Bijak, murah senyum, ramah, cerdas, pekerja keras, dan banyak lagi
sifat - sifat baik yang dimiliki oleh seorang Mbak Nenek, ya begitulah
sapaan akrabku untuk Mbak Rani -Tri Surani. Kenapa dipanggil nenek?
Jujur saja karena aku ikut - ikutan mbak pengurus sebelumku, setelah
kutahu, ternyata "nenek" itu ada karena usia mbak Rani lebih tua dari kami. .
Selain itu, nenek juga terkenal cerewet..hee.. Kebiasaannya minum teh
di pagi hari semakin memperkuat label nenek menempel pada Mbak Rani.
Label tua itu diberikan bukan sebagai hinaan baginya. Bagiku itu
sebagai sapaan sayang dari seorang adik untuk kakaknya. Selain itu,
kuakaui mbak nenek itu dewasa, ia mampu merangkul tanpa harus memukul,
ia mampu mengajak tanpa harus mengejek, ia bagaikan teman, kakak
sekaligus ibu bagiku. Seperti teman yang mau berbagi pengalaman juga
makanan, juga kakak yang selalu hadir mengayomi adiknya, dan ibu yang
mau setia selalu mendengarkan keluh kesah anaknya.
Itu hanyalah gambaran global dari sosok mbak nenek.
Ada sisi lain mbak nenek yang selama ini tidak kusadari ternyata begitu
menakjubkan dan lebih hebat daripada yang kupikirkan sebelumnya. Dhuha
bersama nenek tadi pagi membuatku sadar akan kehidupan nenek yang rumit
namun menarik. Banyak hikmah yang kudapat dari kisah yang ia ceritakan.
Antara haru, bangga, sedih dan malu, kudengarkan kisahnya bersama Mbak
Nurul Qonitah di kantor pengurus komplek Q.
Berawal dari
percakapan kami mengenai salah satu sistem yang ada di komplek Q,
kemudian berlanjut pada obrolan mengenai individualisme dalam
kepengurusan. Dan terakhir adalah nyimak cerita nenek yang begitu
mengharukan.
Ribet manggil Mbak nenek, lebih baik langsung saja kupanggil nenek.
Mungkin santri komplek Q sekarang hanya melihat nenek sekilas dari
luarnya saja. Hampir setiap pagi, nenek selalau tampil cantik dan rapi
setelah shalat shubuh berjama'ah usai. Itu karena nenek harus berangkat
pagi menuju SD Salman Al-Farisi yang berada di daerah Sleman. Disanalah
nenek mengajar. Jarak dari sini kesana cukup jauh, untuk itulah nenek
berangkat pagi agar tidak kesiangan. Poin selanjutnya yang kudapat dari
nenek, menghargai waktu. Sudah hampir tiga tahun nenek mengajar disana.
April 2011, predikat camlaude, terbaik dan tercepat di Fakultas
Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga diraih nenek. Bangga dan haru yang mungkin
saat itu nenek rasakan. Nenek tidak menyangka akan menyandang gelar
membanggakan itu. Kita boleh menganggap itu hal biasa yang terjadi pada
sebagian orang yang beruntung. Tapi itu tidak akan biasa saat kita tahu
bahwa nenek menyelesaikan skripsinya setahun pertama saat pertama kali
ia masuk komplek Q. Berbeda dengan santri pada umumnya yang masuk
semester pertama namun keluar dari pesantren ketika masa pembuatan
skripsi datang, alasannya karena berat dan tidak fokus, katanya. Banyak
santri yang heran dengan langkah yang diambil nenek, bisikan - bisikan
nakal mengisi ruang kecil telinga nenek, "Mbak Rani, kok masuk pesantren
pas mau skripsi, berat lhoo". "Iya, disini bayak kegiatan, nanti g
selesai..". Nenek yang geram dengan bisikan itu tidak lalu goyah dan
patah semangat untuk tetap bertahan di komplek Q. Dengan tekad yang
kuat, penuh semangat nenek berjanji, "Akan kubuktikan, aku bisa
menyelesaikan skripsi dalam dua bulan". Subhanallah...Dan itu benar -
benar tercapai, itulah mengapa kukatakan bahwa nenek seorang pekerja
keras. Dan yang nenek yakini itu adalah barokahnya mondok di pesantren.
Saat kutanya, "Nek, kok nenek masuknya setelah semester 6?". Ia
katakan, sebenarnya keinginan untuk masuk pesantren itu ada sejak ia
duduk di bangku perkuliahan semester pertama. Niatan itupun sudah
disampaikan pada kedua orangtuanya. Namun sayangnya, perannya sebagai
pengajar paket B menjadi pantangan untuk masuk pesantren. Karena ia
harus mengajar di malam hari. Siswanya bukanlah seorang anak SD, SMP
ataupun SMA, tapi para bapak - bapak pekerja yang harus membanting
tulang menafkahi keluarganya di pagi hari. Ada tukang becak, tukang
batu, dll. Aku makin terharu mendengar kisah - kisah nenek. Amanah
mengajar paket B akhirnya dapat terpenuhi hingga semester 6. Barulah
setelah itu, ia dapat meraih cita - citanya untuk masuk pondok
pesantren. "Tahu komplekk Q darimana, Nek?, tanyaku penasaran. "Dulu
teman - temanku kebanyakan dari sini, aku juga sering foto copy di
sekitar sini, karena rumahku pegunungan, jarang ada
fotokopian"."Owh...rumah nenek ndeso toh...hehehe...", batinku
menggerutu nakal.
Predikat camlaude bagi kebanyakan orang
merupakan prestasi yang dapat memudahkan seseorang untuk meneruskan
studi di tingkat selanjutnya. Dari 23 wisudawan dan wisudawati terbaik,
UIN menyediakan hanya dua beasiswa untuk mereka. Memang sebagian besar
sudah mendapatkan beasiswa dari lembaga - lembaga lain, tapi sebagian
lain belum. Seperti nenek yang berharap dapat beasiswa S2 UIN Sunan
Kalijaga. Tidak hanya diisi dengan harapan - harapan yang belum tentu
tercapai itu, nenek juga mengajukan lamaran bekerja di SD Salman
Al-Farisi. Al-hasil, ternyata S2 tidak diterima, dan Salman Al-Farisi
sudah membuatkan kontrak kerja.
Ya, hidup itu adalah pilihan.
Langkah kita selalu dihadapkan pada dua arah yang berbeda. Tinggal kita
mau pilih yang mana. Arah yang menurut kita baik bisa jadi buruk bagi
kita, arah yang menurut kita buruk bisa jadi baik untuk kita.
Pikirkanlah sebelum melangkah!
Diterimanya nenek di Salman
Al-Farisi bersamaan dengan datangnya Surat Keputusan Pengangkatan
menjadi Pengurus dari pondok. Nenek diangkat jadi Sekretaris. Tentu saja
dengan posisinya yang saat itu akan bekerja, nenek sedikit bimbang dan
hampir tidak sanggup menerima keputusan itu, tapi nenekk diyakinkan oleh
pengurus sebelumnya bahwa Ia pasti bisa!.
Dua tahun lamanya,
nenek menjalani rutinitas harian hanya di dua tempat, sekolah dan
pondok. Di Salman, nenek menjadi wali kelas tiga SD dan di pondok, nenek
menjadi sekretaris. Dua amanah besar dan berat. Namun tetap ia jalani
dengan ikhlas dan penuh semangat. Tahun ini, nenek diangkat di Salman
menjadi Wakil Kepala Sekolah dalam bidang kesiswaan. Bidang yang lebih
besar tanggungannya daripada sebelumnya. Semakin hari, tingkat kecapean
nenek di sekolah semakin bertambah. Akibatnya, aktivitas pondok sebagian
terbengkalai. Nenek bilang bahwa ia merasa bersalah karena tidak
maksimal dalam menjalani amanah yang diberikan pondok, "Aku malu sebagai
senior", keluhnya. Namun selama ini aku tidak terlalu menghiraukan
nenek yang sering tertidur sebelum sorogan, karena maklum mungkin nenek
kelelahan. Insya Allah, niat baik nenek akan dicatat sebagai kebaikan
oleh-Nya.
Saat ini, nenek galau, antara dua pilihan, boyong
atau tetap di pondok sambil mengajar di Salman. Dan aku salut akan
pertimbangannya yang bijak. Airmata nenek mulai mengalir. Nenek
keberatan untuk boyong karena ia menyadari ia belum memiliki ilmu apa -
apa yang bisa dibawa pulang. "Inilah jiwa santri sejati", batinku.
Subhanallah. Namun di sisi lain, nenek juga bingung untuk menentukan
pilihannya.
Kisah hidup nenek menyadarkan kita akan keutamaan
mencari ilmu. Juga mengingatkan kita bahwa pesantren bukanlah penghalang
untuk mewujudkan harapan, meraih prestasi setinggi apapun, juga
menggapai cita - cita yang didambakan banyak kalangan. Pertanyaannya
untuk kita santri mahasiswa, khususnya santriwati komplek Q, mana yang
akan kita prioritaskan? boyong dari pesantren setelah wisuda kampus,
tapi ngaji belum selesai, atau setelah wisuda pondok, tapi ngaji sudah
selesai?
Sebagai seorang teman sekaligus adik, aku selalu
berdo'a semoga Mbak nenek diberikan jalan yang terbaik. Dan selalu
diberikan'inayah d rahmat dari Allah SWT Terimakasih nenek sudah mau
mendengarkan curhatanku....... maafkan aku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar