Kamis, 24 April 2014

Pembelaan Tidak Untuk Disalahgunakan



Sebagai perempuan, saya musti bersyukur karena banyak kalangan, lembaga masyarakat, pihak yang memperjuangkan hak – hak perempuan. Dan saya pun merasakan itu. Perempuan dibela habis – habisan!.
 
Kita tahu, sejarah menceritakan bahwa pada masa jahiliyyah, peran wanita sering dimarjinalkan. Layaknya hewan peliharaan, perempuan dengan mudah diperlakukan semaunya oleh para kaum adam. Begitupula sebelum datangnya Islam, perempuan di berbagai belahan Negara, dianggap menjijikan, tidak suci, seringkali dikatakan sebagai najis yang dapat mengotori kehidupan. Naudzubillah. Perempuan seperti tidak mempunyai harga diri. Namun Islam datang membawa kedamaian, kasih sayang, ajaran yang tidak membedakan derajat laki – laki maupun perempuan. Di hadapan Allah, semua hamba sama derajatnya. Keunggulan – keunggulan laki – laki atas perempuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, saya yakini, tidak bermaksud mendiskriminasi kedudukan perempuan. Keunggulan itu merupakan perbedaan, dan perbedaan adalah suatu niscaya. Memahami sebuah ayat tidak cukup mengartikannya secara tekstual, namun diperlukan kontekstualisasi, dan mengaitkannya dengan nilai – nilai kesantunan. Karena Islam agama yang santun dan ramah.
Dan kini, perjuangan Rasul dalam membawa misi perdamaian di seluruh alam, termasuk didalamnya memuliakan kedudukan perempuan, lalu diikuti para sahabat, para tabi’in, kemudian ulama – ulama terdahulu dan ulama sekarang, sudah dapat kita petik manis hasilnya sekarang. Namun pembelaan terhadap perempuan belum tuntas. Kita dihadapkan  kembali pada pemikiran – pemikiran yang muncul akibat kedangkalan pengetahuan dalam memahami nash Al-Qur’an maupun hadits. Belum lagi budaya patriarkhi yang telah mengakar pada sebuah kelompok masyarakat. Ini permasalahan lain.

www.rumah keluarga-Indonesia.com
Melihat besarnya pembelaan terhadap perempuan, seharusnya menjadi cambukan bagi perempuan itu sendiri untuk menyadari bahwa ia begitu dimuliakan. Sayangnya masih ada yang belum “tahu” itu. Meski sudah diperjuangkan hak – haknya, masih ada perempuan yang tidak merasa. Kondisi yang tenang tanpa ada “peperangan” terkadang melenakan. Tantangan bagi perempuan adalah mempertahankan perjuangan sang pembela. Tentang bagaimana perempuan berusaha menjadi apa yang diharapkan oleh orang – orang yang memperjuangkannya. Berkarya, berprestasi, tidak menghabiskan waktu untuk hal – hal yang tak berguna. Tetap menjadi diri sendiri, namun bermanfaat bagi orang lain. Tidak berarti perempuan menjadi budak sang pembela, bukan. Tapi kesempatan emas setelah dibela hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Ketika dunia membuka mata, memberi ruang gerak bagi wanita, saatnya ia menggunakan kesempatan itu untuk mengemukakan aspirasinya, menghiasi kehidupan dengan pemikiran – pemikiran cerdasnya. Ia gunakan kesempatan itu untuk berprestasi, berkarya. Dan yang pasti, di sisi lain ia pun harus tetap menjadi hamba Allah yang taat, meski telah merdeka, tapi tetap interaksi dan pergaulan dalam koridor syari’at Islam. Jangan sampai pembelaan ini disalahgunakan.

2 komentar:

  1. Memang perempuan yg sering mendapat diskriminasi, di masyarakat pun patriarkhi dan subordinasi masih begitu lengket. Padahal sebenarnya wanita bukan hanya wanita, ia adalah pejuang2 hebat...
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya y Mbak, kadang mutar otak berfikir... Kok bisa ya, persepsi orang terhadap perempuan itu sebegitunya. Entah karena hanya sekedar melihat fisik yang-biasanya- lemah gemulai, atau karena faktor suara yang halus... dll... Ya Rahmaan..... Meski begitu, semoga Allah selalu memberi kita (wanita) kekuatan.. aamiin......

      Hapus