MONDOK DI PESANTREN BUKANLAH PENGHALANG UNTUK MENGGAPAI IMPIAN"

Bijak, murah senyum, ramah, cerdas, pekerja keras, dan banyak lagi sifat - sifat baik yang dimiliki oleh seorang Mbak Nenek, ya begitulah sapaan akrabku untuk Mbak Rani -Tri Surani. Kenapa dipanggil nenek? Jujur saja karena aku ikut - ikutan mbak pengurus sebelumku, setelah kutahu, ternyata "nenek" itu ada karena usia mbak Rani lebih tua dari kami. . Selain itu, nenek juga terkenal cerewet..hee.. Kebiasaannya minum teh di pagi hari semakin memperkuat label nenek menempel pada Mbak Rani.

Label tua itu diberikan bukan sebagai hinaan baginya. Bagiku itu sebagai sapaan sayang dari seorang adik untuk kakaknya. Selain itu, kuakaui mbak nenek itu dewasa, ia mampu merangkul tanpa harus memukul, ia mampu mengajak tanpa harus mengejek, ia bagaikan teman, kakak sekaligus ibu bagiku. Seperti teman yang mau berbagi pengalaman juga makanan, juga kakak yang selalu hadir mengayomi adiknya, dan ibu yang mau setia selalu mendengarkan keluh kesah anaknya.

Itu hanyalah gambaran global dari sosok mbak nenek.

Ada sisi lain mbak nenek yang selama ini tidak kusadari ternyata begitu menakjubkan dan lebih hebat daripada yang kupikirkan sebelumnya. Dhuha bersama nenek tadi pagi membuatku sadar akan kehidupan nenek yang rumit namun menarik. Banyak hikmah yang kudapat dari kisah yang ia ceritakan. Antara haru, bangga, sedih dan malu, kudengarkan kisahnya bersama Mbak Nurul Qonitah di kantor pengurus komplek Q.

Berawal dari percakapan kami mengenai salah satu sistem yang ada di komplek Q, kemudian berlanjut pada obrolan mengenai individualisme dalam kepengurusan. Dan terakhir adalah nyimak cerita nenek yang begitu mengharukan.

Ribet manggil Mbak nenek, lebih baik langsung saja kupanggil nenek.

Mungkin santri komplek Q sekarang hanya melihat nenek sekilas dari luarnya saja. Hampir setiap pagi, nenek selalau tampil cantik dan rapi setelah shalat shubuh berjama'ah usai. Itu karena nenek harus berangkat pagi menuju SD Salman Al-Farisi yang berada di daerah Sleman. Disanalah nenek mengajar. Jarak dari sini kesana cukup jauh, untuk itulah nenek berangkat pagi agar tidak kesiangan. Poin selanjutnya yang kudapat dari nenek, menghargai waktu. Sudah hampir tiga tahun nenek mengajar disana.

April 2011, predikat camlaude, terbaik dan tercepat di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga diraih nenek. Bangga dan haru yang mungkin saat itu nenek rasakan. Nenek tidak menyangka akan menyandang gelar membanggakan itu. Kita boleh menganggap itu hal biasa yang terjadi pada sebagian orang yang beruntung. Tapi itu tidak akan biasa saat kita tahu bahwa nenek menyelesaikan skripsinya setahun pertama saat pertama kali ia masuk komplek Q. Berbeda dengan santri pada umumnya yang masuk semester pertama namun keluar dari pesantren ketika masa pembuatan skripsi datang, alasannya karena berat dan tidak fokus, katanya. Banyak santri yang heran dengan langkah yang diambil nenek, bisikan - bisikan nakal mengisi ruang kecil telinga nenek, "Mbak Rani, kok masuk pesantren pas mau skripsi, berat lhoo". "Iya, disini bayak kegiatan, nanti g selesai..". Nenek yang geram dengan bisikan itu tidak lalu goyah dan patah semangat untuk tetap bertahan di komplek Q. Dengan tekad yang kuat, penuh semangat nenek berjanji, "Akan kubuktikan, aku bisa menyelesaikan skripsi dalam dua bulan". Subhanallah...Dan itu benar - benar tercapai, itulah mengapa kukatakan bahwa nenek seorang pekerja keras. Dan yang nenek yakini itu adalah barokahnya mondok di pesantren.

Saat kutanya, "Nek, kok nenek masuknya setelah semester 6?". Ia katakan, sebenarnya keinginan untuk masuk pesantren itu ada sejak ia duduk di bangku perkuliahan semester pertama. Niatan itupun sudah disampaikan pada kedua orangtuanya. Namun sayangnya, perannya sebagai pengajar paket B menjadi pantangan untuk masuk pesantren. Karena ia harus mengajar di malam hari. Siswanya bukanlah seorang anak SD, SMP ataupun SMA, tapi para bapak - bapak pekerja yang harus membanting tulang menafkahi keluarganya di pagi hari. Ada tukang becak, tukang batu, dll. Aku makin terharu mendengar kisah - kisah nenek. Amanah mengajar paket B akhirnya dapat terpenuhi hingga semester 6. Barulah setelah itu, ia dapat meraih cita - citanya untuk masuk pondok pesantren. "Tahu komplekk Q darimana, Nek?, tanyaku penasaran. "Dulu teman - temanku kebanyakan dari sini, aku juga sering foto copy di sekitar sini, karena rumahku pegunungan, jarang ada fotokopian"."Owh...rumah nenek ndeso toh...hehehe...", batinku menggerutu nakal.

Predikat camlaude bagi kebanyakan orang merupakan prestasi yang dapat memudahkan seseorang untuk meneruskan studi di tingkat selanjutnya. Dari 23 wisudawan dan wisudawati terbaik, UIN menyediakan hanya dua beasiswa untuk mereka. Memang sebagian besar sudah mendapatkan beasiswa dari lembaga - lembaga lain, tapi sebagian lain belum. Seperti nenek yang berharap dapat beasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga. Tidak hanya diisi dengan harapan - harapan yang belum tentu tercapai itu, nenek juga mengajukan lamaran bekerja di SD Salman Al-Farisi. Al-hasil, ternyata S2 tidak diterima, dan Salman Al-Farisi sudah membuatkan kontrak kerja.

Ya, hidup itu adalah pilihan. Langkah kita selalu dihadapkan pada dua arah yang berbeda. Tinggal kita mau pilih yang mana. Arah yang menurut kita baik bisa jadi buruk bagi kita, arah yang menurut kita buruk bisa jadi baik untuk kita. Pikirkanlah sebelum melangkah!

Diterimanya nenek di Salman Al-Farisi bersamaan dengan datangnya Surat Keputusan Pengangkatan menjadi Pengurus dari pondok. Nenek diangkat jadi Sekretaris. Tentu saja dengan posisinya yang saat itu akan bekerja, nenek sedikit bimbang dan hampir tidak sanggup menerima keputusan itu, tapi nenekk diyakinkan oleh pengurus sebelumnya bahwa Ia pasti bisa!.

Dua tahun lamanya, nenek menjalani rutinitas harian hanya di dua tempat, sekolah dan pondok. Di Salman, nenek menjadi wali kelas tiga SD dan di pondok, nenek menjadi sekretaris. Dua amanah besar dan berat. Namun tetap ia jalani dengan ikhlas dan penuh semangat. Tahun ini, nenek diangkat di Salman menjadi Wakil Kepala Sekolah dalam bidang kesiswaan. Bidang yang lebih besar tanggungannya daripada sebelumnya. Semakin hari, tingkat kecapean nenek di sekolah semakin bertambah. Akibatnya, aktivitas pondok sebagian terbengkalai. Nenek bilang bahwa ia merasa bersalah karena tidak maksimal dalam menjalani amanah yang diberikan pondok, "Aku malu sebagai senior", keluhnya. Namun selama ini aku tidak terlalu menghiraukan nenek yang sering tertidur sebelum sorogan, karena maklum mungkin nenek kelelahan. Insya Allah, niat baik nenek akan dicatat sebagai kebaikan oleh-Nya.

Saat ini, nenek galau, antara dua pilihan, boyong atau tetap di pondok sambil mengajar di Salman. Dan aku salut akan pertimbangannya yang bijak. Airmata nenek mulai mengalir. Nenek keberatan untuk boyong karena ia menyadari ia belum memiliki ilmu apa - apa yang bisa dibawa pulang. "Inilah jiwa santri sejati", batinku. Subhanallah. Namun di sisi lain, nenek juga bingung untuk menentukan pilihannya.

Kisah hidup nenek menyadarkan kita akan keutamaan mencari ilmu. Juga mengingatkan kita bahwa pesantren bukanlah penghalang untuk mewujudkan harapan, meraih prestasi setinggi apapun, juga menggapai cita - cita yang didambakan banyak kalangan. Pertanyaannya untuk kita santri mahasiswa, khususnya santriwati komplek Q, mana yang akan kita prioritaskan? boyong dari pesantren setelah wisuda kampus, tapi ngaji belum selesai, atau setelah wisuda pondok, tapi ngaji sudah selesai?

Sebagai seorang teman sekaligus adik, aku selalu berdo'a semoga Mbak nenek diberikan jalan yang terbaik. Dan selalu diberikan'inayah d rahmat dari Allah SWT Terimakasih nenek sudah mau mendengarkan curhatanku....... maafkan aku...