Selasa, 24 September 2013

Dibalik kesuksesan bu Atin..



“Bu Atin”, begitulah mahasiswa memanggil dosen yang bernama lengkap Ibu Khoiro Ummatin ini. Di semester pertama, beliau mengumpu mata kuliah Ilmu Dakwah. Tetapi saya belum tahu mata kuliah lain yang diajarkan beliau di semester – semester lainnya.
Pertama kali, saya melihat beliau di ruangan 404, Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Pertemuan itu hanya sekilas, tidak sampai semenitpun. Ketika itu, anggota kelas kami tengah duduk manis di bangkunya masing – masing, tiba – tiba beliau masuk, lalu duduk. Sebagian dari kami terheran – heran karena sebenarnya mata kuliah pagi itu adalah Pengantar Studi Islam yang diajarkan oleh Bapak Achmad Muhammad (sesuai yang tertera di jadwal). Lantas saya memberanikan diri untuk bertanya, dan ternyata beliau salah masuk. Hehe.. Beliaupun tersenyum dan mengucapkan maaf, lalu berkata “Oh iya, besok kita juga ketemu lagi. Ilmu Dakwah hari apa?, oh, Kamis. Ya.. sampai jumpa lagi”. Kemudian beliaupun pindah ke ruangan 402.
“‘Aroftu al-musamma duuna al-isma”, begitulah keadaanku saat pertemuan kecil itu. Saya tahu wujud orangnya, tapi tidak tahu namanya. Ketika di pondok, Mbak Ubed , yang merupakan sarjana KPI menceritakan singkat tentang Bu Atin itu. Oh, ternyata beliau alumni komplek Q. “Waah..”, gumamku terkagum-kagum. Bu Atin, di mata beberapa mahasiswa merupakan sosok ibu dosen yang sederhana, penampilannya biasa, tidak terpengaruhi oleh perkembangan zaman modern yang menghadirkan macam – macam bentuk pakaian, terutama jilbab. Namun, dibalik penampilannya yang biasa, ada jiwa pendidik yang luar biasa. Selain cerdas, beliau juga berwawasan luas.
Di pertemuan mata kuliah Ilmu Dakwah pertama, Bu Atin mengajak kami berdiskusi tentang Kontrak Belajar dan lain sebagainya. Kemudian “Introduction”, perkenalan. Metode yang digunakan Bu Atin dalam perkenalan terbilang simpel, berbeda dengan biasanya, beliau membagikan kertas – kertas kecil dan seluruh mahasiswa diminta untuk menuliskan nama, alamat dan nomor HP, Setelah itu dikumpulkan, dan Bu Atin mulai memanggil satu – persatu sesuai dengan yang tertera diatas lembaran – lembaran kertas putih kecil itu. Selesai sudah perkenalan aggota kelas kami. Dan sekarang giliran beliau yang memperkenalkan diri.  Bu Atin memperlihatkan curiculum vitae-nya lewat monitor LCD. Kalau boleh berkomentar, saya kira Bu Atin memang senang berbicara, hampir tidak ada detik yang kosong tanpa kata - kata beliau. Walaupun begitu,  isi pembicaraan bu Atin tetaplah bermakna dan bermanfaat, terutama bagi saya.  Mata dan telingaku sulit berpaling, kalau Bu Atin sudah mulai mengeluarkan petuah – petuah hebatnya.
Ada yang menarik dari kisah hidup bu Atin. Beliau yang kini menjadi dosen, ternyata memiliki cerita masa lalu yang hampir mirip dengan saya yang sekarang baru menjadi mahasiswa. Belakangan saya baru tahu, ternyata beliau juga seorang penulis, entah berapa buku yang sudah diterbitkan. Yang baru saya ketahui baru dua buku saja. Mungkin juga masih ada buku – buku karangan bu Atin lainnya.
Ini kisah beliau sebelum menjadi mahasiswa. Dulu, beliau sekolah di MAN 2, dekat UGM, yang terkenal dengan kualitas pengajaran dan siswa terbaik se-Yogyakarta. Dikarenakan sekolahnya itu berdekatan dengan kampus biru yang bergengsi UGM, maka beliau pun berkeinginan untuk menjadi mahasiswa disana. Prinsip yang teguh, namun terlalu, beliau bertekad untuk mendaftar ke UGM saja, dan tidak memilih universitas lainnya. Beliau juga tidak menghiraukan pesan kedua orangtuanya untuk memilih universitas cadangannya. Karena yakin, beliau pasti bisa. Itu karena prestasinya yang di MAN yang sangat luar biasa.
 Setelah lama menunggu hasil ujian masuk universitas, nihil, dalam pengumuman beliau dinyatakan tidak lolos ujian masuk universitas. Sedih dan kecewa, mungkin dua kondisi ini yang meliputi beliau saat itu. Walaupun demikian, beliau masih dengan tekad kerasnya untuk menjadi mahasiswa UGM. Akhirnya beliau memutuskan untuk menunda kuliah satu tahun. Selama setahun inilah, beliau mengisi hari – hari dengan belajar tekun dan me-review beberapa pelajaran yang telah dipelajarinya saat MAN dulu. Setahun berlalu, beliau kembali ikut ujian masuk univeritas. Bukan hanya satu jalur yang diikutinya, beliau juga ikut jalur PTAIN dan berhasil diterima di Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Juga ujian masuk UGM. Tapi sayangnya, hasil ujian yang sekarang masih sama seperti yang dulu, beliau tidak lolos. Dua kali gagal membuat beliau kehilangan semangat untuk belajar. Fakultas yang tidak diinginkan itu akhirnya tetap beliau ambil. Dari semeseter satu hingga terakhir, hanya sedikit prestasi yang beliau raih, karena sikap “Ogah-ogahan” membuat beliau malas dalam menekuni ilmu di bidang tersebut. Bu Atin yang dulu di MAN-pun menghilang. Setelah sarjana, keajaiban datang. Beliau mendapat beasiswa di UGM. Semangat yang dulu punah kini telah kembali membuncah. Selama menjalani kegiatan di s2-nya itu, beliau kerap kali menuai prestasi dan mendapat predikat cumlaude di akhir graduasi.
Dari situlah, beliau kemudian terbuka hatinya, meyakini bahwa Allah pasti akan mengabulkan do’a hamba-Nya, entah kapan, bisa jadi sekarang, esok atau nanti. Apakah kita yang mendapatkannya atau bahkan anak cucu kita yang merasakannya. Dibalik kegagalan pasti ada jalan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Beliau mengingatkan kami untuk selalu berhusnudzhon, berbaik sangka pada Yang Maha Kuasa. Dan meyakini, apa yang kita dapatkan sekarang itulah yang terbaik bagi kita, yang merupakan pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar