"Bosaaaaaaaaann.....:( :(!!!"....( ooppss )...
Seringkali kata itu keluar dari mulut manusia yang sedang merasa jemu. Kenapa bosan?...Aah.. banyak faktor yang menyebabkan bosan. Biasanya yang membuat kita bosan adalah rutinitas harian, waktu yang padat dengan kegiatan yang sama atau sebaliknya, waktu kosong pun bisa menjadi salah satu penyebab dari kejemuan itu, dll.
Bosan merupakan respon negatif manusia terhadap kehidupan. Bosan menjadi bagian dari pesimisme. Sikap pesimis atau At - tasaaumu sangat dihindari. Cara pandang seseorang yang pesimis terhadap kehidupan, seperti memandang 1 apel cacat diantara 20 buah apel merah, 19 lainnya dalam keadaan baik. Tidaklah ia melihat kehidupan kecuali hal - hal yang buruk saja. Memandang apa yang terjadi hanya dari satu sisi. Selalu menghadapi masalah dengan amarah dan emosi. Ia hanya tertarik pada kisah sedih atau lagu sedu. Sampai - sampai hidupnya seperti Kisah sedih di hari Minggu. Baginya, kehidupan bagaikan malam kelam yang panjang, tak ada cahaya, tak ada harapan.Naudzubillah.. Pada suatu kesempatan, Pak Quraish Shihab mengatakan, "Seseorang yang kehilangan optimisme, maka sesungguhnya ia kehilangan wujud Tuhan". Tak bisa dipungkiri, memang jika manusia pesimis berarti ia menganggap bahwa tidak ada harapan - harapan lain yang dapat diraih, ia sesungguhnya telah melupakan Dzat Maha Penguasa Yang menjadi sutradara dalam kehidupan alam semesta, Yang Menentukan qadha dan qadar pada makhluk-Nya dan Yang selalu memberi harapan bagi hamba-Nya. Ajaran agama apapun pasti mengajarkan umatnya untuk selalu optimis dan menghindari sikap pesimis. Optimisme atau At - Tafaaulu hadir dengan ribuan harapan yang harus siap diterima risikonya. Dalam kisah penciptaan manusia diceritakan, ketika Allah hendak menciptakan manusia, satu riwayat mengatakan bahwa malaikat ragu dengan keputusan Allah, karena menurutnya manusia akan mengalami bosan, tetapi Allah menjawab, "Tidak, karena Aku akan selalu memberinya harapan". Begitulah yang dikatakan Allah SWT kepada malaikat. Manusia akan terus diberi harapan agar selalu optimis.Optimisme yang disertai dengan keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Optimisme yang berdasar, bukan yang tawar, yang diikuti dengan ikhtiar dan usaha maksimal, kemudian bertawakkal pada Allah SWT. Jika optimisme ada dalam diri manusia, niscaya ia akan menemukan titik kebahagiaan. Kebahagiaan yang diridhoi, disertai dengan syukur atas nikmat Illahi Rabbi. Seorang yang optimis tetap bangga walaupun kalah dalam lomba, tetap senyum walaupun ditimpa masalah. Memandang kehidupan dari sisi positif, seperti halnya rutinitas harian, hal ini tidak akan membosankan jikalau ia mengambil hikmah terbaik dari apa yang ia lakukan. Selain itu, perlu adanya perubahan pola pikir yang memandang sempit kehidupan. Dengan merubah pola pikir sempit dan cara pandang negatif, maka akan tercipta jiwa optimis. Tapi ingat! Optimisme disertai dengan ikhtiar dan do'a. Boleh berharap, tapi tidak berlebihan. Usaha yang sudah dibina dilanjutkan dengan tawakkal pada Yang Maha Kuasa... semangaat!!..:)
Bosan merupakan respon negatif manusia terhadap kehidupan. Bosan menjadi bagian dari pesimisme. Sikap pesimis atau At - tasaaumu sangat dihindari. Cara pandang seseorang yang pesimis terhadap kehidupan, seperti memandang 1 apel cacat diantara 20 buah apel merah, 19 lainnya dalam keadaan baik. Tidaklah ia melihat kehidupan kecuali hal - hal yang buruk saja. Memandang apa yang terjadi hanya dari satu sisi. Selalu menghadapi masalah dengan amarah dan emosi. Ia hanya tertarik pada kisah sedih atau lagu sedu. Sampai - sampai hidupnya seperti Kisah sedih di hari Minggu. Baginya, kehidupan bagaikan malam kelam yang panjang, tak ada cahaya, tak ada harapan.Naudzubillah.. Pada suatu kesempatan, Pak Quraish Shihab mengatakan, "Seseorang yang kehilangan optimisme, maka sesungguhnya ia kehilangan wujud Tuhan". Tak bisa dipungkiri, memang jika manusia pesimis berarti ia menganggap bahwa tidak ada harapan - harapan lain yang dapat diraih, ia sesungguhnya telah melupakan Dzat Maha Penguasa Yang menjadi sutradara dalam kehidupan alam semesta, Yang Menentukan qadha dan qadar pada makhluk-Nya dan Yang selalu memberi harapan bagi hamba-Nya. Ajaran agama apapun pasti mengajarkan umatnya untuk selalu optimis dan menghindari sikap pesimis. Optimisme atau At - Tafaaulu hadir dengan ribuan harapan yang harus siap diterima risikonya. Dalam kisah penciptaan manusia diceritakan, ketika Allah hendak menciptakan manusia, satu riwayat mengatakan bahwa malaikat ragu dengan keputusan Allah, karena menurutnya manusia akan mengalami bosan, tetapi Allah menjawab, "Tidak, karena Aku akan selalu memberinya harapan". Begitulah yang dikatakan Allah SWT kepada malaikat. Manusia akan terus diberi harapan agar selalu optimis.Optimisme yang disertai dengan keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Optimisme yang berdasar, bukan yang tawar, yang diikuti dengan ikhtiar dan usaha maksimal, kemudian bertawakkal pada Allah SWT. Jika optimisme ada dalam diri manusia, niscaya ia akan menemukan titik kebahagiaan. Kebahagiaan yang diridhoi, disertai dengan syukur atas nikmat Illahi Rabbi. Seorang yang optimis tetap bangga walaupun kalah dalam lomba, tetap senyum walaupun ditimpa masalah. Memandang kehidupan dari sisi positif, seperti halnya rutinitas harian, hal ini tidak akan membosankan jikalau ia mengambil hikmah terbaik dari apa yang ia lakukan. Selain itu, perlu adanya perubahan pola pikir yang memandang sempit kehidupan. Dengan merubah pola pikir sempit dan cara pandang negatif, maka akan tercipta jiwa optimis. Tapi ingat! Optimisme disertai dengan ikhtiar dan do'a. Boleh berharap, tapi tidak berlebihan. Usaha yang sudah dibina dilanjutkan dengan tawakkal pada Yang Maha Kuasa... semangaat!!..:)

lanjutkan ciiinn...
BalasHapus^_^....Thanks yemm...
Hapus(y) ochey... ^_^
BalasHapussiipp...
Hapusjadi keinget pelajarannya bu Alfi, ketika bosan, malas, dll, berarti hati sedang bermasalah. nah caranya biar tidak dihinggapi bosan malas dkk itu dengan cara meletakkan kembali dalam hati NIAT karena ALLAH SWT. :):) :)
BalasHapustulisan bagus :)
semangaaat fahma!
(y) .... Setuju!.... :D... syukron..Alhamdulillah....
HapusAnonim,, memag sekolahny dimana kx keinget pelajarannya Bu Alfi? :)
Hapus