Rabu, 27 Februari 2013

Kenapa harus nulis?

Menulis menjadi salah satu hobi yang kusukai sedari kecil. I Like writing... aku suka menulis apa saja yang kualami diatas sobekan kertas atau di  layar komputer. Setelah terbiasa menulis, kuputuskan untuk membeli sebuah buku catatan harian yang menarik. Dan mulailah aku mengumpulkan banyak tulisan yang sebagian besar hanya curahan hati dari seorang anak SD yang belum berusia baligh. Hampir setiap hari catatatan harian itu terisi, hingga suatu hari kualami kejadian yang membuatku trauma akan diary hingga sekarang ini. Ketika itu  usiaku menginjak 9 tahun. Dalam catatan harian,  kutuliskan  kisah yang baru kualami, yaitu  "Kisah Cinta", ingin rasanya kutertawa jika mengingat hal itu kembali. Seorang siswi Sekolah Dasar jatuh hati pada teman laki -laki  di kelasnya, bunga - bunga di hatinya mendorong dia untuk mengungkapkan perasaannya pada kertas yang hanya membisu, walaupun begitu, tulisan yang biasa - biasa saja memancarkan cahaya yang menerangi jiwa, seakan - akan ia berbicara padanya. Itu berlangsung hampir 2 minggu. Perasaan itu memang tidak ia ungkapkan langsung pada sang pujaan hati, ia mampu menahannya untuk diri sendiri. Setiap malam, ia goreskan tinta dan mengukir sebuah cerita, namun, suatu hari, diary yang terletak dibawah bantal beralih tempat diatas lemari, seketika ia bertanya - tanya? Kenapa bisa??. Tak ingin berpikir panjang, ia menghiraukannya saja. Ternyata, usut ambil usut, buku diary malam itu terbaca semua oleh ibunda dan diketahui oleh ayahanda, ia menangis setelah ibu menasehatinya. Tidak pernah menyangka akan terbaca, kali ini ia benar - benar kecewa dan trauma, kemudian ia merobek - robek kertas diary hingga berubah menjadi  kepingan - kepingan yang sulit dibaca, kemudian memasukkannya kedalam botol yang berisi air dan mengocoknya hingga berulang kali. Selama dua hari, botol berisi kertas itu masih terjaga di tas  sekolahnya, kemudian baru ia membuangnya di tong sampah. ^_^....
Namun ternyata, mogok menulis diary hanya berlangsung 1 tahun saja, kemudian kumulai membuka kembali lembaran diary baru ketika pertama kali masuk pesantren, bagiku diary teman curhat yang luar biasa. Dan nulis diary pun berlanjut hingga lulus KMI dan pengabdian di Gontor Putri. Sekarang ini aku mulai belajar menulis karya ilmiah ataupun non ilmiah yang dapat dibaca orang lain. Motivasi menulis datang dari orang tua. Papa selalu menyemangatiku untuk berlatih menulis, menuliskan apa yang terekam dalam pikiran dan apa saja yang kusuka, tentunya dengan kata - kata yang dapatku bagi untuk sesama. Selain itu, orangtuaku sangat menganjurkan untuk rajin membaca, karena dengan membaca, manusia akan bertambah wawasan dan ilmu pengetahuannya. Dan membaca itulah proses awal dari terciptanya sebuah tulisan yang siap disajikan. Banyak penulis lahir karena banyak membaca. Dalam sebuah buku dikatakan, "Penulis yang hebat berarti pembaca yang hebat, pembaca yang hebat belum tentu penulis yang hebat", berarti penulis - penulis besar seperti Pramoedya A, Emha Ainun Nadjib, Afifah Afra, Syafi'i Antonio, dll, semuanya terlahir setelah membaca. Kini aku harus membaca dan mulai menulis. Dalam proses berlatih menulis,  banyak kesulitan yang ku alami, godaan malas dan bisikan  syeitan untuk menunda - nunda selalu menghampiri, sampai aku pernah bertanya - tanya, "Sebenarnya, kenapa sih harus nulis?", Dalam hati aku ingin sekali menghasilkan karya tulis, tapi mengapa sulit sekali? Di kala putus asa melanda, aku bertanya pada papa dan mama tentang pendapatnya mengenai tulisan, "Pah, mah, motivasi menulis untuk papa dan mama sendiri apa?" , jawaban papa lebih singkat dan padat, "Tulisan lebih abadi daripada ucapan", begitupula mama berpendapat sama dengan papa tetapi dengan cara menjawab yang berbeda.  Kemudian aku mencari argumen lain tentang menulis, ku aduk - aduk isi berbagai macam buku bacaan, mencari jawaban yang memberikanku motivasi lebih dalam menulis. Pak Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul  "Dia Dimana - mana"  mengatakan bahwa Tulisan merupakan anugerah besar atau revolusi budaya besar bagi manusia. Menurutnya, dengan tulisan, manusia mampu mentransfer dengan jelas pengetahuaannya kepada generasi sesudahnya, dengannya juga, manusia, walaupun telah meninggalkan bumi, tetap mampu berdialog dengan orang lain yang masih hidup. Akupun merenung, "Mmm, betul juga.. tulisan menjadi jejak ilmu pengetahuan peninggalan seseorang yang bermanfaat untuk banyak orang.." Selain itu, aku mengutip sebuah kata mutiara yang terdapat dalam buku "Spiritual Kemanusiaan" karya KH.Husein Muhammad, "Al-Qalam abqa' atsaran wa al-lisaan aktsar hadzaran" (Jejak goresan pena lebih abadi, suara lidah sering bagai ngigau), seorang teman menambahkan, "Maa Kaatibu Qorro wa maa haafidzuu farro" ( Apa yang ditulis abadi dan apa yang di hafal akan lepas), memang sejauh ini sudah terbukti, bahwa wujud tulisan lebih abadi daripada ucapan, tulisan dapat dinikmati oleh seluruh manusia di muka bumi ini, tetapi tidak dengan ucapan yang terbatas dengan waktu dan ruang. Sudah banyak sekali karya - karya para ulama, ilmuwan, tokoh masa lalu yang diterbitkan dan masih dapat dikonsumsi hingga sekarang, walaupun sang penulis sudah kembali ke hadirat Illahi. Tulisan yang paling agung dan menjadi pedoman hidup umat Islam yang merupakan salahsatu dari dua perkara berharga yang ditinggalkan Rasulullah sebelum wafatnya yaitu kitab suci Al - Qur'an. Subhanallah, Yang telah menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya, dan tidaklah Ia menciptakannya dengan main  - main, kecuali dengan kebenaran, tetapi kebanyakan dari manusia tidak mengetahuinya. Selain itu, aku kemudian bertanya, "Apa yang harus ku tulis??", guru menulisku menjawab, "Tulis apa saja yang kamu suka, menulis itu tidak berkaitan dengan benar atau salah, tetapi enak atau tidaknya tulisan itu dibaca orang lain. Kalau berkaitan dengan benar atau salah, berarti ada hukuman donk...". Oke!!.. Bagaimana caranya agar aku bisa menulis?? Kakak di kamarku menjawab, "Caranya ada tiga....: Menulis, menulis dan menulis..!!". Seperti halnya berbahasa, kita akan mahir dalam bahasa tertentu karena kita terbiasa mempraktekannya, begitu juga menulis, percuma belajar banyak teori tanpa aplikasi dalam kehidupan sehari - hari. Aku mulai bangkit kembali dari keputusasaan yang berkepanjangan, "I Must Writing", bagiku menulis adalah kewajiban. Dan aku bersyukur memiliki banyak saudara dan teman yang selalu mendukung dalam tiap - tiap langkahku. Selama di Krapyak, banyak ilmu baru yang kudapat dari kakak dan teman - temanku, aku senang berbagi, aku sangat sangat bersyukur karena semuanya  selalu siap sedia hadir membantu, memberi masukan, komentar, kritik dan saran mengenai tulisan. Semoga Allah membalasnya dengan beribu kebaikan. Aamiin...




3 komentar:

  1. meskipun sudah jaman elektronik, tetap saja catatan harian konvensional atau diary menjadi gentong tumpahan ide yang lebih 'greget'.. hehe.. selamat menulis :D

    BalasHapus