“Bu Atin”,
begitulah mahasiswa memanggil dosen yang bernama lengkap Ibu Khoiro Ummatin
ini. Di semester pertama, beliau mengumpu mata kuliah Ilmu Dakwah. Tetapi saya
belum tahu mata kuliah lain yang diajarkan beliau di semester – semester lainnya.
Pertama kali, saya
melihat beliau di ruangan 404, Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Pertemuan
itu hanya sekilas, tidak sampai semenitpun. Ketika itu, anggota kelas kami
tengah duduk manis di bangkunya masing – masing, tiba – tiba beliau masuk, lalu
duduk. Sebagian dari kami terheran – heran karena sebenarnya mata kuliah pagi
itu adalah Pengantar Studi Islam yang diajarkan oleh Bapak Achmad Muhammad (sesuai
yang tertera di jadwal). Lantas saya memberanikan diri untuk bertanya, dan
ternyata beliau salah masuk. Hehe.. Beliaupun tersenyum dan mengucapkan
maaf, lalu berkata “Oh iya, besok kita juga ketemu lagi. Ilmu Dakwah hari apa?,
oh, Kamis. Ya.. sampai jumpa lagi”. Kemudian beliaupun pindah ke ruangan 402.
“‘Aroftu
al-musamma duuna al-isma”, begitulah keadaanku saat pertemuan kecil itu. Saya tahu wujud orangnya,
tapi tidak tahu namanya. Ketika di pondok, Mbak Ubed , yang
merupakan sarjana KPI menceritakan singkat tentang Bu Atin itu. Oh, ternyata
beliau alumni komplek Q. “Waah..”, gumamku terkagum-kagum. Bu Atin, di mata
beberapa mahasiswa merupakan sosok ibu dosen yang sederhana, penampilannya
biasa, tidak terpengaruhi oleh perkembangan zaman modern yang menghadirkan
macam – macam bentuk pakaian, terutama jilbab. Namun, dibalik penampilannya
yang biasa, ada jiwa pendidik yang luar biasa. Selain cerdas, beliau juga
berwawasan luas.
Di pertemuan mata
kuliah Ilmu Dakwah pertama, Bu Atin mengajak kami berdiskusi tentang Kontrak
Belajar dan lain sebagainya. Kemudian “Introduction”, perkenalan. Metode
yang digunakan Bu Atin dalam perkenalan terbilang simpel, berbeda dengan
biasanya, beliau membagikan kertas – kertas kecil dan seluruh mahasiswa diminta
untuk menuliskan nama, alamat dan nomor HP, Setelah itu dikumpulkan, dan Bu
Atin mulai memanggil satu – persatu sesuai dengan yang tertera diatas lembaran –
lembaran kertas putih kecil itu. Selesai sudah perkenalan aggota kelas kami. Dan
sekarang giliran beliau yang memperkenalkan diri. Bu Atin memperlihatkan curiculum vitae-nya
lewat monitor LCD. Kalau boleh berkomentar, saya kira Bu Atin memang senang
berbicara, hampir tidak ada detik yang kosong tanpa kata - kata beliau. Walaupun
begitu, isi pembicaraan bu Atin tetaplah
bermakna dan bermanfaat, terutama bagi saya. Mata dan telingaku sulit berpaling, kalau Bu
Atin sudah mulai mengeluarkan petuah – petuah hebatnya.
Ada yang menarik
dari kisah hidup bu Atin. Beliau yang kini menjadi dosen, ternyata memiliki
cerita masa lalu yang hampir mirip dengan saya yang sekarang baru menjadi
mahasiswa. Belakangan saya baru tahu, ternyata beliau juga seorang penulis,
entah berapa buku yang sudah diterbitkan. Yang baru saya ketahui baru dua buku
saja. Mungkin juga masih ada buku – buku karangan bu Atin lainnya.
Ini kisah beliau
sebelum menjadi mahasiswa. Dulu, beliau sekolah di MAN 2, dekat UGM, yang
terkenal dengan kualitas pengajaran dan siswa terbaik se-Yogyakarta. Dikarenakan
sekolahnya itu berdekatan dengan kampus biru yang bergengsi UGM, maka beliau
pun berkeinginan untuk menjadi mahasiswa disana. Prinsip yang teguh, namun
terlalu, beliau bertekad untuk mendaftar ke UGM saja, dan tidak memilih
universitas lainnya. Beliau juga tidak menghiraukan pesan kedua orangtuanya
untuk memilih universitas cadangannya. Karena yakin, beliau pasti bisa. Itu
karena prestasinya yang di MAN yang sangat luar biasa.
Setelah lama menunggu hasil ujian masuk
universitas, nihil, dalam pengumuman beliau dinyatakan tidak lolos ujian masuk
universitas. Sedih dan kecewa, mungkin dua kondisi ini yang meliputi beliau
saat itu. Walaupun demikian, beliau masih dengan tekad kerasnya untuk menjadi
mahasiswa UGM. Akhirnya beliau memutuskan untuk menunda kuliah satu tahun. Selama
setahun inilah, beliau mengisi hari – hari dengan belajar tekun dan me-review
beberapa pelajaran yang telah dipelajarinya saat MAN dulu. Setahun berlalu,
beliau kembali ikut ujian masuk univeritas. Bukan hanya satu jalur yang
diikutinya, beliau juga ikut jalur PTAIN dan berhasil diterima di Fakultas
Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Juga ujian masuk UGM. Tapi sayangnya, hasil ujian
yang sekarang masih sama seperti yang dulu, beliau tidak lolos. Dua kali gagal
membuat beliau kehilangan semangat untuk belajar. Fakultas yang tidak
diinginkan itu akhirnya tetap beliau ambil. Dari semeseter satu hingga
terakhir, hanya sedikit prestasi yang beliau raih, karena sikap “Ogah-ogahan”
membuat beliau malas dalam menekuni ilmu di bidang tersebut. Bu Atin yang dulu
di MAN-pun menghilang. Setelah sarjana, keajaiban datang. Beliau mendapat
beasiswa di UGM. Semangat yang dulu punah kini telah kembali membuncah. Selama
menjalani kegiatan di s2-nya itu, beliau kerap kali menuai prestasi dan
mendapat predikat cumlaude di akhir graduasi.
Dari situlah,
beliau kemudian terbuka hatinya, meyakini bahwa Allah pasti akan mengabulkan do’a
hamba-Nya, entah kapan, bisa jadi sekarang, esok atau nanti. Apakah kita yang
mendapatkannya atau bahkan anak cucu kita yang merasakannya. Dibalik kegagalan
pasti ada jalan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Beliau mengingatkan
kami untuk selalu berhusnudzhon, berbaik sangka pada Yang Maha Kuasa. Dan
meyakini, apa yang kita dapatkan sekarang itulah yang terbaik bagi kita, yang
merupakan pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar